Mental Calo

CaloSewaktu masih di SD dan SMP, beberapa kali dalam setahun saya mengunjungi kerabat, ompung uda, namboru dan famili lainnya di kampung. Pada waktu itu angkutan ke kampung di Silaban, kalau tidak pakai bus Sanggulmas, ya bus Silangit. Bus berangkat dari Medan pagi hari, jadi saya menunggu saja di pinggir jalan di Tg. Morawa dan menyetop bus Sanggulmas atau Silangit yang akan lewat. Kalau pulang dari kampung, saya biasanya menunggu bus di pertigaan “Lapo” (begitu kawasan ini kami sebut dulu). Begitu sampai di pertigaan Lapo, beberapa orang yang semula duduk-duduk di kedai, akan menghampiri dan menanyakan akan mau pergi ke mana. “Ai na laho tu Sumatera Timur do hamu“?. Orang ini akan langsung menawarkan jasa untuk menyetop bus dan menaikkan penumpang. Padahal saya sendiri bisa menyetop bus seperti saya lakukan ketika dari Tg. Morawa. Orang yang menawarkan jasa tersebut, pada waktu itu biasanya disebut “Agen“. Dia akan menyetop bus dan meminta uang jasa kepada kondektur bus karena dianggap telah bisa menambah penumpang. “Agen” seperti itu akan ditemui hampir di setiap kota yang akan dilalui bus, termasuk di Lintong ni Huta, Siborong-borong, Balige, Porsea, Parapat, Pematang Siantar dan kota-kota lainnya. Uang jasa yang diberikan kondektur tentu ya dari ongkos perjalanan naik bus. Sehingga seandainya tidak ada “Agen“, maka harga ongkos perjalanan bisa lebih murah. Dalam istilah sekarang “Agen” tersebut dinamakan Calo. Jadi praktek percaloan di Indonesia sebenarnya sudah lama ada di tengah-tengah masyarakat. (Gambar di atas diambil dari Google).

Sepenjang yang saya ketahui praktek percaloan sudah merambah di berbagai segi kehidupan. Dulu, saya sudah sering mendengar kalau mau masuk sekolah favorit, harus ada “orang dalam” supaya bisa masuk sekolah itu. Saya ingat ketika tamat SMP dan mau melanjutkan ke SMA di Medan, beberapa orang bilang kalau mau ke sekolah tertentu tidak cukup cuma punya nilai bagus, tapi harus ada “kenalan” yang membantu. Jasa dari  “orang dalam”, atau “kenalan” tentulah tidak gratis, tetapi ada “uang jasa”nya. Pada hakikatnya mereka adalah calo. Untungnya saya bisa masuk SMA yang dianggap lumayan baik meski tidak punya kenalan atau siapa-siapa di sekolah yang saya tuju.

Praktek percaloan merambah hampir semua segi, mengurus pelayanan publik seperti pengurusan ijin, ikut seleksi penerimaan pegawai pemerintah, mengurus kenaikan pangkat, proses tender, beli tiket, bahkan untuk mendapatkan tempat perawatan di rumah sakit dengan fasilitas BPJS. Ada saja teknik yang digunakan oleh pemberi layanan sehingga akhirnya penerima layanan menyerah untuk mengurus layanan yang difasilitasi oleh calo. Padahal, program peningkatan pelayanan sudah selalu digembar-gemborkan, tapi percaloan tetap berjalan terus. Yang berubah hanya modus operandinya.

Percaloan yang saat ini sedang ramai tentu saja dalam proses Pilkada. Calo bergentayangan untuk mendapatkan rekomendasi dari Partai Politik. Seorang bakal calon Kepala Daerah (Bupati, Walikota atau Gubernur) harus mendapatkan rekomendasi dari Partai Politik. Meski bakal calon adalah kader dari partai tertentu, bukan berarti ia otomatis didukung oleh partainya untuk maju sebagai bakal calon kepala daerah. Untuk mendapatkan rekomendasi dari Ketua Partai, ada jalan berliku yang harus dilalui. Dan untuk memuluskan jalan itu, Calo biasanya ikut bermain. Setelah rekomendasi diperoleh, para calo itu menjelma menjadi Tim Sukses yang akan bersuara lantang untuk mendukung jagoannya. Tapi Tim Sukses hanya akan bekerja kalau ada “hitung-hitungan“, apalagi kalau bukan fulus yang harus disiapkan bakal calon kepala daerah. Di proses ini percaloan semakin berani. Mereka mengatasnamakan kelompok untuk meyakinkan Calon Kepala Daerah, tentu saja harus ada “biaya operasional” yang jumlahnya cukup besar. Biaya operasional itulah yang digelembungkan oleh para calo.

Kalau Calo Pilkada sudah menjengkelkan, ada lagi calo yang lebih memuakkan. Apalagi kalau bukan calo perpanjangan kontrak tambang di Papua. Ini menyedot hampir seluruh perhatian di seantero jagat. Jasa calo yang dibicarakan bukan lagi miliaran rupiah, tetapi jutaan dollar. Pembicaraan rencana percaloan bukan lagi hanya dilakukan di cafe atau restoran, tapi di hotel bintang 5 dan di luar negeri. Percaloan tambang raksasa di Papua ini memang sedang menjadi “trending topic“. Beberapa stasiun televisi menyiarkan secara langsung persidangan terhadap percaloan tambang di Papua.

Percaloan menjadi bagian yang terus mengintai proses-proses yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Sudah tentu percaloan ini adalah praktek buruk dari kehidupan masyarakat. Calo merugikan masyarakat banyak, aturan dilanggar, tidak ada transparansi. Mental calo sudah merasuki banyak orang. Ia merusak jiwa dan hati. Sayangnya justru yang melakukan percaloan ternyata adalah para elit yang mempunyai kekuasaan. Bagaimana ini?

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s