Gunung Kelud dan jadwal penerbangan

Sekitar sebulan lalu, untuk pertama kalinya saya memutuskan pilih Air Asia rute domestik untuk pulang ke Surabaya. Sebagaimana aturan mainnya, pesan tiket Air Asia lebih mudah secara on-line. Maka saya meluncur ke situs online air Asia. Di sana pemesanan begitu mudahnya, pilihan pembayaran juga tersedia mau pakai kartu kredit atau kartu debit. Singkat cerita saya dapat tiket Air Asia Jakarta ke Surabaya untuk hari Jumat 14 Februari 2014 jam 19.10. Untuk penerbangan rute sebaliknya saya juga dapatkan tanggal 16 februari jam 20.50 dari Surabaya.

Tau-tau Kamis malam Gunung Kelud meletus, semburan debu ke mana-mana, sampai akhirnya 7 bandara di Jawa sempat ditutup termasuk Surabaya yang ditutup sejak Jumat pagi 14 Februari. Penutupan bandara Juanda Surabaya sejak pagi hari, tentulah membuat kalang kabut jadwal penerbangan domestik, terutama perusahaan penerbangan yang jumlah armadanya pas-pasan untuk terbang. Hari Jumat pagi, sejumlah pesawat terperangkap di bandara Juanda dan tidak bisa terbang, akibatnya jadwal penerbangan menjadi kacau, termasuk jadwal penerbangan Air Asia.

Menjelang siang saya mendapat email dan sms bahwa penerbangan Air Asia yang saya buking ke Surabaya dibatalkan. Pemberitahuan itu membuat saya memperhatikan media untuk mengikuti  perkembangan keadaan di bandara Juanda Surabaya. Saya coba browsing ke situs Angkasa Pura Surabaya, ternyata di situs itu tidak ada berita atau pemberitahuan tentang penutupan operasional bandara. Lucu juga, kenapa informasi sepenting itu justru tidak tersedia di situs Angkasa Pura Surabaya. Tidak ada up-date status operasional bandara.

Dari informasi yang saya dapatkan di media sosial,  sekitar siang hari, turun hujan deras di Surabaya, sehingga debu sudah hilang dari udara. Saya jadi berharap, bandara Juanda bisa dibuka sore harinya, sehingga saya bisa pulang. Karena itu saya mencoba mencari tau langsung ke Air Asia tentang perkembangan jadwal, sekaligus mau tanya langkah selanjutnya tentang pertanyaan saya. Langkah pertama saya adalah menanyakan nomor telepon Air Asia di bandara Cengkareng. Oleh operator 148 Telkom, saya diberi dua nomor. Kemudian saya telepon nomor itu, diseberang telepon mesin menjawab apakah saya akan disalurkan ke bagian bahasa Inggeris atau menghubungi operator. Saya pilih menghubungi operator, tapi setelah beberapa saat, tidak ada respon. Saya coba telepon ulang, tapi hasilnya sama saja dengan yang pertama. Saya pikir tentu operator sedang sibuk, karena itu saya tunda beberapa menit untuk kemudian mencoba lagi. Lagi-lagi hasilnya sama.

Lalu saya coba browsing lagi ke situs Air Asia, ternyata di situs Air Asia, lucunya saya tidak menemukan nomor  telepon yang bisa dihubungi. (Pada saat saya menulis posting ini, saya bisa menemukan nomor call center).  Karena berharap bandara Juanda yang udaranya sudah bersih bisa dibuka, akhirnya saya putuskan untuk langsung ke bandara Cengkareng. Di terminal 3, saya mendapati kepastian bahwa bandara Juanda Surabaya belum dibuka untuk sepanjang hari Jumat, sehingga penerbangan Air Asia hari itu ke Surabaya dibatalkan. Di monitor yang ada di terminal 3, ditunjukkan selain penerbangan ke Surabaya, beberapa penerbangan Air Asia ke kota lain juga batal, termasuk penerbangan internasional.

Penutupan bandara Juanda Surabaya sejak pagi hari mengakibatkan kekacauan jadwal penerbangan domestik, terutama perusahaan penerbangan yang mengalokasikan pesawatnya sangat terbatas. Jumlah pesawat Air Asia yang dioperasikan di Indonesia terbatas, sehingga kalau ada masalah pada salah satu pesawat, akan berakibat ke jadwal penerbangan lainnya. Biasanya setiap malam ada pesawat Air Asia yang menginap di bandara Juanda. Dengan ditutupnya bandara Juanda, maka pesawat yang parkir menginap di Juanda tidak bisa terbang. Akibatnya keseluruhan jadwal penerbangan Air Asia menjadi kacau karena kekurangan pesawat, tidak ada pesawat pengganti alias cadangan.

Perusahaan penerbangan murah seperti Air Asia tidak mau menyiapkan pesawat cadangan. Seluruh armada pesawat telah terjadwal dengan ketat. Tidak boleh ada pesawat yang idle. Cilakanya kalau ada force majeur, maka semua jadwal penerbangan menjadi berantakan. Perusahaan tidak punya plan B, atau kondisi darurat tidak dipertimbangkan sebagai hal yang harus dilakukan oleh manajemen perusahaan. Ketika gunung Kelud meletus, dan bandara ditutup, sehingga pesawat yang parkir tak bisa keluar, perusahaan penerbangan seperti Air Asia menjadi kelimpungan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s