Mencoba terapi radiesthesi medik -1

Medan okt 2012 062Sebagai orang yang sedang menjalani proses “rawat jalan”, saya sering mendapat saran untuk mencoba berbagai terapi penyembuhan. Pasien cardio vascular rawat jalan seperti saya, harus melakukan perawatan secara rutin, termasuk mengkonsumsi beberapa jenis obat. Saat ini setiap hari saya harus menenggak 5 jenis obat yang diperintahkan oleh dokter. Saya belum tau, sampai kapan harus berhenti makan obat. Dari informasi sesama penderita penyakit jantung koroner, konon mengkonsumsi obat-obatan medis itu harus dilakukan seumur hidup.  Karena itu saya mencermati berbagai saran untuk mencoba terapi pengobatan. Ada yang menyarankan mencoba pengobatan alternatif selain mengikuti terapi dari dokter spesialis jantung. 

Sepanjang saya nilai terapi itu dapat diterima akal sehat dan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip medis, biasanya saya akan mempertimbangkan untuk mengikutinya. Saya pernah mencoba terapi pijat refleksi kaki di Bandar Lampung. Terapi ini mula-mula saya dengar dari kerabat yang menceritakan, bahwa ada salah satu anggota keluarganya yang berhasil sembuh dari penyakit jantung koroner setelah menjalani beberapa kali terapi. Saya disarankan mencoba ke sana. Saya pikir karena pijat refleksi adalah untuk melancarkan peredaran darah, sementara saya mengalami penyempitan pembuluh darah, saya berkesimpulan pijat refleksi bisa membantu penyembuhan penyakit jantung koroner. Sementara ini terapi refleksi ke Lampung menjadi berhenti, karena sangat sulit mencari waktu untuk ke sana.

Beberapa waktu lalu adik saya yang tinggal di Bogor menyarankan untuk mencoba berobat ke Tajur, Bogor. Waktu disarankan tidak banyak informasi yang diberikan tentang metoda terapi di sana. Hanya saja diceritakan banyak orang yang sembuh, saya pikir kenapa tidak mencoba. Dengan positive thinking, saya pun meluncur ke Tajur, setelah sebelumnya minta didaftarkan sebagai pasien.  Sesampai di Ciawi, saya menelpon adik minta diarahkan ke lokasi, karena saya belum tau persis dimana tempat praktek terapi itu. Sesampainya di lokasi, ternyata pasien yang menunggu sudah banyak. Sambil menunggu antrian, saya mengamati keadaan di sekitar klinik.

Klinik itu adalah sebuah rumah yang berukuran cukup besar. Di dinding depan ada dua papan nama dokter umum yang berpraktek di sana. Bangunannya terdiri dari beberapa bagian, ada ruang tunggu, ruang terapi yang cukup besar, ruang “apotik”, di mana terlihat banyak kapsul dan obat, ada ruang kasir. Selain itu masih ada beberapa ruangan lagi yang menjadi pelengkap bangunan.

Di depan loket kasir ada sebuah buku yang dijual. Buku itu menjelaskan beberapa hal tentang terapi radiesthesi medik, yang ternyata di pelopori oleh Romo. H. Loogman, pastur keturunan Belanda yang bertugas di Kedu, Jawa Tengah.  Membaca bagian depan buku itu barulah saya tau, bahwa klinik  tersebut adalah klinik terapi radiesthesi medik.

(bersambung…)

2 thoughts on “Mencoba terapi radiesthesi medik -1

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s