Menyelaraskan hati dengan pikiran

DSC_0139Keinginan hati hendak melakukan sesuatu yang baik, tapi pikiran kemudian memerintahkan tubuh dan alat-alatnya untuk melakukan hal lain yang tidak sesuai dengan keinginan hati. Bahasa religiusnya, keinginan roh ingin menjauhi dosa, tapi keinginan daging, (yang tentu diperintahkan oleh otak dan pikiran) ternyata berbuat dosa. Kondisi religius itu adalah hal yang fundamental, yang seringkali mudah untuk membedakan keinginan daging dengan keinginan roh. Hal itu seperti membedakan antara hitam dan putih, antara berbuat dosa dan menjauhi dosa. Dalam praktek sehari-hari, dalam melakukan hal-hal yang biasa, kita sering sulit menyelaraskan keinginan hati dengan keinginan pikiran. Pada konteks dan kondisi yang sama-sama positif sekalipun, antara hati dan pikiran tidak selalu mudah untuk diselaraskan.

Penyelarasan hati dan pikiran dalam contoh konkrit bagi saya adalah dalam pemeliharaan kesehatan tubuh. Saya harus memelihara kondisi tubuh sedemikian rupa supaya tidak semakin sakit, atau setidaknya kondisi kesehatan tidak semakin buruk. Bagi orang yang sudah mengidap penyakit jantung kronis seperti saya, mempertahankan kondisi kesehatan jantung adalah keharusan. Meski saya tetap bisa melakukan kegiatan sehari-hari, tapi kalau lalai dan tidak berdisiplin, kondisi pembuluh darah jantung bisa memburuk dan bisa berakibat fatal. Berbagai upaya harus dilakukan agar kesehatan jantung bisa dipertahankan. Karena penyebab utama penyempitan pembuluh darah jantung saya adalah pembentukan plak kolesterol, maka saya harus menghindari terjadinya pembentukan kolesterol dalam tubuh.

Pembentukan kolesterol dalam tubuh sebenarnya adalah hal yang terjadi pada semua manusia. Dalam takaran tertentu kehadiran kolesterol menandakan bahwa organ-organ tubuh berfungsi dengan normal. Akan tetapi ketika suatu gangguan tubuh terjadi, jumlah bisa kolesterol meningkat diatas normal, dan kemudian membentuk tumpukan plak dalam pembuluh darah jantung, inilah yang selanjutnya mengakibatkan terjadinya penyumbatan pembuluh darah jantung. Bila hal itu terjadi, secara sehari-hari seseorang disebut mengidap penyakit jantung.

Setelah sudah tau kalau penyempitan pembuluh darah saya diakibatkan oleh tumpukan deposit kolesterol, karena itu saya harus menjaga kondisi supaya kadar total kolesterol dalam darah saya sebisa mungkin dibawah 150 mg/dL. Dan yang terpenting kadar kolesterol LDL harus dibawah 100 mg/dL. Itu berarti saya harus menjaga “kondisi lingkungan” dengan menjauhi penyebab kolesterol yaitu makanan atau minuman yang bisa menyebabkan terjadinya kolesterol. Cilakanya, sedikit saja saya mengkonsumsi makanan yang mengandung lemak, seperti sayur tumis, maka kadar kolesterol langsung meningkat. Jadi saya harus benar-benar menghindari lemak atau minyak secara total. Saya hanya bisa mengkonsumsi makanan yang direbus atau dikukus.

Untuk menjaga kondisi kadar kolesterol itu saya harus menikmati makanan bebas lemak secara ketat. Kata menikmati itu menjadi sangat penting, karena kalau tidak saya akan gagal dalam menjaga kolesterol. Mengkonsumsi makanan yang dikukus atau direbus setiap hari bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak sekali godaan untuk mengkonsumsi makanan enak, tapi sebenarnya mengandung lemak dan bisa mengakibatkan bahaya bagi saya. Saya masih sering gagal untuk menerapkan disiplin yang ketat dengan menghindari makanan daging hewani dan makanan yang mengandung lemak.

Menikmati makanan direbus setiap hari adalah hasil dari upaya menyelaraskan hati dan pikiran. Bagi saya tidak mudah untuk menyelaraskannya agar bisa menikmati makanan yang sama setiap hari. Tapi karena nyaris tak ada pilihan, maka saya harus belajar menyesuaikan keinginan hati dengan keinginan pikiran dan tubuh. Keinginan tubuh adalah bisa merasakan makanan enak seperti yang dilakukan banyak orang. Kalau saya ikuti keinginan tubuh itu, maka kolesterol saya akan meningkat. Maka saya menetapkan keinginan hati yang kuat untuk berdisiplin tinggi menyantap makanan yang direbus setiap hari. Supaya bisa dilakukan setiap hari dengan menu yang nyaris sama, saya harus mensugesti pikiran bahwa makanan yang direbus bisa dinikmati.

Sesungguhnya rasa enak dan nikmat bukanlah hasil dari bahan makanan dan bumbu serta ramuannya, tetapi rasa enak adalah citra yang dibentuk di otak, masuk kedalam pikiran dan mengakibatkan ada rasa nyaman dan rasa nikmat. Bahan makanan dan bumbu masuk kedalam perut, tapi citra dan rasa enak terbentuk di otak dan pikiran.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s