“Driving License” kok jadi ijin mengemudi?

DSC_0341

Sudah berapa lama anda punya Surat Ijin Mengemudi (SIM), apakah SIM C, SIM A, atau SIM B. Meski sudah bertahun-tahun memilikinya dan selalu membawanya kemanapun pergi, boleh jadi anda belum benar-benar memperhatikan SIM itu, atau tak tau asal-usul dan kenapa anda harus punya SIM. Apalagi bagi mereka yang memperoleh SIM dengan melalui “jalur cepat”, fungsi SIM dianggap hanya sebuah “kartu” supaya tidak mengeluarkan denda (resmi atau tidak resmi) lebih mahal ketika tertangkap melanggar lalulintas atau saat terjadi kecelakaan lalulintas. Jangan-jangan banyak pemilik SIM yang tidak memperhatikan data dan informasi yang tertera pada kartu SIM.

Memperoleh SIM melalui “jalur cepat”, bisa berarti pemohon SIM hanya perlu bawa fotocopy KTP, menyiapkan uang dalam jumlah tertentu, ambil sidik jari, foto, dan tak lama kemudian SIM ada di tangan. “Penyedia jasa” pengurusan SIM akan akan bekerja sedemikian rupa sehingga pemohon SIM tidak perlu repot. Kalau melalui proses yang benar, untuk mendapatkan SIM, seseorang harus dinyatakan layak mengemudi dengan aman. Kelayakan itu diuji melalui tes tertulis untuk mengetahui pemahaman tentang peraturan lalulintas, dan uji kemampuan di lapangan untuk membuktikan ketrampilan mengemudikan kendaraan di jalan raya. Tetapi “prosedur jalur cepat” bisa menyederhanakan proses sedemikian rupa sehingga pemohon tak perlu menjalani semua proses uji kelayakan mengemudi.

Pemahaman soal SIM sudah salah kaprah dari awalnya. Kesalahkaprahan itu dimulai dari nama atau “nomenklatur” yang diberikan kepadanya. Dalam lingkup yang umum dipakai di berbagai Negara, untuk dapat mengemudikan kendaraan di jalan raya seseorang harus mempunyai lisensi mengemudi yang disebut dengan “driving license”. Lisensi adalah sejenis sertifikat yang diberikan oleh suatu lembaga berwenang yang berupa pengakuan bahwa pemegang lisensi itu dinyatakan mampu dan mempunyai kompetensi untuk mengemudi. Lisensi diberikan setelah pemegang lisensi menjalani sejumlah uji kompetensi.

Analogi lisensi ini sama dengan ketika Si Anu mengikuti kursus Bahasa Inggeris, kemudian setelah melalui suatu ujian kompetensi tentang Bahasa Inggeris, maka Si Anu diberi sertifikat yang menyatakan bahwa si Anu mempunyai kualifikasi tertentu tentang Bahasa Inggeris. Sertifikat atau lisensi yang diperoleh Si Anu dapat digunakan ketika ia harus membuktikan kompetensinya dalam penguasaan Bahas Inggeris. Lisensi seperti ini yang dimaknai secara universal tentang driving license, yaitu sertfikat yang menyatakan kualifikasi seseorang dalam mengemudikan kendaraan di jalan raya.

Akan tetapi di Indonesia driving license dinamai sebagai ijin mengemudi. Bahkan di kartu “SIM” jelas-jelas diterjemahkan bahwa “SIM” adalah driving license. Padahal ijin mempunyai pengertian yang berbeda dengan license. Ijin adalah wewenang yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan kepada pemegang ijin untuk melakukan sesuatu sesuai dengan isi ijin.  Misalnya ijin yang diberikan kepada sebuah perusahaan untuk mengolah singkong menjadi roti. Dalam ijin tersebut biasanya dijelaskan lokasi dan kapasitas produksi yang diperbolehkan. Bila pemilik pabrik roti memindahkan lokasi pabriknya ke lokasi yang lain, maka dengan sendirinya ijin tersebut menjadi tidak berlaku.

Driving License seharusnya diartikan dan dijadikan sebagai Lisensi Mengemudi atau Sertifikat Mengemudi yang menjadi alat bukti bahwa pemegang lisensi itu mempunyai ketrampilan dan keahlian mengemudi. Jadi kalau saya mempunyai Lisensi Mengemudi (LM) kategori A, itu karena saya dinyatakan secara resmi mempunyai ketrampilan mengemudikan kendaraan roda 4 jenis sedan dan jenis station wagon, dan saya memahami peraturan lalulintas. Lisensi mengemudi tidak sama dengan ijin mengemudi, dan tidak boleh diterjemahkan menjadi ijin mengemudi. Karena makna ijin sangat berbeda dengan lisensi.

Salah kaprah mengartikan lisensi mengemudi menjadi “SIM” sejak awal boleh jadi salah satu penyebab penyalah gunaan dan pengelolaan “SIM” selama ini. “SIM” telah disalahgunakan sejak terminologinya. Dalam proses pembuatan “SIM”, penyalah gunaan terus berlanjut, demikian pula saat penggunaannya. Bahkan penyalahgunaan “SIM” terus terjadi ketika pengawasan dan penegakan hukumnya.  Selama ini tidak ada yang meluruskan pengertian dan pengelolaan lisensi mengemudi di Indonesia. Saya jadi berpikir, dengan salah kaprah seperti itu apakah “SIM” masih diperlukan sekarang ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s