Merapikan Monas, Meramaikan Lenggang Jakarta

DSC_0458Ada yang istimewa di Monas hari-hari belakangan ini. Setelah selama sebulan, baru kemarin sore saya berkesempatan jalan sore di Monas.  Sampai beberapa bulan lalu, setiap hari di Monas selalu diramaikan oleh pedagang asongan. Ada berbagai macam dijual oleh pedagang, ada air minum,  air kelapa muda, teh kemasan, kopi instan, mi instan dengan air panas, souvenir berupa kaos atau pernik-pernik, kerak telor, bakso,  soto, lontong, mi goreng, nasi goreng, ketan bakar, layang-layang, kaca mata, arloji, mainan anak, dan bermacam-macam dagangan lainnya. Selain itu ada juga rental sepeda, rental sepeda listrik, dan dilengkapi dengan jasa “patung manusia” yang bisa diajak berfoto. Sudah tentu ada photographer keliling yang siap mengabadikan suasana pengunjung di Monas. Dan satu lagi, ada pemberi jasa pijat refleksi, body massage dan terapi bekam. Pokoknya ramailah seluruh kawasan Monas dengan kehadiran para pencari rejeki. Tetapi kemarin sore, semua pedagang itu tak ada lagi di dalam Taman Monas. Inilah yang saya sebut ada yang istimewa di Monas, tidak ada pedagang asongan yang berkeliaran di Monas. Luar biasa.

Ya bagi saya ini sangat luar biasa, karena selama ini penertiban di Monas tak pernah berhasil. Dulu, meski ada Satpol PP yang patroli, para pedagang asongan tak menghiraukan, petugas Satpol PP pun seakan pura-pura tidak tau bahwa disekelilingnya banyak pedagang asongan. Padahal tugas utama Satpol PP di Monas adalah menertibkan pedagang asongan.  Pedagang pun cuek, tetap berjualan meski di sampingnya ada petugas Satpol PP. Tapi sudah bertahun-tahun tugas penertiban tersebut tak pernah berhasil. Malahan selama ini ada dugaan bahwa oknum-oknum petugas tertentu memback-up pedagang asongan sehingga berani berdagang sesuka hati di Monas.

Kawasan Monas memang selalu ramai dikunjungi orang sepanjang tahun mulai dari pagi hari sampai tengah malam. Monas menjadi salah satu obyek kunjungan wisata di ibu kota, terutama wisatawan dalam negeri. Orang yang datang ke Jakarta, serasa belum lengkap kalau belum berkunjung ke Monas. Apalagi sekarang, orang merasa tak mantap kalau tidak berselfie di Monas.

Tetapi setelah Gubernur DKI Basuki Tjahaja Purnama, yang lebih tenar dengan sebutan Ahok, secara tegas memerintahkan penertiban Monas, nampaknya penertiban mulai berhasil. Entah bagaimana caranya Ahok memerintahkan Satpol PP di Monas sehingga bisa membersihkan Monas dari pedagang asongan dan pedagang keliling. Para pedagang ditempatkan di satu tempat yang lebih rapi dan lebih tertib.

Untuk itu Pemprov DKI menyediakan tempat bagi para pedagang Monas di lokasi yang kemudian diberi nama Lenggang Jakarta. Ahok menyediakan tempat berdagang di kawasan Monas.

DSC_0544[1]

Tempat berdagang yang diberi nama Lenggang Jakarta itu mengambil sebagian areal parkir IRTI di bagian Selatan Monas. Lenggang Jakarta menyediakan kios dan “gerobak menetap” dimana pedagang menjajakan barangnya. Aneka ragam kuliner dan jajanan Nusantara ada di sini.

DSC_0543[1]

Kuliner Nusantara

DSC_0542[1]

Kalau anda sudah memesan makanan, tersedia tempat duduk untuk makan dengan santai. Tidak kalah dengan yang ada di mall.

DSC_0679[1]

Souvernir, mainan anak, juga tersedia, kaos dan banyak lagi.

DSC_0682[1]

Tinggal pilih sesuai kebutuhan dan keinginan

DSC_0681[1]

Lenggang Jakarta dilengkapi dengan mushola. Selain itu tersedia toilet yang gratis! Mudah-mudahan kebersihan dan kenyamanan toilet umum di Lenggang Jakarta bisa terus dipertahankan selamanya. Untuk itu perlu pengawasan yang ketat dan konsisten dari pengawas atau pimpinan yang membawahi Monas dan Lenggang Jakarta.

Mau keliling monas dengan andong alias dokar? Angkutan tradisional ini siap membawa anda jalan-jalan di sore hari di seputaran Monas.

DSC_0686[1]

Perbaikan dan Penyempurnaan

Selalu ada ruang untuk perbaikan dan untuk penyempurnaan. Semua hasil kerja manusia selalu ada tempat untuk perbaikan. Tidak ada yang sudah sempurna. Posting ini bermaksud untuk memberi masukan untuk perbaikan. Karena itu jangan diartikan sebagai menilai apalagi untuk menyalahkan. Jangan seperti posting tentang Bandung sebelum ini, yang direspon defensif oleh yang berwenang. Tanggapan yang defensif seperti itu memberi indikasi kalau yang dilakukan sekedar “proyek perubahan”, padahal yang dibutuhkan masyarakat adalah perubahan berkelanjutan yang bermanfaat bagi masyarakat selamanya.

Kembali ke soal Lenggang Jakarta. Sayangnya masih ada yang perlu disempurnakan dari penataan dan penertiban di Monas dan Lenggang Jakarta. Sebagian pedagang masih ada yang menggelar dagangannya di luar area Lenggang Jakarta. Para pedagang ini tetap menggelar dagangannya di areal parkir.

DSC_0696[1]

Ini harus segera cepat ditertibkan supaya tidak semakin menjadi-jadi. para petugas Satpol PP harus cepat mengambil tindakan. Karena biasanya, para pedagang cukup jeli mengetahui bagaimana bermain kucing-kucingan dengan petugas. Pedagang juga bisa cepat mengetahui oknum petugas mana yang bisa diajak kerjasama untuk membiarkan mereka berdagang seenaknya.

DSC_0694[1]

Penindakan terhadap pedagang ini harus segera dilakukan. Pengawasan terhadap kegiatan petugas Satpol PP di lapangan harus digiatkan. Agar petugas lapangan konsisten melaksanakan tugas sesuai arahan pimpinannya.

DSC_0698[1]

Selain itu penataan pelataran di depan Lenggang Jakarta nampaknya kurang memperhatikan pergerakan manusia yang akan melaluinya. Penempatan pelataran rumput dan pelataran paving seperti di foto berikut tidak mempertimbangkan kebiasaan orang berjalan kaki.

DSC_0685[1]

Ketika melalui Lenggang Jakarta untuk memasuki Taman Monas, orang harus melalui pintu dan sebelum mencapai pintu harus melalui pelataran. Pelataran yang terdiri dari rumput dan paving ini dibuat bersegi tiga dan segi empat. Tetapi tidak disiapkan akses khusus pejalan kaki ke pintu Taman Monas. Akibatnya, pelataran rumput menjadi akses dan selalu terinjak-injak yang mengakibatkan rumput mati. Semestinya rumput diletakkan sedemikian rupa sehingga kecil kemungkinan untuk terinjak-injak pengunjung.

Saya tidak tau bagaimana mekanisme penempatan pedagang di Lenggang Jakarta. Saya juga tidak faham, bagaimana ketentuan mereka berdagang disana. Apakah pedagang di Lenggang Jakarta boleh mematok harga sesuka hati. Spanduk dibawah ini mengatakan kalau harga minuman cuma 5 ribuan. Ketika saya minum air kelapa muda, dan saya siap membayar, harga dipatok Rp.20.000, padahal harga air kelapa muda di warung pinggir jalan di kawasan Rawamangun cuma Rp.10.000. Saya tidak tau harga dagangan yang lain, karena saya tidak mencoba menawar dagangan di sana. Kalau harga di Lenggang Jakarta disamakan dengan harga di mall atau bahkan lebih mahal, maka pengunjung Monas dan Lenggang Jakarta akan dirugikan. Kondisi ini harus diperhatikan oleh pengelola Lenggang Jakarta.

DSC_0701[1]

Hal yang perlu diantisipasi adalah soal kriminalitas di Monas. Sebagaimana pernah diakui Ahok, bahwa di Monas berbagai kriminalitas bisa terjadi. Karena itu pengelola Monas dan Lenggang Jakarta tidak boleh lengah. Sekecil apapun potensi terjadinya kriminalitas harus dibasmi dan dihilangkan. Yang jelas, saat ini ada petugas dari Polisi Militer dan Provost yang ditempatkan di pintu Timur Laut Monas. Ada kendaraan Patroli Garnisun Jakarta yang di parkir disana. Sebelumnya, petugas yang berjaga di sana adalah dari Satpol PP.

Kehadiran beberapa orang Polisi Militer bisa diartikan bawa sebelumnya ada oknum tentara yang ditertibkan atau setidaknya harus diantisipasi supaya tidak melakukan tindakan tidak terpuji. Tentu masih tidak bisa dilupakan “petugas parkir” (liar) Monas yang dibakar hidup-hidup oleh oknum tentara gara-gara tidak bayar setoran.

Monas adalah milik kita semua, kewajiban kita bersama untuk menjaga keindahan dan kenyamanan Monas. Para petugas, Satpol PP, pengelola Monas, pengelola Lenggang Jakarta, mereka diberi wewenang dan tanggung jawab untuk menertibkan kawasan Monas. Semoga Monas menjadi kebanggan bangsa.

DSC_0692[1]

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s