“Tune-up” untuk meningkatkan performa jantung

Jantung & KateterSaya pernah coba men“tune-up” sepeda motor yang menggunakan karburator. Setelah sekian lama dipakai, sepeda motor butut yang saya pakai mulai kurang enak dipakai. Supaya tidak sampai mogok total, ketika ada waktu longgar, saya coba bongkar karburatornya. Ternyata setelah dibongkar terlihatlah kalau ada kotoran dibeberapa tempat di saluran yang membawa bahan bakar ke dalam karburator. Kemampuan saya hanya upaya membersihkan karburator yang kotor. Dengan pembersihan itu, kondisi mesin motor mulai membaik. Tapi supaya performanya lebih baik, akhirnya saya menyerahkan motor itu kepada ahlinya untuk di”tune-up“. Hasilnya memang jauh lebih baik, “tarikan” mesin motor semakin kuat, dan lebih enak dipakai. Menyervis (tune up) mesin sepeda motor tujuannya untuk mengembalikan performanya menjadi lebih baik. Proses “tune-up” sepeda motor atau mesin otomotif secara umum, ternyata dapat juga dianalogikan dengan “tune-up” terhadap kesehatan tubuh, terutama untuk organ jantung yang mengalami masalah. Jantung memompa “bahan bakar” oksigen ke seluruh tubuh, oksigen disalurkan melalui pembuluh darah. Jantung sendiri memerlukan “bahan bakar” agar ia dapat bekerja memompa bahan bakar. Foto di atas diambil dari sini

Ketika pembuluh darah di jantung menjadi “kotor” oleh plak kolesterol, maka akibatnya performa jantung menjadi buruk, penderita bisa merasa mudah kelelahan, tak punya tenaga, keringat dingin, sesak nafas (atau “brebet” pada mesin motor) atau bahkan sampai kolaps. Proses “mengembalikan” performa pembuluh darah jantung bisa juga dilakukan dengan prinsip yang mirip dengan proses “tune-up” pada otomotif. Pembuluh darah jantung “dibersihkan” dan direhabilitasi secara mekanis melalui proses catheter jantung.

Teknologi kedokteran jantung berkembang sudah sedemikian jauh sehingga “proses mekanis” bisa dilakukan untuk mengembalikan performa jantung. Proses catheter dilakukan dengan memasukkan kawat fleksibel ke pembuluh darah jantung untuk membawa “balon” atau untuk memasang stent (cincin) di pembuluh darah jantung. Cara kerjanya kawat kecil yang fleksibel dimasukkan melalui alat yang diberinama sheath yaitu jarum pembawa yang disuntikkan ke pembuluh darah yang berada di pangkal paha atau di pergelangan tangan. Jarum sheath kira-kira mirip dengan jarum infus. Sebelum jarum sheath disuntikkan, pasien biasanya diberi bius lokal pada lokasi yang akan disuntik. Melalui sheath kawat fleksibel dimasukkan ke dalam pembuluh darah, lalu didorong hingga mencapai pembuluh darah jantung. Kawat fleksibel yang dimasukkan ke pembuluh darah dilapisi semcam gel sehingga sangat licin ketika berada di pembuluh darah. Dengan kondisi yang fleksibel dan licin kawat itu diharapkan tidak akan merusak pembuluh darah yang tipis.

Proses pemasukan kawat fleksibel ke pembuluh darah dimonitor dengan menggunakan X-ray. Itulah sebabnya dokter dan perawat yang melakukan kateterisasi harus menggunakan jubah tahan radiasi X-ray.   Setelah ujung kawat fleksibel mencapai lokasi pembuluh darah yang menyempit, dilakukanlah proses mekanis untuk mengembangkan pembuluh darah yang dilapisi kolesterol. Pada titik yang menyempit dilakukan pemompaan balon sehingga kolesterol yang menempel di dalam dinding pembuluh darah secara bertahap “tergerus”. Proses pemompaan bisa dilakukan beberapa kali untuk mendapatkan saluran pembuluh darah yang diharapkan, balon pembuluh darah1 Setelah pembuluh darah dirasakan cukup lebar, maka dimasukkanlah stent yang biasanya terbuat dari bahan logam (lihat gambar di atas; gambar diambil dari sini.) Stent berfungsi untuk mempertahankan diameter pembuluh darah cukup untuk mengalirkan darah secara lancar. Pada umumnya diameter pembuluh darah jantung berkisar antara 2,75 – 3,5 mm. Proses pemasangan stent seperti itu sepenuhnya adalah proses mekanis yang mirip dengan proses “tune-up” pada kendaraan bermotor. Perbedaan besar antara keduanya adalah, pada proses tune up kendaraan bermotor, mesin motor dimatikan terlebih dahulu, sehingga proses tune-up dilakukan secara lebih mudah. Pada pemasangan stent, jantung tetap bekerja dan tak berhenti memompa darah, sehingga tingkat kesulitan pemasangan stent sangat tinggi. Lagipula kalau jantung berhenti dalam hitungan detik saja, maka pasien akan meninggal dunia dan proses pemasangan stent tidak ada gunanya lagi.

Hari Jumat minggu lalu saya kembali menjalani proses pemasangan stent untuk yang keempatnya, setalah setahun lalu dipasangi 3 buah stent di pembuluh darah jantung saya. Kali ini dokter yang memasangnya adalah dokter Agus Harsoyo dengan dibantu tiga perawat, yaitu ibu Danu, pak Zainal Arifin dan pak Abdul Rahman. Proses yang berlangsung sekitar 1,5 jam berjalan lancar, setelah beberapa kali memompa balon di dua titik pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Terimaksih kepada Bapak Agus Harsoyo, Ibu Danu, Bapak Abdul Rahman, Bapak Zainal Arifin, dan para perawat di RSPAD Jakarta. Terimakasih juga kepada BPJS yang membiayai proses pemasangan stent pada pembuluh darah jantung saya. Terlebih lagi terimakasih pada Tuhan Yesus yang memberkati proses “tune-up” ini. Tak lupa juga terimakasih kepada kedua anak saya dan istri saya yang memberi doa dan dorongan bagi kesehatan saya. Sekarang saya merasakan lebih segar dan lebih kuat dari minggu lalu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s