“Taksi Uber”; tantangan pelayanan masa depan

Medan okt 2012 022Ada pelayanan taksi baru di Jakarta. Untuk anda yang tak mau repot dengan urusan mengemudi, tapi harus bergerak mobile untuk urusan bisnis, maka kini anda bisa naik taksi dengan mobil premium dengan tarif murah. Itulah layanan Taksi Uber, layanan dengan sistem aplikasi on-line- global. Karena tarifnya yang sangat kompetitif itu, perusahaan taksi konvesional langsung “berteriak” menentang kehadiran Taksi Uber. Sayangnya, baru saja moda transportasi ini beroperasi, tau-tau sudah dilarang oleh Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta. Alasan pelarangan, karena taksi ini tidak punya ijin operasional sebagaimana perusahaan taksi pada umumnya. Karuan saja, hari belakangan ini pemesanan Taksi Uber jadi agak sulit karena larangan Dishub itu.

Dari uji coba yang dilakukan oleh kru Kompas, pelayanan Taksi Uber memang memberi kemudahan dan layanan prima bagi para pebisnis di pusat bisnis Jakarta. Pelayanan Taksi Uber berbeda dengan sistim taksi konvensional. Kendaraan yang digunakan Taksi Uber tidak menggunakan nama perusahaan pada body mobilnya, ia juga tidak ber pelat kuning seperti taksi umumnya, melainkan pelat hitam seperti kendaraan pribadi.

Taksi Uber hanya melayani dengan pemesanan, taksi tidak berkeliling mencari penumpang. Sistem pemesanan pelayanan Taksi Uber berbeda dengan pemesanan taksi konvensional. Memesan taksi uber dilakukan secara on-line berbasis web. Calon penumpang terlebih dahulu harus register di suatu “Aplikasi Uber” yang tersedia untuk Android dan Iphone. Pembayaran dilakukan dengan kartu kredit. Setelah calon penumpang log-in melalui smartphone, Aplikasi Uber akan segera memproses permintaan dengan menyajikan titik-titik keberadaan pengemudi (driver) yang stand-by di lokasi terdekat dengan calon penumpang. Calon penumpang harus memasukkan data posisi dimana ia akan di jemput, dan kemana tujuannya.

Segera setelah calon penumpang selesai memasukkan data tersebut, secara otomatis, Aplikasi Uber memproses pesanan dan segera memerintahkan driver menjemput calon penumpang. Dalam uji coba pelayanan yang dilakukan kru Kompas, driver sudah tiba dalam waktu kurang dari 5 menit, setelah Aplikasi Uber memberi informasi tentang nama driver, jenis kendaraan, dan nomor polisi kendaraan. Informasi ini penting bagi calon penumpang, karena Taksi Uber tidak memiliki penanda tertentu.

Kendaraan Taksi Uber dilengkapi dengan smartphone Iphone yang digunakan oleh driver untuk melihat pesanan dan juga untuk transaksi pembayaran. Iphone yang sekaligus berfungsi seperti argometer akan menunjukkan jumlah biaya dalam perjalanan. Ketika penumpang sampai di tujuan, driver hanya menekan satu tombol di pesawat Iphone, selanjutnya Aplikasi Uber akan memproses tagihan ke kartu kredit pelnumpang.  Mudah, sederhana dan cepat.

Sistem Aplikasi Uber yang dirancang untuk bisa beroperasi global memudahkan driver dan penumpang melakukan pemesanan dan transaksi. Kemudahan dan kesederhanaan sistem kerja tersebut secara langsung dapat menekan biaya operasional pengoperasian taksi. Atas dasar itulah ongkos Uber bisa ditekan walaupun dengan sarana kendaraan kelas premium. Kehadiran teknologi internet dan smartphone memberi peluang baru untuk menyederhanakan sistem pelayanan.

Teknologi seperti ini akan merambah bidang-bidang lain yang memberi kemudahan dalam kehidupan masyarakat. Karena itu pelarangan pengoperasian Taksi Uber di Jakarta oleh Dishub, saya nilai sebagai manifestasi kepanikan yang mestinya tak perlu terjadi. Semua bentuk pelayanan adalah untuk memberi kepuasan kepada pelanggan. Teknologi memberi ruang yang sangat luas untuk membantu peningkatan kualitas pelayanan kepada pelanggan/masyarakat.

Alasan Dishub bahwa pengoperasian Taksi Uber tidak sesuai dengan ketentuan perundang-undangan, malahan membuktikan bahwa Dishub DKI tak memahami prinsip pelayanan publik. Harus diakui bahwa sistem yang dikembangkan oleh Taksi Uber menerobos paradigma pelayanan yang selama ini banyak difahami orang. Aturan perundang-undangan belum dapat mengadopsi sitim yang diperkenalkan Uber. Karena itu melarang operasionalisasi Uber dengan alasan “melanggar” ketentuan yang berlaku SAAT INI tak mencerminkan kemampuan Dishub DKI dalam menyikapi dinamika perkembangan masyarakat.

Seharusnya Dishub DKI melakukan kajian mendalam tentang sistem yang diterapkan Uber, dari kajian itu kemudian dilihat pilihan-pilihan yang memungkinkan peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Tak bisa dipungkiri bahwa pengoperasian Taksi Uber menjadi tantangan berat bagi pengelola taksi konvensional yang ada saat ini. Semestinya fenomena Uber ini dilihat bagaimana perusahaan taksi konvensional meningkatkan kualitas pelayanan. Di sisi lain, pemerintah berkewajiban membantu peningkatan pelayanan masyarakat yang digagas oleh swasta seperti yang dilakukan oleh Uber.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s