Upsss…. UPS, sudah mahal, tidak perlu, tapi kok dibeli

UPS DKISelama beberapa pekan terakhir langit ibukota dijejali dengan hiruk pikuk “perselisihan” antara DPRD DKI dengan Gubernur DKI, Ahok Basuki Tjahaja Purnama. Jagat media mainstream dan media sosial ramai dengan silang pendapat tentang perseteruan itu. Sebenarnya perdebatan antara Gubernur Ahok dengan elit DPRD sudah berlangsung lama, akan tetapi yang paling permasalahan yang paling besar dan paling menyita perhatian adalah soal “anggaran program siluman” yaitu pengadaan UPS, scanner, dan alat fitness bagi sekolah-sekolah di lingkungan DKI. DPRD bahkan sedang melakukan hak angket DPRD, yaitu hak untuk mengadakan penyelidikan terhadap Gubernur. Orang yang paling banyak disorot media selain Ahok adalah Wakil Ketua DPRD DKI Haji Lulung dari partai PPP, dan wakil Ketua DPRD M. Taufik dari partai Gerindra.

Hiruk pikuk perselisihan masih berlangsung, dan saya tidak tau akan berakhir bagaimana dan apa kesudahannya. Tapi bagi saya agak menggelitik ketika masalah UPS menjadi “program penting” bagi DKI. Bayangkan pengadaan UPS di tahun 2014 menghabiskan biaya belasan Trilliun rupiah dan kemudian diusulkan lagi di tahun 2015 dengan nilai yang lebih besar. Saya jadi bertanya-tanya seperti apa sih perlu dan pentingnya UPS bagi sekolah.

UPS (Uninterruptible Power Supply) sejatinya gunanya adalah untuk menghindari terjadinya kehilangan data kalau tiba-tiba aliran listrik terputus pada saat sedang bekerja memasukkan (entry) pada komputer. Kalau aliran listrik terputus, UPS berfungsi sebagai baterai cadangan sehingga komputer yang sedang beroperasi masih bisa tetap “on” (hidup) untuk beberapa saat sampai data yang sedang di entry disimpan (di save) pada penyimpan data (hard disk).  Dengan fungsi untuk bertahan dalam waktu singkat, sebuah UPS terutama diperlukan oleh operator komputer pemroses data entry.

Fungsi UPS jelas berbeda dengan genset (generator set), yang terakhir ini berfungsi untuk mengoperasionalkan peralatan yang membutuhkan listrik, ketika pasokan listrik terputus. Kalau pasokan listrik terputus, umumnya sebuah genset disetting secara otomatis untuk langsung hidup. Tetapi ada waktu jeda beberapa detik antara putusnya pasokan listrik dengan hidupnya genset. Pada suatu unit komputer yang sedang memproses data entry, pasokan listrik yang terputus selama beberapa detik saja bisa mengakibatkan hilangnya data yang terakhir kali di entry. Dengan menyambungkan komputer pada sebuah UPS, meski pasokan listrik terputus, komputer masih bisa beroperasi karena daya listrik dipasok dari UPS, sehingga seorang operator komputer masih punya waktu untuk menyimpan data.

Jadi tegasnya UPS berfungsi memasok daya listrik dari baterai selama beberapa saat agar operator komputer ada waktu untuk menyimpan data. Sedangkan sebuah genset berfungsi memasok listrik dari generator cadangan ketika aliran listrik PLN terputus. UPS tidak dirancang untuk memasok daya listrik untuk lampu penerangan ruangan atau untuk menghidupkan air conditioner (AC). Begitulah cara kerja dan kegunaan sebuah UPS dan perbedaaanya dengan genset.

Untuk menghindari kehilangan data saat seorang operator komputer bekerja mengentry, sudah menjadi SOP (standard operating procedure) bahwa seorang yang bekerja dengan komputer harus melakukan saving (penyimpanan data) secara rutin. Semakin penting dan semakin banyak data yang diproses dalam waktu singkat, maka proses saving harus semakin sering dilakukan. Untuk menghindari kehilangan data akibat operator lupa melakukan saving, banyak program komputer yang sudah dirancang untuk melakukan auto-saving selang waktu tertentu. Seorang operator komputer dan atau pengguna komputer yang terlatih tau persis bahwa melakukan saving secara rutin sudah merupakan suatu keharusan, dan tidak perlu tergantung pada ada atau tidaknya sebuah uninterruptible power supply (UPS). Jelasnya, seorang pengguna komputer tidak boleh tergantung pada UPS.

Karena itu ketika Gubernur Ahok mempersoalkan pengadaan UPS untuk sekolah dengan berkekuatan daya besar, pertanyaanya apa perlunya sekolah setingkat SMA punya UPS yang besar dengan harga lebih besar dari Rp. 5 milyar untuk setiap sekolah. Biaya peralatan tambahan untuk komputer itu sangat luar biasa besar dibanding dengan pemanfaatannya. Orang awam saja bisa menilai bahwa pengadaan UPS itu tidak tepat sasaran dan tak perlu dianggarkan oleh APBD DKI untuk sekarang ini. Anggaran sebesar itu akan lebih bermanfaat kalau digunakan untuk kegiatan lain.

Ditengarai ada oknum-oknum yang memanfaatkan aturan Undang-Undang yang mensyaratkan alokasi dana APBD untuk pendidikan minimal 20%, sehingga muncullah usulan-usulan yang tidak masuk akal. Oknum-oknum itu ingin menjarah APBD melalui pengadaan barang yang tidak perlu, lalu harga UPS di mark-up setinggi langit. Hasil dari penjarahan itu lalu kemudian dibagi-bagi diantara oknum legislatif dan oknum pejabat DKI. Upsss……. edan tenan…..

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s