Terseok-seok memberantas korupsi

Cartoons-Against-Corruption-In-India-7Indeks Persepsi Korupsi (IPK) di Indonesia tahun 2014 baru mencapai angka 34, berada pada urutan 107 dari 174 negara di dunia. Index yang dikeluarkan oleh Transparency International itu menunjukkan “prestasi” Indonesia secara keseluruhan dalam rangka mencegah korupsi. Sebenarnya kalau dibandingkan dengan tahun 2013, ada sedikit kenaikan, karena sebelumnya nilainya hanya 32. Meski secara resmi pemerintah sudah berupaya untuk mencegah dan memberantas korupsi, tapi hasil yang diperoleh masih jauh dari harapan. Pemerintah mentargetkan capaian IPK Indonesia direncanakan pada nilai 50 di tahun 2014, meningkat dari nilai 28 pada tahun 2009, sesuai dengan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2009 – 2014. Dengan segala usaha yang dilakukan selama 5 tahun oleh Pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, prestasi Indonesia nyaris tidak banyak meningkat, apalagi kalau disandingkan dengan prestasi negara-negara lain. (Foto diambil dari sini).

Prestasi Indonesia di tahun 2014 masih kalah dibanding dengan negara-negara tetangga.

Negara                       Nilai         Urutan 174 negara

  1. Singapore             84                         7
  2. Malaysia               52                       50
  3. Philippines           38                       85
  4. Thailand               38                       85
  5. Indonesia             34                     107
  6. Vietnam                31                     119
  7. Timor Leste          28                    133
  8. Myanmar              21                    156

Di kawasan regional Asia Tenggara, Indonesia melakukan pembangunan pada saat yang hampir bersamaan dengan Singapore, Malaysia, Philippina, dan Thailand. Tapi dari hasil diatas, Indonesia sebagai bangsa yang tersbesar dari keempat negara tetangga, prestasinya justru jauh tertinggal dalam upaya pencegahan korupsi. Prestasi Indonesia benar-benar sangat memprihatinkan.

Rapor Indonesia diatas adalah resultante dari semua program dan kegiatan Pemerintah dan upaya-upaya yang dilakukan oleh masyarakat, dunia usaha, akademisi, lembaga masyarakat dan semua pihak di seluruh negeri. Angka IPK ini sering digunakan oleh dunia usaha sebagai barometer untuk menilai seberapa rumit untuk melakukan usaha di Indonesia.

Agaknya di tahun 2015 ini prestasi bangsa Indonesia untuk memberantas korupsi akan sulit ditingkatkan. Kasus perseteruan KPK dengan Polri di akhir Januari 2015 ini akan menjadi batu sandungan besar bagi upaya pemberantasan korupsi. Apalagi perseturuan “Cicak – Buaya” jilid 3 ini menyeret sejumlah kepentingan politik, maka penyelesaiannya akan semakin rumit. Sampai saya mempublish posting ini, belum terlihat ke arah mana gonjang-ganjing ini akan berakhir.

Saya melihat kasus ini akan menghambat prestasi Indonesia dalam capaian prestasi yang akan dicatat oleh Transparency International. Bisa-bisa Indonesia akan melorot nilai IPK dan urutannya akan disalip oleh negara-negara lain.

Yang pasti keributan penyelesaian “gempa hukum” antara KPK dan Polri menjadi catatan signifikan bagi upaya pencegahan dan pemberantasan korupsi. Bisa diduga peristiwa ini akan berdampak pada banyak hal. Untuk beberapa bulan enerji dan sumber daya pemerintah terseret untuk mencari penyelesaian skandal “Cicak – Buaya” jilid 3. Fokus pemerintahan menjadi bergeser. Kalau kasus ini berlarut-larut, Presiden akan selalu “terganggu” dengan peristiwa ini.

Karena itu semestinya semua saling bahu-membahu untuk meningkatkan kualitas bangsa Indonesia dengan segala upaya untuk mencegah korupsi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s