Semangat Pisang

Public domain image, royalty free stock photo from www.public-domain-image.comBeberapa waktu lalu saya kebetulan bertemu dengan seseorang yang sedang menjelaskan tentang pisang kepada sejumlah orang termasuk saya. Ya, ini sungguh-sungguh ia menjelaskan apa padanan pisang dengan manusia. Kalau mau disebut “semangat pisang”, atau bahkan mungkin “filosofi pisang”, ya bolehlah. Mana yang lebih tepat terserah kepada anda. Lebih dari itu ia menjelaskan juga tentang budaya. Saya tidak pernah terpikir sebelumnya betapa pisang ternyata sarat makna yang sangat kaya. Saya jadi terkagum-kagum pada telahaan orang tersebut. Sayang karena pada waktu itu saya tidak punya waktu yang cukup luang, saya tak sempat menanyakan nama si bapak yang bercerita tentang pisang. Belakangan saya jadi terinspirasi tentang pisang.

Siapa yang tidak kenal pisang, buah yang rasanya enak dan mengandung banyak vitamin. Tentang itu sudah banyak dibahas orang. Tapi coba kita telaah lebih jauh tentang manfaat lain dari pisang. Karena enak dan bergizi, pisang punya nilai ekonomi yang tinggi. Bila  dibudidayakan dengan baik, pisang bisa menjadi mata pencaharian yang menjanjikan. Pisang yang berkualitas baik bisa diekspor dan mempunyai harga yang tinggi.

Selain buahnya, daun pisang juga bermanfaat untuk membungkus makanan. Daun pisang digunakan untuk membungkus kue-kue, atau pembungkus nasi dan lauk-pauk. Di beberapa daerah (terutama pada masa lampau) daun pisang juga digunakan sebagai penahan hujan, sebelum payung banyak digunakan. Hanya saja payung daun pisang biasanya cuma bisa dipakai sekali, lalu dibuang. Tapi di daerah perdesaan, payung daun pisang tak perlu dibeli alias gratis. Jantung pisang bisa diolah menjadi makanan yang enak, baik untuk sayur maupun penganan sejenis rujak. Kalau diolah dengan baik, jantung pisang bisa menjadi kuliner yang memikat.

Batang pisang juga banyak manfaatnya. Batang pisang yang muda bisa diolah menjadi penambah makanan ternak (terutama untuk babi). Pelepah pisang yang sudah matang bisa dijadikan tali, dan bila dianyam dengan baik bisa dijadikan tas atau kerajinan lainnya. Pelepah pisang bahkan banyak yang sudah diolah menjadi bahan mebel seperti kursi dan meja. Batang pisang juga dimanfaatkan sebagai tatanan dalam pertunjukan wayang untuk menancapkan wayang di pertunjukan. Dalam kegiatan-kegiatan budaya suku Jawa, Pisang secara lengkap menjadi bagian penting baik sebagai hiasan atau sebagai simbol. Tentang hal ini saya kurang faham, apa makna penggunaan pohon pisang yang berbuah dalam berbagai acara adat Jawa.

Tetapi makna yang unik adalah bahwa pisang hanya tumbuh sekali, setelah berbuah, setelah tua, pohon pisang kemudian mati. Sebelum tua, kalau misalnya dipotong, pisang akan tumbuh lagi tunas dari batang yang terpotong. Meski pisang yang terpotong tidak bisa sama dengan pisang yang tidak dipotong. tapi pisang akan tetap tumbuh sebelum waktunya secara alamiah akan mati. Ketika masih muda dan berbuah, daun pisang akan tegak menuju ke langit, tetapi secara alamiah ketika umurnya semakin menua, daun pisang dan pohon pisang secara perlahan akan mulai miring dan akhirnya jatuh ke tanah. Anak pisang akan mulai tumbuh ketika pohonnya sudah besar. Pisang tak pernah tumbuh sendiri, ia selalu tumbuh bersama dalam kelompok.

Kenyataan inilah yang memberi pencerahan bagi saya tentang pisang. Betapa kehidupan manusia juga mempunyai pola kemiripan dengan kehidupan pisang. Atau sebaliknya, kehidupan pisanglah yang memiliki kemiripan dengan pola kehidupan manusia. Di sinilah kebesaran Tuhan Sang Pencipta yang menciptakan padanan pada ciptaanNya. Boleh jadi padanan yang dijelaskan diataslah salah satu alasan mengapa pisang digunakan pada acara-acara adat Jawa, untuk menunjukkan bahwa manusia memiliki kemiripan dengan pisang. Manusia tak bisa hidup sendiri, ia hidup bersama manusia lain.

Pohon pisang pada acara adat tersebut bukan sekedar hiasan fisik semata. Tapi ia simbol filosofis manusia yang memberikan semangat kehidupan. Semangat pisang bisa jadi simbol perjuangan manusia. Pisang tak pernah mati sebelum berbuah dan sebelum menghasilkan. Semestinya kehidupan manusia juga tak berarti kalau tak menghasilkan buah yang manis. Inilah yang saya maksud dengan semangat pisang, semngat yang memberi sesuatu yang manis.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s