Subsidi BBM, dosa warisan yang (masih ?) akan berlanjut!

2013 Feb 005Sabtu (2/8) minggu lalu, saya mengisi BBM di salah satu SPBU di wilayah Jakarta Pusat. Di SPBU itu terdengar pengumuman tentang pembatasan BBM bersubsidi. SPBU itu telah mulai melaksanakan putusan BPH Migas untuk tidak menjual Solar bersubsidi. Sehari sebelumnya saya memang sudah melihat di TV berita tentang pembatasan BBM bersubsidi di beberapa daerah tertentu. Di televisi, sejumlah orang ditanyai pendapat mereka tentang rencana (yang kesekian kalinya) dari pemerintah untuk membatasi subsidi BBM. Pemerintah beralasan, kalau Agustus ini tidak dilakukan pembatasan subsidi, maka pada awal Desember nanti, solar akan habis, dan tak bisa disupply ke masyarakat.

Dalam tahun 2014 ini saja, seingat saya sudah ada beberapa upaya untuk membatasi subsidi BBM, tapi semua berakhir dengan ketidak berhasilan. Berbagai instrumen pengendalian pemakaian BBM dirancang, tapi hampir semua berakhir dengan gagal. Sekarang, pengendalian BBM kembali menjadi berita yang ramai diperbincangkan. Sejak kampanye Pilpres lau, isu BBM termasuk yang menjadi salah satu isu kampanye, terutama dengan dugaan beberapa elit politik yang terlibat dalam mafia perminyakan. Saya jadi agak curiga, jangan-jangan isu BBM secara sengaja dihembuskan pada saat peristiwa politik. Padahal semestinya, pengendalian BBM tak harus dikaitkan dengan peristiwa politik, dan tak sepatutnya pula isu BBM dijadikan komoditas politik, apalagi hanya sekedar untuk menjatuhkan lawan politik.

Tapi kenyataan menunjukkan bahwa pengelolaan BBM memang sudah terko-optasi oleh kepentingan politik. Hal ini tidak terjadi sekarang saja, tapi sudah sejak lama. Subsidi BBM seolah sudah menjadi dosa warisan yang terus berlanjut dan tak pernah putus.

Mengapa persoalan subsidi BBM tak pernah selesai? Jawabannya mudah sekali, karena pengelolaan BBM memang tak mau diselesaikan. Kebijakan pengelolaan BBM dan subsidinya selalu dilakukan setengah hati. Tidak pernah tuntas. Tidak ada Presiden yang mau mengambil kebijakan untuk menyelesaikan subsidi BBM secara jelas dan lugas. Subsidi BBM dibiarkan menjadi dosa yang tak terselesaikan.

Padahal kalau mau, solusinya sederhana saja. Cabut subsidi BBM meskipun akan ada pihak-pihak yang tidak setuju. Sejak dulu kalau Presidennya mau, subsidi BBM bisa dicabut. Tentu ada konsekuensinya kalau subsidi BBM dicabut. Risiko konsekuensi inilah yang tak mau ditanggung oleh Presiden.

Kenapa subsidi BBM harus dicabut? Anak saya bilang bahwa waktu dia kuliah semester I di Fakultas Ekonomi, sudah diajarkan kalau subsidi itu tak baik untuk perekonomian secara menyeluruh. Apalagi kalau yang disubsidi adalah barang yang punya nilai ekonomis tinggi seperti BBM. Saya bukan ahli ekonomi, tak tau persis arti subsidi secara ekonomi. Tapi kalau mahasiswa semester I saja sudah ngerti bahwa subsidi adalah buruk, maka semestinya para pengambil kebijakan tak perlu ragu.

Yang saya fahami, BBM adalah energi tidak terbarukan, artinya sekali kita memakai dan menghabiskan sejumlah BBM, kita tak dapat memperbaharuinya (non renewable energy). Habis sekaligus dari alam, tak tersisa. Kalaupun saat ini kita masih bisa membeli BBM, itu berasal dari cadangan yang suatu saat akan benar-benar habis dan tak dapat diperbarui. Barang apa saja yang tak dapat diperbarui semestinya dihemat. Dan cara penghematan yang paling efektif adalah dengan memberlakukan harga yang tinggi, Demikian juga halnya BBM, supaya pemakaian BBM hemat, maka harganya harus tinggi. Fakta  menunjukkan dengan harga BBM yang rendah, orang justru menggunakan BBM secara boros.

Selain itu, sebagai sumber enerji yang TIDAK terbarukan, subsidi BBM akan menghambat (menjadi disinsentif) upaya-upaya untuk menggunakan enerji terbarukan. Kalau BBM masih terus disubsidi, maka riset dan pengembangan enerji terbarukan tak akan pernah menarik, hanya akan menjadi wacana di laboratorium dan tidak pernah dilaksanakan.

Masih banyak alasan lain mengapa subsidi BBM harus dicabut. Beberapa alasan itu sudah diuraikan pada tautan diatas. Salah satu alasan yang tak boleh dikesampingkan adalah bahwa subsidi BBM telah mempersubur penyelundupan BBM ke luar negeri.  Selisih harga BBM di Indonesia dengan di luar negeri yang besar menjadi daya tarik bisnis. Menurut aturan yang ada, BBM bersubsidi tak boleh dijual ke luar negeri. Tentu saja aturan itu banyak dilanggar oleh orang-orang yang sudah terbiasa menyelundup.  Penyelundupan BBM ke luar negeri menjanjikan keuntungan yang menggiurkan.  Karena itu penyelundupan BBM tetap subur.

Tapi boleh jadi dosa warisan BBM ini akan segera berhenti. Pasalnya Presiden terpilih Joko Widodo bilang, dia akan tegas soal subsidi BBM. “Kalau naik, ya naik”.

“Kalau mau dinaikkan, kalau saya, ya tegas. Naik ya naik. Kalau ini kan pada lokasi tertentu-tertentu saja. Akhirnya nanti minggir ke SPBU lain. SPBU di kota akan teriak karena sepi,” kata Joko Widodo di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakpus, Selasa (5/8/14)

Tentu ini berita bagus, tunggu saja setelah Jokowi di lantik, apakah ia akan segera mengambil tindakan tegas soal subsidi BBM. Mudah-mudahan Jokowi bisa segera menghilangkan dosa warisan ini.

 

One thought on “Subsidi BBM, dosa warisan yang (masih ?) akan berlanjut!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s