Go-Jek oke-oke aja, Uber diuber-uber

DSC_0591[1]Saya belum pernah menggunakan Go-Jek, jadi tidak tau persis bagaimana layanan yang diberikan oleh Driver nya. Tetapi  saya agak penasaran dengan sistim kerja Go-Jek yang kelihatannya menantang bagi para Drivernya. Go-Jek menyebut anggota pengojekya dengan istilah “Driver“. Kenapa saya sebut menantang, dari beberapa berita di media online, sejumlah Driver mengaku penghasilannya cukup baik. Seorang mantan pengojek tradisional yang beralih menjadi Driver Go-Jek mengaku penghasilannya berlipat ganda setelah menjadi Driver Go-Jek. Begitu juga seorang Driver Go-Jek wanita yang mengaku mendapatkan penghasilan Rp. 6 juta dalam 3 minggu pertama menjadi Driver Go-Jek.

Dari situsnya Go-Jek mendefisikan dirinya sebagai perusahaan sosial. Saya tidak tau apa alasannya Go-Jek mengklaim diri sebagai perusahaan berjiwa sosial. Di situsnya tertulis begini: “GO-JEK adalah perusahaan berjiwa sosial yang memimpin revolusi industri transportasi Ojek.” 

Klaim Go-Jek ini tentu perlu dibuktikan, apa yang dimaksud dengan perusahaan berjiwa sosial, apakah karena menjual jasa transportasi, lalu merasa sudah berjiwa sosial? Kalau hanya karena itu, nanti bisa jadi rancu pengertian berjiwa sosial.

Go-Jek sebenarnya adalah fasilitator bagi para Drivernya, menghubungkan Driver dengan pengguna jasa layanan ojek. Dengan bantuan layanan secara on-line, pengguna layanan ojek memesan Driver melalui aplikasi di smartphone. Setiap calon pelanggan Go-Jek harus menginstal terlebih dahulu aplikasi di smartphonenya supaya bisa melakukan pemesanan. Dalam beberapa saat, Go-Jek akan mengarahkan Driver ke pemesan, kemudian pemesan menggunakan layanan. Sesederhana seperti itu. Dari segi tarif, layanan Go-Jek bisa lebih murah dari layanan taksi konvensional. Karena Go-Jek memberlakukan tarif flat, Rp. 10.000 untuk radius 25 km. Sementara ojek konvensional tarif untuk 25 km bisa jauh lebih mahal dari Rp. 10.000.

Sudah tentu untuk mendukung sistem bekerja, setiap Driver Go-Jek dilengkapi dengan sebuah smartphone yang mempunyai fasilitas GPS sehingga Go-Jek bisa dengan mudah mencari Driver  yang paling dekat dengan lokasi pemesan. Karena itu setiap Driver selain harus terdaftar, juga tak bisa sembarangan melayani pengguna layanan.

Tapi yang membuat saya lebih penasaran adalah penerimaan instansi yang berwenang terhadap keberadaan Go-Jek. Gubernur DKI, Ahok, menyambut layanan Go-Jek. “Penumpang aman dan mereka bisa nolong kita juga. Buat pengemudi ojek juga untung enggak perlu tunggu di pinggir jalan,” tutur Ahok dalam suatu kesempatan.

Operasional Go-Jek di Jakarta oke-oke saja dan bisa berjalan mulus. Apalagi setelah Ahok mendukung keberadaanya. Prinsip layanan yang digunakan Go-Jek adalah menggunakan keberadaan teknologi internet dengan sistim on-line. Prinsip sistim ini tidak ada bedanya dengan toko on-line yang banyak tumbuh sekarang ini. Di bidang transportasi, moda lain yang sudah menggunakan ini adalah pemesanan taksi dengan fasilitator Uber.  Go-Jek menggunakan sistim yang sama persis dengan Uber.

Persoalannya kenapa Go-Jek oke-oke saja, sementara Uber diuber-uber? Operasionalisasi Uber di Jakarta tidak diterima oleh Pemda DKI. Dinas Perhubungan DKI dan Gubernur Ahok sudah menyatakan tidak memperbolehkan Uber beroperasi di Jakarta. Padahal cara kerja Uber dengan Go-Jek sama saja. Layanan Go-Jek lebih murah dari layanan ojek konvensional, begitu pula layanan Uber lebih murah dari layanan taksi konvensional. Disinilah terjadi inkonsistensi dari pihak yang berwenang.

Gubernur Ahok dan jajarannya harus cerdas dan cermat menyikapi perkembangan layanan masyarakat berbasis teknologi. Keberadaan layanan semacam Go-Jek, Uber, toko on-line dan yang sejenisnya adalah konsekuensi perkembangan jaman. Karena itu perlu adil dalam menyikapinya. Ke depan, akan lebih banyak lagi layanan yang akan berbasis teknologi internet, pemerintah semestinya memberikan kemudahan bagi keberadaan teknologi seperti itu. Pada akhirnya masyarakat jua yang mendapat manfaat yang lebih baik dan lebih murah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s