Pembakar Hutan “Menang”!

hakim pembakar hutanAdalah Parlas Nababan, hakim Pengadilan Negeri Palembang, yang memenangkan tergugat pembakar hutan, PT. Bumi Mekar Hijau (BMH) dari gugatan perdata Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap PT BMH yang digugat telah membakar 20.000 hektar lahan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Parlas Nababan, ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara gugatan tersebut berargumentasi bahwa tidak cukup bukti hukum yang diajukan penggugat. Sehingga gugatannya tidak dapat dikabulkan, alias KLHK kalah, dan pembakar hutan, PT BMH menang. Parlas Nababan, mungkin saja seorang hakim yang pintar, tapi ia jelas-jelas bukan hakim yang bijaksana, dan jauh dari adil.

Argumentasi Parlas Nababan dkk sebagai majelis hakim agak sulit diterima akal sehat. Saya kutipkan berita dari Kompas.com seperti dibawah ini:

Parlas membacakan hal-hal yang menjadi pertimbangan putusan hakim, antara lain karena adanya ketersediaan peralatan pengendalian kebakaran. Lahan yang terbakar pun masih dapat ditanami….

Selain itu, pekerjaan penanaman diserahkan kepada pihak ketiga, pelaporan dilakukan secara reguler, dan diketahui tidak ada laporan kerusakan lahan di Dinas Kehutanan Ogan Komering Ilir.

Dengan demikian, hakim menyatakan, tidak ada hubungan kausal antara kesalahan dan kerugian.

Dari hasil laboratorium diketahui, tidak ada indikasi tanaman rusak karena setelah lahan terbakar, tanaman akasia masih dapat tumbuh dengan baik.

Kemudian, pihak penggugat juga tidak dapat membuktikan adanya kerugian ekologi, seperti adanya perhitungan kehilangan unsur hara dan kehilangan keanekaragaman hayati. Dengan demikian, perbuatan melawan hukum yang dilakukan PT BMH tidak dapat dibuktikan.

“Atas pertimbangan itu, majelis hakim menolak gugatan dan membebankan biaya perkara ke pihak penggugat (KLHK),” kata dia.

Putusan Parlas Nababan dkk sontak mendapat reaksi dari masyarakat. Masyarakat mencibir atas putusan hakim pengadilan negeri Palembang. Saya sendiri ikut memberi respon di media sosial dengan menulis:

Hakim aneh:
“Membakar hutan itu tidak merusak lingkungan, nanti bisa ditanami lagi”

Kalau kita ikuti hakim:
“Gebukin aja itu hakim sampai dia terluka parah, nanti bisa diobati”.

atau
“Bakar saja rumahnya pak Hakim, nanti dibangun lagi”.

Wah….hakim dari manaaa dia ???

Kemenangan BMH itu belum final, tapi itu adalah KEKALAHAN BESAR bagi KLHK. Dari segi teknis dan administratif, KLHK tidak mampu menyiapkan dokumen gugatan yang akurat, baik dan bermutu. KLHK tidak mampu menyiapkan dalil-dalil hukum yang sesuai untuk menindak pembakar hutan. Dengan kata lain, KLHK memble, keok.

KLHK sejak awal sudah keliru menggunakan dalil hukum, mengapa KLHK hanya mengunakan pasal “perbuatan melawan hukum” sebagai inti gugatan. Padahal dengan menggunakan Undang-Undang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkunngan Hidup, mestinya akan lebih kuat. PT BMH mestinya digugat sekaligus untuk pidana dan perdata lingkungan. Tentu saja perlu argumentasi dan bukti hukum yang kuat untuk melawan para perusak lingkungan. Apalagi nilai gugatannya cukup besar.

Sudah pasti tergugat tidak akan tinggal diam, tergugat akan menggunakan segala daya untuk menang, mereka akan menyewa pengacara handal untuk melawan penggugat. Di sinilah kekurangan dan kekeliruan KLHK. Sepertinya KLHK tidak mengantisipasi apa langkah yang akan ditempuh oleh tergugat.

Membawa perkara lingkungan ke ranah hukum bukanlah hal yang mudah. Meski secara kasat mata, sudah sangat jelas akibat dari pembakaran hutan, bencana asap selama beberapa bulan, penerbangan yang terganggu, sakit pernafasan yang dialami masyarakat. Tapi secara fakta hukum, apa yang kasat mata itu belum tentu cukup sebagai bukti di pengadilan. Diperlukan persiapan yang matang untuk menyiapkan barang bukti hukum, dan pasal yang sesuai agar perusak lingkungan tidak dapat berkelit.

Atas kemenangan PT BMH, saya memberikan nama baru kepada perusahaan tersebut menjadi

PT BMH = PT Berjaya Membakar Hutan.

Kekalahan KLHK di Pengadilan Negeri Palembang, harus dikaji ulang, supaya jangan sampai pembakar hutan menang lagi di pengadilan banding. Kebakaran hutan dan lahan di akhir tahun 2015 sudah dinilai sebagai pencemaran udara terburuk di dunia. Ironis sekali bangsa ini, kalau sesuatu yang kasat mata merusak tidak dapat dituntut secara hukum.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s