Sang Pemenang berkata: “Aku Rapopo

Picture 029Meski dicaci, dihina, disindir bahkan diteror, ia tak bergeming. Lawan-lawannya mencari akal licik untuk menjatuhkannya, mereka, para lawan,  berkomplot dan bersepakat dengan orang jahat untuk menjatuhkan dan untuk mengalahkan. Rintangan besar menghadang, halangan di sepanjang rute,  tapi dia tak pernah mengeluh, dia tetap maju. Walau dicerca, didera, ia tetap tegar dan berkata: “Aku rapopo, aku baik-baik saja”.

Perjalanan  untuk mencapai tujuan, menyelamatkan orang banyak, memerlukan perjuangan, dan pengorbanan yang tidak sedikit. Pejuang terbesar adalah Dia yang mau berkorban dihina, diejek, dicerca, diteror, disiksa. Pejuang yang mau mengorbankan segala-galanya, bahkan mengorbankan nyawanya untuk orang lain. Dia tidak hanya mengatakan “Aku rapopo”,  Dia bahkan rela mati di kayu salib. Dialah Sang Pemenang, Kristus yang telah mengorbankan nyawanya untuk manusia. Itulah cuplikan khotbah Jumat Agung yang saya ikuti kemarin.

Pak Pendeta menjelaskan perjalanan dan pengorbanan Sang Pemenang untuk menyelamatkan rakyat, menyelamatkan manusia. Perjuangan Kristus sangat relevan dengan perjuangan rakyat Indonesia saat ini untuk menuju kesejahteraan yang dicita-citakan bangsa Indonesia.

Khotbah bapak Pendeta kemarin sangat menarik, karena ia bisa menjelaskan “benang merah” antara karya penyelamatan Yesus Kristus dengan proses yang sedang dijalani bangsa Indonesia hari-hari ini untuk mencari Sang Pemenang Bangsa, Pemimpin dalam 5 tahun kedepan, yaitu Presiden. Khotbah itu menggelitik, walau tak mengungkap secara detail bagaimana mencari pemimpin bangsa, tapi bisa memberikan “kunci” bagaimana memilih pemimpin yang benar.

Saya tidak bisa mengatakan kalau Pak Pendeta mengarahkan kepada Calon Presiden tertentu, tapi dengan bahasa yang santun dan kalimat yang terkontrol dai pak Pendeta, pendengar khotbah bisa mendapatkan pesan yang jelas kemana jemaat harus memilih. Saya yakin pak Pendeta tidak bermaksud kampanye, saya percaya betul beliau bukan bagian dari kelompok Calon Presiden tertentu. Boleh jadi Pak Pendeta bersimpati kepada salah seorang calon, dan simpatinya didasarkan pada alasan logis yang bisa diterima akal sehat.

Sang Pemenang harus mampu melewati semua rintangan dan halangan, mampu mewujudkan harapan rakyat. Ditengah semua halangan berat dan perjalanan terjal, ia selalu bisa berkata:

“Aku rapopo, kemenangan bagi bagi rakyat”.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s