Gadis penjual oli

bakar jagungMinggu lalu saya mampir ke bengkel ganti oli di dekat rumah. Saya harus ganti oli mesin mobil supaya jangan sampai melewati kadaluawarsa. Saya sudah sering ke bengkel ini, kadang hanya untuk cuci mobil, tapi juga terkadang untuk ganti oli secara lengkap. Bengkel ini bukan untuk reparasi mesin, tetapi lebih fokus pada penggantian oli dan pencucian mobil. Begitu sampai dan mematikan mesin, seorang petugas wanita menghampiri dan menanyakan mau cuci mobil atau mau ganti oli. Saya jawab bahwa saya mau ganti oli mesin. Petugas wanita itu menanyakan mau pakai oli merek apa, lalu saya menyebut salah satu merek yang pernah saya pakai. Si petugas menawarkan apakah mau sekalian ganti filter oli. Saya bilang cuma mau ganti oli mesin saja dulu. Lalu si petugas mencatat permintaan saya.

Ternyata ada beberapa mobil lain yang sudah menunggu untuk ganti oli, jadi saya harus antri dan menunggu untuk dilayani. Sambil menunggu, saya menghampiri salah satu kursi kosong yang ada di bengkel itu. Tak ada ruang tunggu khusus di bengkel ini, jadi saya menduduki salah satu kursi yang ada. Ternyata kursi-kursi itu juga digunakan oleh petugas yang ada di bengkel tersebut. Selagi saya melihat-lihat media sosial di perangkat mobile saya, seorang petugas wanita yang lain memulai pembicaraan:

“Enak pak pakai mobil bapak itu?”, petugas wanita muda itu bertanya.

“Ya di enak-enakin aja mbak, habisnya saya mampunya punya mobil kayak gitu”. Jawab saya sekenanya.

“Kan mobil bapak agak sporty gitu”, si wanita berkata lagi.

“Menurut mbak gitu ya, saya sih kepingin juga punya mobil yang lebih enak lagi, tapi uangnya mampunya ya itu”.

“Saya pernah lihat di teve, artis si Anu (ia menyebut salah satu artis), pakai mobil kayak punya bapak”.

“Oh ya, masak sih!”, kata saya.

“Kalau pakai oli X, tarikan mobil bapak akan lebih enak lagi pak!” (si wanita menyebut merek salah satu oli yang jarang saya tau.

“Oli nya full sintetik, sekarang lagi promo pak, jadi harganya lebih murah dibanding oli lain yang sekelas”.

“Yah, itu mobil saya udah dikasi oli yang saya pesan”, kata saya. Si wanita terdiam sejenak.

“Di sini ada berapa karyawan yang cewek?”, saya bertanya sekenanya saja, sekedar melanjutkan pembicaraan.

“Ada empat orang pak, tapi yang karyawan bengkel cuma satu, yang jadi kasir. Saya dan dua teman lainnya wakil dari agen perusahaan oli, jadi bukan pegawainya bengkel ini”.

“Ooo, gitu ya, saya kira anda karyawan bengkel ini”.

“Jadi mbak gajinya dibayar agen perusahaan oli?”.

“Saya cuma dapat komisi dari oli yang terjual pak, itupun kecil, cuma Rp. 1000 per liter. Tapi kita sering juga dimarahin sama pemilik bengkel, dianggap karyawannya sendiri padahal kita tidak dibayar sama dia.”

“Wah dia enggak ada hak dong marahin anda, dia bukan majikanmu”, saya menukas.

“Yah, namanya juga orang kecil pak.”

Si mbak bangkit dari duduknya menemui mobil yang baru masuk bengkel. Saya termenung mendengar pengakuan mbak petugas itu. Gadis penjual oli yang masih muda, penampilannya oke,  good looking, ternyata upahnya hanya segitu. Untuk mendapat komisi Rp. 50.000 sehari, ia harus mampu menjual 50 liter dari satu merek oli tertentu. Saya tak berani berbincang-bincang lebih jauh dengan gadis penjual oli apakah dia bisa menjual oli sebanyak itu sehari.

Hidup di kota ternyata tidaklah mudah, kelihatannya saja penampilan bagus, tapi penghasilan tak seberapa. Gadis penjual oli tak jauh berbeda dengan gadis pejual jagung bakar, atau bahkan gadis penjual hand-phone di mall.  Bagaimana mereka bisa bertahan hidup di kota besar? Saya termangu-mangu merenungi kehidupan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s