BPJS untuk Nurmah, siapa peduli?

bpjsNurmah tidak pernah menyangka kalau Mursad, suaminya, akan meninggalkannya tanpa berita sekian lama. Nurmah  pasrah saja ketika Mursad pergi mengadu nasib mencari nafkah. Mursad tidak memberi tahu akan pergi kemana dan untuk berapa lama. Sepeninggal Mursad, Nurmah bertahan hidup dengan mengerjakan apa saja, menjadi buruh cuci, pembantu rumah tangga, pemulung, yang penting dia bisa makan sehari. Di kota seperti Surabaya, tanpa modal, tanpa ketrampilan, tanpa keluarga, Nurmah didera penderitaan hidup yang berkepanjangan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan kini sudah lebih dari 15 tahun Mursad taka pernah memberi kabar. Entah masih hidup atau sudah mati, Nurmah tak pernah tau. Nurmah tak tau harus mencari ke mana, tidak tahu harus bertanya ke siapa.

Nurmah sudah tidak ingat persisnya sejak kapan ia menjadi pengangkut sampah, mengumpulkan sampah dari rumah ke rumah, memasukkannya ke gerobak untuk kemudian diantarkan ke tempat penampungan sementara. Tentu saja untuk hidup di kota Surabaya dengan penghasilan sebagai pengumpul sampah sama sekali tidak cukup membiayai hidupnya. Untuk menambah penghasilan, ia pisahkan benda-benda yang masih bisa dijual, botol bekas, dan barang lain yang masih ada nilai jualnya. Sesekali Nurmah membantu membersihkan pekarangan dan depan rumah orang yang ia angkut sampahnya, pemilik rumah kadang memberikan tambahan tip, tapi kadang juga tidak.

foto-2

Nurmah sejak lama mengontak kamar sederhana di Sidotopo Wetan, Surabaya. Kamar yang sebenarnya tidak layak disebut kamar, karena faktanya ia hanya meninggali sebuah sudut bangunan yang ditutupi ala kadarnya supaya tidak basah ketika hujan. Nurmah tidak tau harus tinggal di mana lagi sejak suaminya Mursad meninggalkannya, dulu ia sempat mengontrak di rumah susun bersama Mursad. Tapi sejak ditinggal Mursad, ia semakin tidak mampu membayar sewa rumah susun.

Nurmah bekerja jadi pengumpul sampah di kawasan Tenggilis Mejoyo, dekat kawasan Rungkut yang jaraknya lebih dari 15 kilometer dari Sidotopo. Setiap hari Nurmah harus berjalan kaki dari Sidotopo Wetan, ia berangkat dari gubuknya jam 1 pagi menyusuri kegelapan malam kota Surabaya, dan bekerja mengumpulkan sampah mulai jam 4 pagi. Ia terpaksa berjalan kaki, karena tidak cukup uang untuk naik angkutan kota. Biasanya sekitar jam 7 ia sudah menyelesaikan mengumpulkan sampah dari satu RW.  Setelah itu ia istirahat sebentar sebelum kembali berjalan kaki ke Sidotopo Wetan menuju kamarnya. Nurmah melakoni ritual hariannya dari Sidotopo ke Tenggilis sudah lebih dari 7 tahun.

Sejak ia sakit sekitar dua tahun lalu, Nurmah semakin berkurang tenaganya, badannya semakin ringkih menarik gerobak sampahnya yang berat. Ia sudah 2 kali mengalami stroke ringan, sejak itu Nurmah semakin sering sakit-sakitan. Karena sakit-sakitan, ia sudah tidakmampu berjalan kaki lebih dari 30 klilometer sehari. Sekarang Nurmah terpaksa mengontrak di rumah susun di Gunung Sari, di tepi kali Surabaya. Supaya harga kontrak lebih murah, ia mengontrak di lantai 5. Sebenarnya fisiknya sudah sangat kesulitan setiap hari naik turun tangga ke lantai 5, tapi mau apa lagi, daripada berjalan kaki hampir 30 kilometer setiap hari, sekarang dari Gunung Sari ke Tenggilis Mejoyo bisa dia tempuh sekitar 3 kilometer.

Semakin lama tubuh Nurmah semakin renta, ia semakin sering sakit. Untuk mengurangi rasa sakitnya, Nurmah hanya menelan penghilang rasa rakit dan sejenisnya. Mau berobat ke Puskesmas Nurmah tidak punya uang. Ia pernah mendengar kartu Indonesia sehat, dan kartu BPJS. Katanya kartu itu bisa membantu orang seperti Nurmah berobat menjadi gratis. Tapi Nurmah tidk tahu bagaimana untuk mendapatkan kartu-kartu itu.

Suatu pagi Nurmah sengaja menunggu seorang ibu yang biasa ia bantu mengumpulkan sampah dari rumahnya. Sesekali Ibu Mei (bukan nama sebenarnya) memberi Nurmah tambahan tips ketika menitipkan sampahnya untuk dikumpulkan. Pagi itu Ibu Mei akan berangkat kerja, Nurmah sudah menunggu di depan rumah Ibu Mei untuk menanyakan bagaimana caranya untuk mendapatkan kartu BPJS, Nurmah mau minta tolong untuk membuat kartu BPJS. Mendengar permintaan Nurmah, Ibu Mei berjanji akan mencari tau cara membuat kartu BPJS untuk Nurmah dan berjanji mau membuatkannya. Nurmah merasa sangat gembira ketika mendengar kesediaan Ibu Mei membantunya. Nurmah seperti sesuatu yang sangat berarti hari itu. Kalau ia punya kartu BPJS, ia bisa berobat ke Puskesmas.

Ibu Mei sebenarnya juga punya kartu ASKES yang kemudian berganti jadi BPJS. Kartu ASKES dibuatkan oleh kantornya, Ibu Mei hanya tinggal memakainya. Tapi Ibu Mei tidak tahu seluk beluk cara dan persyaratan membuat kartu BPJS bagi seseorang. Beruntung, Ida, keponakan Ibu Mei bekerja di salah satu rumah sakit swasta yang juga mitra BPJS. Ida (bukan nama sebenarnya) dimintai untuk menanyakan syarat dan cara membuat kartu BPJS untuk Nurmah. Berdasarkan informasi dari konter BPJS di rumah sakit tempat Ida bekerja, sayat untuk menjadi peserta BPJS Mandiri, Nurmah harus melengkapi dengan fotocopy KTP, foto copy KK, surat keterangan miskin dari kelurahan, membuka rekening di salah satu bank mitra BPJS, dan harus membayar premi bulanan untuk minimal 2 orang (suami, isteri).

Informasi itu disampaikan ke Nurmah, lalu ia mengurus surat-surat yang diperlukan ke Ketua RT, Ketua RW dan ke Kelurahan. Singkat cerita Nurmah mendapatkan surat-surat yang diperlukan. Kemudian dengan ditemani Ibu Mei, Nurmah didaftarkan ke kantor BPJS di Jl. Darma Husada Surabaya. Ibu Mei dan Nurmah menunggu dari pagi sampai siang di BPJS untuk didata oleh BPJS sebelum membuat rekening bank atas nama Nurmah. Ibu Mei terpaksa minta ijin ke atasannya di kantor agar bisa menemani Nurmah ke Jl. Darma Husada, kalau tidak ditemani, ia akan kesulitan dan bingung di kantor BPJS.

Rampung mendaftar di kantor BPJS, kartu BPJS belum bisa di tangan kalau belum membuka rekening di Bank, supaya ketika membayar premi, bisa ditransfer ke rekening BPJS. Sekali lagi Ibu Mei menemani Nurmah untuk membuka rekening bank. Ibu Mei membawa Nurmah ke Bank BNI Graha Pangeran di kantor pembantu Jl. Jemursari Surabaya untuk Nurmah. (Tentu saja saldo awal dibayarkan dari uang Ibu Mei). Ibu Mei sudah berjanji akan membayarkan premi BPJS untuk Nurmah sebesar Rp. 25.000 tiap bulan, dan juga premi untuk Mursad yang tidak ketahuan di mana rimbanya. Kemudian Ibu Mei harus kembali ke kantor BPJS di Jl. Darma Husada untuk mengambil kartu BPJS Nurmah. Setelah itu barulah Nurmah bisa berobat ke Puskesmas di dekat tempat tinggalnya.

DSC_0845

***

Ada yang membuat saya prihatin dalam proses pembuatan kartu BPJS bagi Nurmah. Nurmah yang hidup sakit-sakitan, miskin, dan sebatang kara di Surabaya mestinya berhak mendapatkan kartu BPJS secara gratis, dibiayai negara tanpa menjadi peserta BPJS Mandiri. Pemerintah Kota Surabaya dan jajarannya seharusnya yang memfasilitasi  mengurus kartu BPJS bagi Nurmah. Sebagai warga kota Surabaya, Nurmah menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Surabaya. Tetapi ternyata Nurmah hanya diberi Surat Keterangan Miskin dari Kelurahan Sidotopo Wetan. Sudah menjadi tugas dan tanggung jawab Lurah Sidotopo Wetan untuk mengurus warganya yang miskin agar bisa mendapatkan kartu BPJS dengan biaya Negara. Walikota Surabaya bertanggung jawab untuk menolong warganya seperti Nurmah.

Mengapa Walikota Surabaya, Tri Rismaharini, tidak tau kalau ada warganya yang terlantar seperti Nurmah. Nurmah semestinya ditolong tidak hanya mendapatkan kartu BPJS, tapi juga mendapatkan fasilitas lainnya bagi warga miskin. Kepala Dinas Sosial Kota Surabaya beserta Camat Kenjeran mesti menolong Nurmah untuk menjadi peserta BPJS Kesehatan secara gratis. Lurah Sidotopo Wetan mestinya tidak hanya membuatkan surat keterangan miskin bagi Nurmah, tapi seharusnya membuatkan kartu BPJS gratis bagi Nurmah. Tugas utama Pak Lurah Sidotopo Wetan, atau lurah manapun, adalah menolong orang-orang seperti Nurmah untuk mendapatkan kartu BPJS. Apalagi tanggal kelahiran Nurmah sama dengan tanggal hari kemerdekaan RI 17 Agustus. Sepantasnya Pemkot Surabaya membantu Nurmah. Kalau Nurmah tidak dibantu Pemkot Surabaya, berarti *#@#**&^/?? , akh, saya tidak tega menuliskannya, silahkan artikan sendiri saja.

Tapi akhirnya kartu BPJS Mandiri atas nama Nurmah selesai juga, cuma dia harus bayar premi setiap bulan. Tidak besar memang, hanya Rp.25.000, tapi premi sebesar itu sangat berarti bagi Nurmah. Tentu dengan premi seperti itu, ada beberapa pelayanan BPJS yang tak bisa diperoleh Nurmah. Mudah-mudahan Nurmah bisa lega sekarang, karena bisa berobat ke Puskesmas.

kartu bpjs

******************

Btw, kalau ada yang berniat membantu ibu Nurmah, ada nomor rekening di foto diatas, Bank BNI a/c:   039 926 4049 atas nama Nurmah. Silahkan dibantu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s