Kecelakaan Air Asia 8501; Panggung Pencitraan di Atas Musibah

Air-Asia-QZ8501Mempromosikan diri tentu sah-sah saja. Semua orang berusaha susah payah untuk meningkatkan posisi, kondisi, kompetensi dan kemampuan masing-masing. Sebagian orang menempuhnya dengan sekolah dan mengikuti pendidikan setinggi mungkin. Jalur itupun tidak cukup, mereka masih harus bekerja keras untuk berprestasi di beberapa bidang, prestasi di pekerjaan, prestasi di bidang penunjang pekerjaan, prestasi dibidang lain yang kadang tidak ada hubungannya dengan profesi atau pekerjaan seseorang. Sudah berupaya sedemikian keras, itupun masih belum tentu diapresiasi, belum juga di akui orang, belum bisa muncul menjadi “trending topic“, apalagi menjadi selebriti. Saat-saat genting dimanfaatkan untuk meningkatkan image, pencitraan! Pada dasarnya semua orang senang dipuji, membutuhkan apresiasi, suka disanjung. Manusia memang cenderung memiliki perasaan narsis! Foto diambil dari sini.

Sepanjang usaha untuk narsis itu dilakukan wajar-wajar saja, tidak menyalahi etika, dan tidak merugikan orang lain, ya bisa dimaklumi. Tetapi kadang ada orang yang tak mampu menahan keinginan narsis yang sangat tinggi sehingga melakukan hal-hal yang kurang etis. Memang apa yang dilakukan tidak menyalahi aturan formal, tapi kalau dicermati lebih jauh, kelakuan para pemuja narsisme itu sudah agak tidak wajar.

Hal itu juga yang terjadi ketika terjadi musibah pesawat Air Asia QZ8501. Beberapa pejabat publik seolah berlomba untuk unjuk diri menjadi orang yang terdepan dalam mengelola penanganan kejadian bencana tersebut. Beberapa pejabat sibuk memberi keterangan di depan kamera televisi tentang berbagai hal.

Kecelakaan Air Asia QZ8501 memang menjadi sorotan dunia. Sejak dinyatakan hilang kontak dengan Air Traffic Controler (ATC), kejadian itu menjadi breaking news di beberapa stasiun televisi berita untuk hampir lebih dari 2 minggu. Berjam-jam siaran televisi menayangkan berita secara live dari beberapa titik. Begitu banyaknya pejabat yang memberi keterangan kepada media, sampai media bingung sendiri informasi mana yang paling akurat. Kepala Basarnas Bambang Sulistyo sempat harus membuat pernyataan bahwa hanya Basarnas yang paling berkompeten untuk memberikan informasi pencarian dan penyelamatan Air Asia QZ8501.

Sudah begitupun, tetap saja sejumlah pejabat seolah beradu cepat menjadi yang terdepan dalam penanganan QZ8501. Mereka seolah ingin menunjukkan diri bahwa mereka paling peduli pada kasus kecelakaan tersebut. Pada hari-hari pertama sejak kehilangan kontak, hanya Kepala Basarnas yang paling sering tampil di layar televisi. Namun berangsur-angsur pejabat lain seolah tak mau kehilangan kesempatan untuk manggung di layar kaca televisi. Ada beberapa komandan satuan yang muncul memberi pernyataan. Ada pula pejabat daerah yang seolah paling peduli dengan korban dan keluarganya.

Ketika beberapa jenazah mulai diidentifikasi oleh polisi, pengumuman hasil identifikasi dilakukan oleh pejabat polisi berpangkat bintang satu dari Mabes Polri. Pengumuman hasil identifikasi jenazah dilakukan oleh beberapa perwira polisi secara bergantian. Dan masih banyak lagi pejabat yang ambil keksempatan nampang di depan kamera televisi, pencitraan!

Kemunculan para pejabat itu di layar televisi pada saat breaking news adalah kesempatan langka. Apalagi itu gratis. Sebab pengelola televisi biasanya sangat pelit mengalokasikan waktu bagi pejabat untuk bicara di layar televisi. Hanya dalam kejadian-kejadian besar, televisi mau memberi kesempatan pada pejabat untuk berceloteh di layar kaca. Itupun media merekam omongan yang cukup panjang, tapi kemudian yang muncul di depan pemirsa televisi hanya potongan pendek dari keterangan si pejabat. Karena itu tidak jarang ada oknum pejabat yang rela “membayar” supaya bisa muncul di layar televisi.

Breaking news Air Asia QZ8501 adalah momen yang punya rating tinggi di televisi, tapi sesungguhnya saat kecelakaann tersebut ratusan keluarga sedang berkabung panjang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Kesedihan yang amat dalam membuat mereka sudah tak bisa berbuat apa-apa. Para keluarga korban sudah sangat lelah mencucurkan air mata kesedihan, mereka tak putus harap memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar keluarga mereka segera dapat ditemukan. Sayangnya pada saat yang sama ada oknum yang menjadikannya panggung untuk pencitraan. Inilah dunia!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s