Kupanggil kau Jia Hui; ayo merajut permadani Indonesia

Yu Jia HuiDidengarkan, diperhatikan, dihargai, dan disayangi adalah hak dan keinginan semua orang. Mendengarkan, memperhatikan, menghargai dan menyayangi juga adalah hak yang ada pada semua orang. Karena itu menjadi orang terpinggirkan, terabaikan adalah sesuatu yang sangat menyakitkan. Menjadi lebih menyakitkan ketika seseorang mencintai, tapi justru karena itu ia kemudian terpinggirkan dan terabaikan oleh orang-orang yang dia cintai dan seharusnya mencintainya. Cinta Audrey Yu Jia Hui terabaikan, tak berbalas, padahal cintanya sangat besar.

Audrey Yu Jia Hui adalah nama baru dari Maria Audrey Lukito, seorang gadis keturunan Cina (saya sengaja tidak menulis Tionghoa)  yang lahir di Surabaya. Audrey terlahir sebagai gadis jenius dari keluarga kaya raya. Ia menjadi gadis yang nyaris sempurna, tak ada kekurangan apapun, cantik, sangat pintar, dan kaya raya. Semua yang diinginkan anak dan gadis belia seusianya bisa dia dapatkan. Orang tuanya mampu memberi apapun yang diinginkan seorang gadis.  Tapi Audrey tak menginginkan banyak, ia terbelit cinta yang berat. Cinta yang membuatnya bersemangat, bergelora dan ingin berjuang mewujudkan cintanya. Tapi orangtuanya tak menyetujui dan menghalangi cinta Audrey. Pada umur 6 tahun Audrey jatuh cinta setengah mati pada Indonesia, negaranya. Image diambil dari sini.

Jia Hui menuliskan memorabilia hidupnya dalam sebuah buku yang ia beri judul “Mellow Yellow Drama“. Boleh dibilang saya membeli buku yang diterbitkan pada bulan Mei 2014 ini secara tak sengaja. Saya beli setelah membaca sekilas halaman belakangnya. Membaca bagian-bagian awal bukunya,  saya melihat kalau Jia Hui memang anak  aneh. Bagaimana tidak, di usia 6 tahun ia jatuh cinta luar biasa pada negara Indonesia, hal yang jarang dijumpai pada anak seumur itu. Kecintaanya pada Indonesia lahir setelah melihat kenyataan di sekitar kehidupannya dan membaca buku PPKN. Dia ingin membantu memperbaiki nasib orang tak mampu yang dia lihat di lingkungannya.

Orang tua Jia Hui merasa aneh dengan rasa cinta anaknya yang besar pada ibu pertiwi. Ayah ibunya memarahinya karena menganggap orang keturunan Cina bukan merupakan bagian dari yang mengurusi negara. Pengalaman hidup orang tua Jia Hui meninggalkan bekas bahwa orang keturunan Cina seolah hanyalah menjadi kelompok yang terpinggirkan, tidak sama dengan warga pribumi. Maka ketika Jia Hui menyatakan keinginan untuk mengabdi pada negara, orangtuanya dengan keras menentangnya. Apalagi ketika terjadi kerusuhan Mei 1998, Jia Hui dan keluarganya harus mengungsi untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kerusuhan Mei 1998 meninggalkan bekas yang mendalam bagi banyak keluarga keturunan Cina.

Kejadian kerusuhan Mei 1998 meninggalkan mimpi yang sangat buruk bagi Indonesia terutama mereka yang menjadi korban. Dalam kejadian itu dikabarkan banyak wanita keturunan Cina yang diperkosa. Mimpi buruk itu tak bisa dihilangkan dan juga menghantui keluarga Jia Hui. Karenanya, keinginan Jia Hui untuk berbakti kepada negara tak disetujui oleh keluarganya. Tapi semangat membara dalam dada Jia Hui tak bisa diredam oleh kemarahan kedua orang tuanya. Gadis yang sedang bertumbuh itu tak surut menghadapi tantangan. Ia malah belajar semakin keras untuk menghadapi tantangan yang menghambat.

Untuk gadis sejenius Jia Hui, ia sesungguhnya tak perlu belajar keras. Semua mata pelajaran dapat dia kuasai dalam waktu singkat. Ujian di sekolah diselesaikannya dengan sempurna. Nilai ujiannya selalu dengan angka 100. Ia bahkan sering merasa bosan, karena apa yang diajarkan guru-gurunya disekolah dirasakan sangat lambat. Dari Surabaya Jia Hui meneruskan sekolah ke Jakarta di mana ada kelas khusus untuk siswa yang berkemampuan lebih. Di kelas akselerasi yang bergengsi di Jakarta bisa dilalui Jia Hui dengan sempurna. Tapi di Jakarta ia juga melihat kehidupan nyata bahwa banyak anak yang harus mengemis di pinggir jalan, banyak kakek-kakek lemah yang harus bekerja keras demi sesuap nasi. Potret kehidupan yang keras bagi rakyat miskin tetap membebani pikirannya, dan ia tetap bertekat untuk bisa membantu membela rakyat yang didera kesusahan. Dalam usia 13 tahun Jia Hui menamatkan SMA.

Ayah Jia Hui yang melihat kejeniusan putrinya, merasa bahwa Jia Hui harus mendapat pendidikan di luar negeri agar kemampuan putrinya mendapat tempat yang sesuai. Jia Hui mengikuti berbagai melewati berbagai test dengan baik, sampai akhirnya ia bisa diterima di sekolah bergengsi di Amerika. Di Amerika Jia Hui memompa semangat cinta negeri yang tak pernah padam. Ia mempersiapkan diri, ia belajar keras, bekerja keras, berdisiplin keras. Anak remaja 13 tahun, seorang diri di Amerika. Ia berhasil, ia sukses, pada umur 16 tahun ia lulus summa cum laude dari universitas yang dikhususkan bagi anak berbakat.

Memorabiolia Jia Hui, bukan hanya sekedar catatan perjalanan hidupnya. Buku ini adalah cerminan kondisi sosial masyarakat Indonesia yang tidak seimbang. Banyak anak keturunan Tionghoa yang sesungguhnya ingin berbakti membela negara, tapi terjebak dalam kondisi yang menjadikan mereka hanya selah jadi penonton dari perjalanan bangsa Indonesia. Mereka lahir dan besar di Indonesia, tapi mereka terpinggirkan oleh situasi yang terjadi. Mereka ingin keluar dari situasi yang tak nyaman itu, tapi jalan keluar seolah tersumbat oleh kondisi sosial politik yang tak mendukung.

Jia Hui bermimpi, suatu hari nanti semua anak Indonesia dari papua sampai Aceh, dari segala macam etnis akan bisa bergandeng tangan bersama dalam suatu keharmonisan Bhinneka Tunggal Ika yang sesungguhnya. Bukan hanya kebersamaan pura-pura, bukan hanya ucapan yang sekedar pemanis kata-kata.

“Aku bermimpi bahwa keturunan Tionghoa di negaraku akan memperbaiki permadani kami yang tercabik. Aku bermimpi bahwa suatu hari setiap orang Indonesia keturunan Tionghoa akan bangga memiliki nama Mandarin, bisa berbicara bahasa Mandarin dengan fasih, tetapi tetap setia secara politik pada prinsip-prinsip Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Aku bermimpi bahwa kita akan dihargai dan dihormati di seluruh Nusantara karena memiliki nama Mandarin, sebaik kita mempraktikkan bahasa dan budaya Tionghoa kita, bukannya dianggap tidak patriot, aneh atau kuno. 

Aku bermimpi bahwa generasi muda Indonesia keturunan Tionghoa akan mampu melihat permadani ini sebagai warisan berharga mereka, bukan terus menganggapnya sebagai sesuatu yang kuno dan tidak ada hubungannya dengan mereka.”

Mimpi Jia Hui terinspirasi dari mimpi Martin Luther King Jr, pemimpin kulit hitam Amerika yang tersohor. Jia Hui mengajak generasi muda Indonesia untuk bisa bermimpi dan bisa merealisasikan mimpi-mimpinya di bumi Indonesia. Suatu hari semua anak Indonesia bisa yakin akan “Indonesian Dream” yang menjadi nyata. Anak muda Indonesia akan terus merajut dan menenun permadani nusantara. Ya, permadani Indonesia tempat bernaung seluruh anak bangsa.

Ayo Jia Hui, Indonesia menanti baktimu, kerja kerasmu. Ajak anak muda laninnya untuk terus merajut permadani Indonesia. Banyak pemuda dan gadis sepertimu yang mau berbuat untuk negeri tercinta. Tuhan pasti bersamamu.

**

Buku ini mengisahkan pergolakan dan pergumulan batin seorang gadis yang cintanya tak diterima oleh orang-orang disekelilingnya, oleh lingkungan sosialnya dan oleh negaranya. Setelah membacanya saya menyimpulkan bahwa buku ini benar-benar buku hebat, dan saya karena itu merasa perlu mengulasnya disini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s