Belajar Gamelan di lereng gunung Arjuna

belajar gamelanSebenarnya saya tidak ada rencana mau belajar menabuh gamelan. Karena selama ini kalau lihat perangkat gamelan, saya berpikir bahwa belajarnya sulit karena banyaknya jenis alat dan kalau mendengar di tabuh, sepertinya orkestrasinya cukup kompleks. Saya menyimpulkan sendiri bahwa menabuh gamelan memerlukan ketrampilan tinggi dan feeling yang tepat dan akurat. Dari kesan itu nyali untuk belajar gamelan sudah terjun ke titik yang sangat rendah.  Apalagi kesempatan untuk mempelajarinya memang nyaris tidak ada bagi saya.

Hari itu dalam acara teman kantor istri, ada acara jalan bersama keluarga ke Kaliandra di lereng Gunung Arjuna, Pasuruan Jawa Timur, dan di salah satu bagian acara pengelola taman Kaliandra mengajak mempelajari menabuh gamelan bagi para peserta. Saya ikut untuk memeriahkan acara, dan kebetulan peserta yang lain juga nyaris tidak ada yang sudah pernah menabuh gamelan. Maka saya ya ikut saja.

Sebenarnya peserta di bagi menjadi dua kelompok, karena jumlah seluruh peserta acara keluarga hampir 50 orang, maka kami dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama mempelajari cara membuat minuman herbal dari bahan-bahan yang bisa didapat di sekitar kebun. Sementara kelompok yang lain mempelajari cara mnabuh gamelan. Ketika saya ikut kelompok belajar membuat minuman herbal, saya mendengar bunyi-bunyian gamelan dimana kelompok kedua sedang belajar. Dalam pendengaran saya, suara gamelan yang ditabuh oleh “pemain dadakan” itu cukup baik, atau paling tidak saya tidak bisa menemukan kekurangannya. Telinga saya tidak bisa membedakan suara gamelan yang baik dan suara gamelan yang masih kacau.

Kemudian tibalah giliran kelompok kami yang akan menabuh gamelan, saya memilih menabuh alat yang mirip gong tapi tidak digantung. Terus terang saya tidak tau apa namanya, dan sayapun lupa menanyakan nama alat yang saya tabuh. Ternyata menabuh gamelan ada teknik untuk mempelajari cara menabuhnya. Kebetulan intsruktur yang memberi penjelasan sudah menyiapkan panduan cara menabuh dalam bentuk lembar kertas dan urutan alat yang akan ditabuh. Setelah dijelaskan terlebih dahulu urutan menabuh, dan kami coba dua tiga kali, setelah itu peserta sudah mulai lancar menabuhnya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama irama gamelan yang kami tabuh sudah mulai “berbentuk”.

Saya tidak membayangkan kalau dalam waktu sesingkat itu kami yang kira-kira 8 orang sudah bisa menghasilkan bunyi-bunyian gamelan yang mulai berirama. Kadang memang masih ada yang salah tabuh, tetapi secara keseluruhan sudah lumayanlah untuk orang yang baru belajar sekitar 20 menit. Bagi saya itu sudah prestasi. Meski gamelan tidak dilengkapi dengan notasi partitur, tapi ternyata ada teknik untuk mempelajarinya. Gendang sebagai alat yang menjadi acuan untuk mengikuti kecepatan irama gamelan. Jadi semua penabuh harus memperhatikan kecepatan penabuh gendang, supaya alat yang lain bisa mengikuti.

Saya yakin untuk menguasai dan mampu memainkan gamelan secara baik butuh waktu dan kemauan yang tinggi. Tapi peralatan yang semula saya anggap sangat rumit itu, ternyata ada cara untuk mempelajarinya. Kami yang baru belajar dadakan merasa seolah ingin mempelajarinya lebih lama lagi. Sayang kesempatan untuk belajar menabuh gamelan tidak banyak. Mestinya kesenian tradisional seperti gamelan bisa diajarkan di sekolah-sekolah secara teratur.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s