Pedestrian di perkotaan untuk siapa?

Kyoto-3309

Kota yang bermatabat adalah kota yang memberi kemudahan bagi semua orang tanpa kecuali. Kota yang mempunyai fasilitas bagi orang dewasa, anak-anak, lanjut usia, penyandang tuna netra dan pengguna kursi roda. Kota bermartabat harus memberi fasilitas yang memadai bagi para tuna netra, sehingga bila para penyandang netra berjalan sendirian dengan tongkatnya, ia tetap aman di jalan raya di perkotaan. Hakikat manusia yang sebenarnya adalah manusia pejalan kaki, karena itu kota-kota harus menyediakan fasilitas yang mumpuni bagi pejalan kaki, termasuk pejalan kaki tuna netra. Kota yang baik menyediakan fasilitas bagi pejalan kaki karena para pengelola kota menyadari dan memahami dengan sungguh-sungguh keberadaan tuna netra pejalan kaki yang tidak harus didampingi orang lain. Dengan menyediakan fasilitas yang memadai bagi tuna netra pejalan kaki, pengelola kota memahami dan mendukung kemandirian para tuna netra pejalan kaki.

Foto di kiri atas ini adalah pedestrian bagi pejalan kaki yang dilengkapi dengan fasilitas khusus bagi tuna netra yang ingin berjalan kaki secara mandiri. Strip berwarna kuning dilengkapi dengan lapisan yang bergaris sehingga tuna netra dengan bantuan tongkat putih bisa membedakan apakah ia berjalan di lajur yang benar atau tidak. Strip kuning tersebut di beri space yang cukup sehingga bila seorang tuna netra berjalan di strip kuning tersebut, ia tidak akan mendapatkan hambatan, dan dapat berjalan dengan aman.

Kyoto-3305

Coba perhatikan dengan seksama foto di atas. Jalan ini berada di kota Kitakyushu, Jepang. Pedestrian atau trotoir di jalan ini mempunyai cukup lebar, perhatikan bahwa lajur untuk kendaraan bermotor hanya dua, artinya lebar jalan kendaraan bermotor sekitar 7 meter saja. Tetapi lajur untuk pejalan kaki hampir sama dengan lajur untuk kendaraan bermotor. Mobil yang berhenti dan parkir tidak menyerobot trotoir, mobil tetap parkir di jalan aspal. Strip ini sengaja di beri warna kuning agar pengguna jalan yang bukan tuna netra dengan mudah memahami bahwa jalan itu dilengkapi dengan fasilitas bagi pejalan kaki yang tuna netra. Diharapkan pengguna jalan akan membantu  pejalan kaki yang tuna netra. Pemberian warna kuning tersebut sudah merupakan ketentuan universal yang difahami secara luas.

pedestrian korea

Kota-kota di Korea juga menggunakan strip warna kuning dengan lebar kurang lebih 40 cm seperti foto di atas. Pejalan kaki sangat dihargai di sini, sehingga diberi lajur yang cukup lebar, tidak kalah dengan lajur untuk kendaraan bermotor.

pedestrian korea-1

Di titik pertemuan/persimpangan strip untuk pejalan kaki tunanetra disediakan lapisan keramik dengan titik bulat yang sudah difahami oleh para tuna netra seperti gambar diatas. Di titik itu, pejalan kaki tuna netra di arahkan untuk terus atau berbelok. Ini juga di Korea. Kalau ada titik-titik bulat seperti itu, para tuna netra akan berhenti sejenak, di titk itu tuna netra memilih untuk jalan terus atau untuk berbelok.

pedestrian jakarta

 

Di Jakarta beberapa jalan sudah dilengkapi dengan strip untuk pejalan kaki yang tuna netra. Foto (dibuat tahun 2015) di sebelah kanan adalah fasilitas pedestrian di Jl. Kebon Sirih, yang tidak jauh dari kantor Gubernur DKI Jakarta.

Sayangnya pemasangan strip tuna netra ini membingungkan, menyimpang dari ketentuan umum yang sudah difahami secara internasional. Lihatlah foto di kanan itu. Di satu titik strip kuning ditambah dengan strip bulat untuk persimpangan. Padahal di titik itu tidak ada persimpangan bagi pejalan kaki tuna netra. Di titik itu juga bukan merupakan halte, dan bukan titik pintu masuk ke persil. Lalu, untuk apa pemasangan titik persimpangan itu dipasang di sana?

Perhatikan juga bahwa ketinggian permukaan trotoir ini tidak sama, seperti terlihat pada tanda panah. Trotoir yang baik adalah yang memberi kemudahan bagi pejalan kaki dan pengguna pedestrian/trotoir yang lain, termasuk mereka pengguna kursi roda.

Permukaan trotoir di depan kantor DPRD DKI di jalan Kebon Sirih ini ditutup dengan semen rabatan kasar. Sehingga terlihat kotor dan sulit dibersihkan. Dengan APBD DKI yang demikian besar, DKI mestinya bisa membangun trotoir dari keramik berkualitas baik, atau bahkan pakai granit. Penutup lubang (manhole) terbuat dari beton model lama (tahun 70’an).

 

 

 

 

pedestrian surabaya-3

Foto (dibuat tahun sekitar 2010) di atas berlokasi di Kota Surabaya. Trotoirnya sudah menggunakan keramik yang bagus, lebih baik dari trotoir di Jl. Kebon Sirih Jakarta. Penutup lubang saluran (manhole) dibuat dari metal yang dilengkapi  engsel, sehingga menyatu dengan tembok beton. Ketika dipasang penutup metal tanpa engsel, penutup dari metal ini sering hilang dicuri orang tak bertanggung jawab. Maklum logam seperti itu laku dijual kiloan ke tukang loak. Penutup metal itu sudah dilengkapi tulisan timbul (gravir), sehingga kalau dijual kiloan, Pemda dapat menelusuri.

Sayangnya fasilitas untuk pejalan kaki di Surabaya ini tidak dirancang dengan benar. Warnanya tidak kuning, melainkan abu-abu tua. Lebarnya hanya sekitar 30 cm, tidak sama dengan yang di Jakarta dan di Korea. Sudah itu penempatannya menabrak pohon. Pejalan kaki tuna netra akan bisa celaka menabrak pohon dengan strip abu-abu tua itu.

pedestrian jakarta-2

 

 

Foto kiri (dibuat tahun 2015) di Jl. Kebon Sirih Jakarta ini dirancang secara tidak benar. Penempatan strip dengan permukaan lingkaran bulat ini tidak sesuai kaidah-kaidah bagi pejalan kaki tuna netra.

Ada lapisan dibuat dari pasangan batu kali di ujung strip kuning (lihat tanda panah). Jelas ini salah design. Pertanyaanya adalah, apakah di lingkungan Pemerintah DKI Jakarta tidak ada orang yang mengetahui kaidah rancangan pedestrian secara benar. Kalau benar-benar tidak ada, mestinya bisa menggunakan konsultan yang punya kemampuan untuk merancang sistem pedestrian yang benar.

Gubernur DKI Ahok, Basuki Tjahaja Purnama harus memperhatikan masalah ini. Persoalannya, terutama karena jalan ini sering dilalui oleh orang asing. Malu kan, kalau orang dari luar negeri sampai melihat kondisi seperti ini di  tahun 2015, Pemerintah DKI masih menggunakan rancangan seperti ini. Seingat saya trotoir ini diperbaiki sekitar akhir tahun 2013. Jadi relatif masih baru.

Jakarta bisa lebih baik dari kondisi seperti di Jl. Kebon Sirih.

 

 

 

 

 

 

pedestrian surabaya-4

Foto di atas ada di Surabaya (dibuat tahun sekitar 2010). Keterangan pada foto diatas jelas sekali kalau strip untuk pejalan kaki tuna netra. Pejalan kaki tuna netra bisa jatuh tersandung melalui trotoir yang ketinggian permukaanya berbeda (tanda panah). Perhatikan tiang beton yang berada pada trotoir. Pelindung pohon yang terbuat dari logam di pasang engsel dengan cor ke lapisan beton trotoir. Di trotoir ini ditanam pohon trembesi sangat cepat bertumbuh dan diameter pohonnya bisa mencapai 1 meter. Sementara lobang metal berdiamer sekitar 50 cm, tentu akan tidak cukup bagi pohon trembesi.

pedestrian surabaya-5

Foto di atas ada di Surabaya (dibuat tahun sekitar 2010).  Penempatan strip penunjuk jalan bagi tuna netra tidak sesuai kaidah yang semestinya (bahasa terangnya salah). Untuk merancang suatu fasilitas pedestrian memerlukan keahlian dan kompetensi tertentu. Para pengelola kota perlu terus belajar bagaimana menata kota yang baik.

DSC_0760

 

Foto di kanan  (dibuat tahun 2015) berlokasi di Jl. A. Yani, Surabaya.

Perlu diketahui bahwa pedestrian ini masih relatif baru dibangun yaitu sekitar tahun 2014 lalu. Jadi mestinya pemerintah kota Surabaya (pejabatnya sangat sering ke luar negeri belajar menata kota) mestinya bisa merancang fasilitas pedestrian yang baik.

 

Perhatikan strip lurus dan strip dengan titik bulat mestinya dipasang seperti rancangan pada foto yang berada di Korea (foto bagian paling atas). Sementara strip lurus masih terus ada sampai di jalan aspal. Dengan kondisi seperti ini pejalan kaki tuna netra akan bingung, atau harus belajar lagi dari awal, bagaimana berjalan mandiri di pedestrian kota.

 

Penempatan pilar beton dimaksudkan untuk mencegah adanya kendaraan bermotor masuk ke trotoir. Sayangnya pilar itu justru terlalu dekat dengan strip penunjuk bagi pejalan kaki tuna netra. Di bagian ujung pada foto itu, masih terlihat trotoir masih ditutupi oleh tenda yang dipasang oleh pemilik persil untuk kegiatannya.

 

 

 

 

 

 

DSC_0773

Foto di atas (dibuat tahun 2015) berlokasi di Jl. Margorejo, Surabaya. Di sini jangankan pejalan kaki tuna netra. Pejalan kaki lainnya pun terancam bahaya tertabrak kendaraan bermotor. Sebenarnya, pemilik persil di lokasi jalan ini perlu disadarkan bahwa kalau banyak orang berjalan kaki di depan persilnya, nilai persilnya akan naik. Apalagi kalau persil tersebut merupakan pusat keramaian, sudah tentu membutuhkan akses pejalan kaki yang memadai.

pedestrian bandung-2

Lokasi diatas (Foto dibuat tahun 2015) berada di Bandung. Dibutuhkan kemauan yang kuat dari para pengelola kota untuk merancang fasilitas kota yang sesuai dengan kaidah-kaidah umum dan bermanfaat bagi masyarakat banyak. Pedestrian kota dirancang dan dibangun dengan biaya yang tidak sedikit. Karena itu pemanfaatannya harus maksimal.

DSC_0654

Pedestrian harus dirancang dengan baik, dan dioperasikan juga harus baik. Foto di atas (dibuat tahun 2015) meunjukkan lokasi Braga Citywalk di Bandung. Entah bagaimana tumpukan sampah di pagi hari berada di jalan yang bergengsi ini. Di daerah komersial seperti Jl. Braga Bandung, sistim pewadahan dan pengumpulan sampah perlu dirancang sedemikian rupa, sehingga tidak akan pernah ada tumpukan sampah di trotoir. Para penghuni bangunan tidak boleh menempatkan sampah di depan bangunan, melainkan harus menyimpan sampahnya di dalam bangunan sampai tiba saatnya petugas kebersihan mengambil sampah tersebut. Atau setiap pemilik bangunan harus mengantarkan sampahnya ke lokasi penampungan sementara yang tidak berada di jalan utama seperti jalan Braga. Pengaturan seperti ini harus dibuat. Pemilik banguna yang melanggar harus dikenakan sanksi.

pedestrian bandung-1

 

Braga Citywalk dengan fasilitas pedestrian yang harus dirawat dengan baik.

Permukaan trotoir di Jl. Braga ini dibuat dari bahan granit berwarna abu-abu tua. Lapisan permukaan bahan granit bertekstur kasar, supaya orang berjalan tidak tergelincir. Konsekuensinya permukaan kasar tersebut mudah menampung kotoran, apakah debu, sisa makanan, tumpahan cairan atau kotoran lain. Karena itu permukaan trotoir harus sering dicuci secara periodik supaya tetap bersih.

Sayangnya dari apa yang terlihat di Braga Citywalk, tampaknya permukaan trotoir ini sudah lama tidak pernah dicuci sehingga terlihat kotor, dan kusam. Hal ini tentu akan mengurangi keindahan dan penampilan keseluruhan pedestrian di Braga Citywalk.

Beberapa foto dari Bandung ini pernah dimunculkan di media sosial Facebook, kemudian ditanggapi oleh berbagai kalangan, termasuk Walikota Bandung. Walikota Bandung, Ridwan Kamil memberi tanggapan terhadap foto tersebut sebagai berikut:

“Terima kasih masukanya, fenomena yang disampaikan diterima dengan lapang dada.
Namun sebaiknya, anda lihat kondisi saat sebelum dilantik bagaimana, sehingga bisa melihat perbandingan before afternya.
Contoh kecil, anda mengomentari pot bunga yang layu di depan taman vanda, tapi anda tidak mau mengomentari taman vandanya? Taman yang jauuuh lebih baik dari kondisi kotor rusak sebelumnya? Kenapa? Ini karena anda ingin fokus pada observasi mata kondisi yang jorok kotornya saja yang memang masih banyak.

Anda sudah ke alun-alun bandung dan alun-alun ujung berung? Pernah lihat sebelumnya seperti apa? Itulah yang saya maksud agar objektif.

Namun apapun itu semua, cerita ini valid dan Insya Allah kita akan terus perbaiki. Hatur nuhun.”

Foto di bawah ini  berlokasi di Jl. Ganesa Bandung. Pedagang kaki lima memanfaatkan trotoir yang dilengkapi fasilitas petunjuk bagi pejalan kaki tuna netra. Kalau saja Satpol PP tegas melakukan penertiban, tentu pedagang tidak akan berani menyalahgunakan trotoir ini. Mengapa Satpol PP tidak melakukan penertiban? Jawabannya bisa beraneka ragam.

pedestrian bandung

Foto dibawah ini adalah trotoir yang baru saja diselesaikan pembangunannya, yaitu pemasangan paving block sebagai penutup. Sayangnya bekas pohon yang dipotong tidak dibongkar dan dibiarkan begitu saja. Tentu ini selain mengganggu pemanfaatannya, bisa jadi pelaksana pekerjaan tidak mengerti fungsi trotoir/pedestrian. Saya ragu kalau kontrak kerja tidak mnyebut pembongkaran bonggolan kayu mati yang terdapat di lokasi ekerjaan. Trotoir ini terletak di jalan Pramukasari, Rawasari, Jakarta Pusat. Foto diambil pada awal September 2015.  Kalau Pak Ahok sempat melihat kondisi trotoir di lokasi ini, atau melihat foto ini, saya yakin beliau akan melakukan sesuatu untuk memperbaiki trotoir ini. Tapi mestinya tidak harus Pak Ahok, Camat dan Kepala Suku Dinas yang membawahi pekerjaan perbaikan trotoir ini mestinya tidak membiarkan kekeliruan ini terjadi.

DSC_0798

Saya menulis posting ini tidak memposisikan diri sebagai pengelola kota, bukan pula sebagai manajer kota, melainkan sebagai salah satu stakeholder kota. Karena itu angle, sudut pandang, saya tidak selalu sama dengan sudut pandang pengelola kota. Dengan menampilkan foto dan tanggapan saya di atas saya berharap para stakeholder dan warga kota semakin ikut memikirkan pemanfaatan pedestrian yang dimaksudkan untuk semua orang.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s