Merry Riana dikadalin “Merry Riana”.

Mimpi Sejuta DolarSebenarnya saya sudah sering membaca opini di berbagai tulisan kalau ada buku “laris” dan kemudian di filmkan, maka biasanya filmnya tak sebagus bukunya. Saya sendiri pernah membuktikannya beberapa tahun lalu. Saya pikir kebiasaan menggerus mutu buku itu sudah berlalu, tetapi ternyata sampai sekarang, ya masih terjadi juga. Itu yang saya dapati ketika beberapa hari lalu menonton film “Merry Riana”. Film yang diperani Chelsea Islan itu tak mampu mengimbangi keseruan buku “Mimpi Sejuta Dolar” biografi Merry Riana yang ditulis oleh Alberthiene Endah. Kalau saya mau menilai, semangat juang dalam film “Merry Riana” cuma sekitar 10% dari semangat yang ada dalam buku “Mimpi Sejuta Dolar”. Saya bahkan bisa bilang, film “Merry Riana” tak lebih dari semacam roman murahan seperti yang sering tayang di televisi. Saya berani bilang kalau produser film tersebut cuma memanfaatkan reputasi Merry Riana. Saya sudah membaca buku “Mimpi Sejuta Dolar” yang mengisahkan perjalanan hidup gadis belia Merry Riana di Singapura. Buku “Mimpi Sejuta Dolar” menggiring pembacanya mengikuti keseruan perjalanan hidup Merry Riana menjadi mahasiswa dan kemudian sukses di Singapura. Dalam bukunya dikisahkan Merry diungsikan ke Singapura untuk menghindar dari kerusuhan bulan Mei 1998. Etnis keturunan Tionghoa menjadi sasaran dan korban kerusuhan berdarah yang mengakhiri kekuasaan Soeharto. Banyak perempuan Tionghoa yang diperkosa di tengah kerusuhan di Jakarta. Ayah Merry Riana, yang seorang pengusaha kecil, tak mau tragedi itu terjadi pada putri sulungnya. Dengan uang sangat minim Merry yang baru lulus SMA dipaksa terbang ke Singapura. Ayah Merry setengah membohongi putrinya, ayahnya bilang kalau mereka akan sama-sama ke Singapura, tapi Merry berangkat duluan. Padahal ayahnya tau ia tidak akan bisa mendampingi putrinya ke Singapura karena tidak ada biaya. Melalui telepon, kemudian ayahnya mengaku bahwa Merry harus hidup sendiri di Singapura, sampai keadaan di Jakarta membaik dan ayahnya bisa menjalankan usahanya kembali. Berbekal uang hanya cukup untuk makan seminggu, Merry harus hidup di Singapura. Untung ada teman SMAnya waktu di Jakarta yang mau memberi tumpangan kamar, sehingga Merry tak harus menggelandang di jalanan. Untuk bisa hidup di Singapura, Merry harus mencar kerja apa saja. Kemudian ia mendapat informasi bahwa kalau kuliah, ia bisa mendapatkan pinjaman dari universitas yang disebut student loan. Bila bisa mendapatkan student loan, selain bisa membiayai uang kuliah, bisa juga membiayai pemondokan di asrama. Pinjaman itu harus dibayarkan setelah mahasiswa lulus. Mengetahui hal itu, Merry ikut tes seleksi ke Nanyang Technological University (NTU), sebuah universitas yang bergengsi di Singapura. Dasar anak cerdas, Merry lulus dan diterima di NTU. Dengan begitu ia berhasil mendapatkan student loan.  Tapi jumlah student loan tidak cukup untuk biaya hidup yang lain seperti untuk makan. Merry menelpon ibunya di Jakarta bermaksud untuk meminta uang tambahan biaya hidup kuliah di Singapura. Tapi sebelum Merry menyampaikan maksudnya, ibunya bercerita kalau kehidupan keluarganya bertambah susah di Jakarta. Usaha ayahnya bangkrut dan ayahnya sedang kesulitan mencari uang. Mendengar cerita ibunya, Merry mengurungkan niat untuk minta uang tambahan. Ia tidak sampai hati menambah kesusahan ayah dan ibunya dengan minta uang kiriman. Merry bahkan membohongi ibunya bahwa student loan cukup untuk biaya hidupnya, padahal sebenarnya tidak. Di tengah kesulitan keuangan itu Merry bertekat untuk kuliah dan berhasil agar bisa membahagiakan orang tuanya, meski ia harus berkorban berjuang keras sendirian di Singapura. Uang bulanan dari student loan hanya cukup untuk biaya makan seminggu setelah dikurangi biaya kuliah dan biaya pemondokan. Merry harus berhemat dan bertahan hidup. Agar bisa bertahan hidup Merry terpaksa hanya makan mi instan sekali sehari. Untuk mengurangi rasa lapar ia harus minum air banyak-banyak. Merry pun kemudian berusaha mencari pekerjaan sampingan sehabis kuliah. Tapi mencari pekerjaan sampingan di Singapura bukanlah mudah. Dengan berkali-kali di tolak, Merry akhirnya bisa bekerja sebagai pembantu di toko bunga dan pekerjaan sejenisnya. Ia menhemat dan menabung setiap dolar yang ia kumpulkan. Ia pernah tertipu oleh kegiatan berinvestasi di sebuah perusahaan, padahal untuk bisa mendapatkan uang modal investasi itu ia sudah menabung dengan susah payah. Tetapi semangat Merry memang sangat luar biasa, berbagai kegagalan ia rasakan, namun semangatnya untuk sukses tak pernah surut. Singkat cerita Merry berhasil lulus dengan baik di NTU, tapi ia juga bisa melunasi student loan sebelum lulus, bahkan sudah memulai usaha besarnya dengan berinvestasi di pasar modal. Kegigihan Merry sangat luar biasa. Di dalam buku itu ia menyatakan bahwa ia menuliskan cerita hidupnya dalam buku supaya semakin banyak orang muda Indonesia mendapat inspirasi dari perjuangan hidupnya yang keras, tapi bisa mendapatkan keberhasilan yang luar biasa. Buku “Mimpi Sejuta Dolar” bukan hanya cuma cerita perjuangan hidup seorang gadis muda, tapi buku itu adalah buku yang memberi motivasi perjuangan keberhasilan. Sayangnya ketika dijadikan film, spirit dan semangat Merry Riana malahan dipangkas habis. Filmya bukan film inspirasi, tapi cuma sekedar roman picisan. Sayang sekali, kenapa seorang motivator ulung seperti Merry Riana bisa dikadalin oleh produser film murahan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s