Taman yang tidak memanusiakan manusia

taman dirusakPerjalanan kehidupan manusia tidak bisa dilepaskan dari berbagai kebutuhan, yang terutama dikategorikan sebagai kebutuhan fisik, kebutuhan rohani, dan kebutuhan sosial. Idealnya, aneka kebutuhan itu bisa diperoleh secara seimbang. Orang berlomba-lomba untuk memenuhi keseimbangan itu. Sayangnya tidak semua orang mampu memenuhi kebutuhan kehidupannya secara seimbang. Kebanyakan orang hanya mampu memenuhi kebutuhan rohani dan sosialnya dalam porsi yang sangat kecil, sehingga perilaku dan tindakannya kadang tidak sesuai dengan yang diinginkannya. (Foto diambil dari sini.) Mereka yang kurang mampu memenuhi kebutuhan yang berimbang semestinya mendapat bantuan negara untuk mendekati keseimbangan kebutuhan itu. 

Secara formal, kewajiban negara tersebut tertuang dalam pembukaan UUD 45 yang secara tegas menyatakan bahwa tujuan bernegara dan berbangsa adalah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kesejahteraan yang dimaksud termasuk keseimbangan pemenuhan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Negara, melalui pemerintah berkewajiban untuk menyediakan sarana dan fasilitas agar masyarakat memenuhi kebutuhan fisik, rohani dan kebutuhan sosial.

Salah satu wujud dari penyediaan sarana kehidupan kemanusiaan adalah dengan menyediakan taman-taman, ruang terbuka dan fasilitas pendukungnya. Kebutuhan ruang publik itu semakin tinggi di daerah perkotaan, dimana masyarakat menghadapi stress dan tekanan hidup yang cukup tinggi. “The quantity and the quality of pedestrian public space is one mark of Civilized city“, kata Enrique Penalosa, mantan Walikota Bogota, Colombia.

Seorang walikota berkewajiban melakukan upaya-upaya maksimal agar kotanya dapat menyediakan sarana yang cukup memadai sehingga warga kota dapat menikmati hidup yang mendekati seimbang.  Jumlah dan kualitas sarana menjadi penting seperti kata Mr. Penalosa diatas. Bila jumlah cukup tetapi kualitas kemanusiaan sarana rendah, maka manfaat sarana menjadi tidak berarti. Yang lebih parah warga kota tidak merasa memiliki sarana yang disediakan.

Rasa memiliki dari warga kota adalah outcome dari peyediaan taman dan ruang publik yang baik, berkualitas dan seimbang. Bila taman dan ruang publik hanya indah dari segi estetika semata, tapi tidak menjadi milik warga kota, maka keberlanjutan taman dan ruang publik hanya berumur sementara. Rasa memiliki dari warga kota hanya akan tumbuh bila taman memanusiakan manusia. Ada sharing dan partisipasi warga dalam menjaga keberlanjutan kualitas taman dan ruang publik yang disediakan.

Bila kenyataan bahwa warga kota masih mengalami ketimpangan yang sangat besar dalam rasa memiliki, maka dalam waktu tidak terlalu lama taman dan ruang publik akan rusak. Pemicu kerusakan taman dan ruang publik itu bisa bermacam-macam. Bahkan secara sadar atau tidak sadar, warga kota bisa ikut merusak taman dan ruang publik. Bila warga kota terkait atau bahkan ikut terlibat dengan kerusakan taman, itu salah satu indikator, bahwa penyediaan taman tersebut tidak berhasil memanusiakan warga kota.

Karena itu pemerintah harus secara sungguh-sungguh untuk mengelola aspek non fisik dari penyediaan taman dan ruang publik. Agar apa yang sudah disediakan dengan susah payah dapat dijaga dan dirawat oleh warga kota. Taman bukan sekedar sarana untuk melihat keindahan, tapi juga sebagai tempat manusia berinteraksi satu dengan yang lain dengan rasa kepemilikan yang tinggi. Taman bisa menjadi sarana untuk memanusiakan manusia.Taman Penalosa

Tugas memenuhi tuntutan pembukaan UUD 1945 masih cukup jauh untuk dicapai.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s