Belajar terus dan terus belajar

DSC_0182[1]Ketika ke gereja kemarin bersama anak saya Daniel, tak disangka duduk bersebelahan dengan seorang keponakan, sebut saja namanya Tua. Lantas selesai ibadah Tua mengajak mampir ke tempatnya yang ia sebut “markas perjuangan”, kebetulan berdekatan dengan lokasi gereja. Hanya berjalan jaki 2 menit dari pintu keluar gereja, kami sudah sampai di sebuah rumah yang difungsikan sebagai “rukan”, rumah kantor. Rukan inilah yang disebut “markas perjuangan” oleh Tua. 

Kantor Tua bergerak untuk melayani bantuan hukum dan jasa konsultan hukum. Di kartu namanya ia menuliskan “Advocate and Legal Consultant”. Tua masih tinggal di markas ini sendirian, istri dan ketiga anaknya masih tinggal di kota lain. Sang istri yang berprofesi di bidang kesehatan itu, terpaksa tinggal berjauhan dengan suami karena memilih karir sebagai pegawai negeri, sementara Tua mengembangkan jasa keahliannya di Jakarta. Saat ini proses kepindahan istri Tua sudah rampung, sehingga tak berapa lama lagi Tua akan berkumpul kembali bersama anak dan istrinya di Jakarta.

Tua segera merepotkan diri untuk menyiapkan air mineral sebagai suguhan di rukan yang ia tempati. Saya sudah menyuruh Tua untuk tak repot-repot menyiapkan diri. Tiba-tiba dia keluar beberapa menit dan kemudian datang dengan beberapa penganan kecil sebagai camilan.

“Kayaknya aku jadi merepotkanmu kalau begini”, kataku kepadanya.

“Ya enggaklah Uda, ini cuma supaya kita bisa lebih santai ngobrol”, Tua menjawab.

“Buktinya kau jadi sibuk beli camilan segala”, saya menimpali. Kami ngobrol ke sana kemari, tentang keluarga dan beberapa hal.

“Baru ini aku ada kesempatan ngobrol dengan Uda, sebagai orang yang lebih tua, Uda kan banyak pengalaman, karena itu kan bisa kasi pencerahan”, Tua melanjutkan.

“Jangan kau sebut pencerahan, kita ngobrol saja”, jawabku.

“Tidak salah kan aku minta pencerahan, Uda kuanggap orang tuaku yang sudah ke merantau dan berwawasan”, Tua berdalih. Saya diam sejenak menunjukkan ketidak sepakatan terhadap pendapat Tua.

“Bukan begitu, aku tak merasa perlu untuk memberi pencerahan kepadamu, walau kau keponakanku, dan umurku jauh lebih tua dari kau. Aku justru merasa dan selalu berusaha belajar dari orang-orang yang lebih muda”.

Tua nampaknya punya pandangan sendiri, sementara saya juga tidak sependapat dengan dia soal siapa belajar kepada siapa. Kami agak berbeda melihat sudut pandang tentang proses pembelajaran antara orang yang lebih tua dan orang yang lebih muda. Saya bisa memahami pandangan Tua, dia berpandangan seperti itu tentu berdasarkan pemahaman dan pengalamannya sendiri.

Bagi saya yang sudah berumur kepala lima, belajar adalah proses seumur hidup, tak pernah berhenti, dan bisa belajar dari siapa saja, bahkan saya belajar dari anak kecil dalam beberapa hal. Belajar terus dan terus belajar, itu yang saya yakini dan jalani dalam proses kehidupan. Memang dalam belajar itu saya juga berusaha supaya bisa membagi pelajaran bagi orang lain. Dan proses membagi pelajaran itu tidak saya sebut sebagai “ngajari’, atau “memberi pencerahan”.  Saya hanya merasa berbagi pengalaman.

____

*) Uda = Paman

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s