Jakarta kebanjiran lagi, berapa kerugianmu?


Sby Gulung celana di istana1Hujan belum berhenti selama hampir lebih dari 36 jam terakhir di Jakarta. Akibatnya sudah bisa dilihat dan dirasakan di semua tempat di Jakarta. Banjir, orang basah kuyup dan kedinginan, macet, jalan rusak, pembersihan rumah dan jalan, penyakit mulai mengancam. Hanya dalam waktu 36 jam kerugian bisa ratusan milyar  bagi warga Jakarta. Banjir kali ini tak kalah serunya dengan banjir tahun 2013 lalu yang sampai menggenangi Istana Presiden. Foto yang dirilis Setneg di tahun 2013 memperlihatkan Presiden SBY menggulung celana di kompleks istana.  Tahun ini pihak Istana Kepresidenan belum mempublikasikan apa-apa soal banjir. (Mungkin istana masih repot dengan urusan KPK versus Polri).

Sebagai orang yang menumpang hidup di Jakarta, soal banjir sebenarnya saya sudah bosan orang membahasnya. Semestinya sudah tidak perlu lagi menulis atau menganalisis banjir Jakarta. Di blog saya ini saja sudah sejak tahun 2008 yang lalu hampir setiap tahun ada yang saya tulis tentang banjir, terutama banjir Jakarta. Di tahun 2008 banjir menuju bandara Soekarno Hatta, sampai pemikiran pesimis tentang upaya penanganan banjir Jakarta. Yang diperlukan sekarang adalah tindakan nyata dari semua orang untuk mengurangi banjir Jakarta secara bertahap. Tidak perlu tindakan muluk-muluk, yang sederhana saja. Seumpamanya setiap orang, yang tinggal di Jabodetabek yang sebanyak lebih dari 12 juta itu, tidak buang sampah sembarangan selama sebulan saja, maka beban banjir di Jakarta akan berkurang.

Apalagi kalau setiap orang bisa mengurangi volume sampahnya dari waktu ke waktu. Selain itu tentu Gubernur Ahok dan seluruh jajarannya tetap harus bekerja keras memperbaiki sungai dan saluran. Pemprov DKI Jakarta juga harus menertibkan bangunan di tepi sungai. Dan tidak boleh dilupakan penduduk dan Pemda di Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi (BoDeTaBek) pun tak boleh cuma pura-pura tidak mau tau urusan banjir Jakarta. Karena banjir Jakarta juga membawa dampak buruk bagi warga BoDeTaBek.

Sudah pasti produktifitas wilayah BoDeTaBek merosot kalau Jakarta kebanjiran. Jadi warga dan Pemda BoDeTaBek harus ikut aktif bekerja sama untuk mengurangi banjir Jakarta secara konsisten. Semua orang tidak boleh mengabaikan hal ini. Tidak percaya?, rasakan sendiri akibatnya. Karena itu orang harus merubah perilaku untuk mengatasi banjir, tak cukup hanya mengeluh dan menuntut.

***

Kemarin saya juga ikut sempat merasakan bagian dari dampak banjir Jakarta (meski tidak seru dibandingkan dengan perjuangan mereka yang berada di sepanjang tepian sungai Ciliwung atau sungai Pesanggerahan). Perjalanan pulang kantor yang biasanya cuma sekitar 30-40 menit, kemarin menjadi 2 jam lebih. Selain memboroskan BBM, melelahkan, dan juga kedinginan serta menjengkelkan. Tentu hampir semua orang merasakan dampak banjir kemarin. Kalau sekitar 7 juta orang saja mengalami kemacetan lebih dari 3 – 4 jam kemarin sore, berapa kerugian ekonomi yang terjadi di Jakarta dan wilayah sekitarnya hanya dalam waktu 36 jam saja. Belum lagi kerugian ikutan yang terjadi akibat hujan dan banjir. Hitung sendiri sajalah, saya sudah cukup pusing membuat hitungannya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s