“Sakit cegukan” selama lebih dari 8 hari

DSC_1476[1]Anda pernah mengalami “cegukan” selama berhari-hari? Itu terjadi ketika lambung berdenyut, lalu gas lambung menekan udara di tenggorokan dan kerongkongan lalu kemudian mengeluarkan suara berbunyi Nguuk dari dalam mulut. Saya tidak tau istilah medis untuk gejala penyakit ini. Apakah ini termauk dalam GERD (Gastroesophageal reflux disease), yang menurut definisinya adalah “GERD is a condition in which the stomach contents leak backwards from the stomach into the esophagus (the tube from the mouth to the stomach).  Menurut banyak orang, mereka yang mengalami “cegukan” karena waktu makan kurang minum. Ketika makanan masuk kedalam mulut dan menuju lambung, ada yang merasa tersedak, dan kemudian menimbulkan efek “cegukan” dengan bunyi suara nguuk. Untuk mengatasi “cegukan” seperti ini, minum air beberapa tegukan, maka “cegukan” akan hilang dengan sendirinya. Tetapi kalau suara “Nguuk” terus keluar dari dalam mulut secara tidak terkontrol dalam waktu cukup lama, itu ceritanya menjadi lain. Selain terasa sangat mengganggu, tapi juga menyiksa. Dan saya baru-baru ini mengalaminya lebih dari 8 (delapan) hari. Bukan main tersiksanya!

Mengalami “cegukan” selama berhari-hari sangat menyiksa. Kalau mulut terbuka sedikit saja, suara cegukan sangat keras, dan itu terjadi hampir setiap 10 detik. Saya mengalaminya berhari-hari, selain mengganggu dan menyiksa, hampir  tidak bisa tidur di malam hari. Awalnya dimulai krtika saya mengalami radang tenggorokan, yang didahului oleh batuk. Karena radangnya sudah cukup membuat sakit, mau tidak mau saya nyerah dan terpaksa ke dokter minta obat. Biasanya kalau radang cuma sebentar, saya tidak minum obat apapun, tapi membiarkannya sampai sembuh dengan sendirinya. Tapi kali ini saya terpaksa ke dokter. Lalu dokter memberi antibiotik untuk diminum selama 5 hari. Saya tetap masih bisa beraktifitas dan masuk kantor. Besoknya saya menjadi salah satu narasumber di salah satu acara yang dihelat di sebuah hotel di kawasan Jakarta Pusat. Ketika acara di hotel itu dimulai saya mulai merasakan gangguan kecil dari kondisi cegukan. Untungnya saya bisa tahan, dan selama bicara di depan forum tidak terjadi gangguan berarti.

Setelah acara di hotel itu, saya mulai cegukan secara terus menerus hampir setiap 10 detik. Sebagaimana kebiasaan banyak orang saya lalu minum air banyak-banyak dan berharap cegukan bisa berhenti. Tapi setelah minum air lebih dari 3 gelas, dan perut saya mulai terasa penuh, bunyi cegukan tidak berhenti sama sekali. Saya mulai merasa ada yang tidak beres. Malamnya saya sengaja minum obat batuk dengan volume berlebih, berharap agar cepat mengantuk dan segera bisa tidur dengan nyenyak supaya cegukan bisa hilang selama tidur. Meski sudah minum obat batuk yang mengakibatkan ngantuk, butuh waktu sampai lewat tengah malam baru mata saya bisa tertidur. Tetapi meski saya bisa tertidur, ternyata selama tidurpun saya tetap cegukan. Hal itu saya ketahui dari penjelasan anak saya yang mengatakan kalau saya tertidur tapi suara cegukan tetap terdengar. Saya hanya bisa tidur sekitar 3 jam saja, dan pagi-pagi sekali sudah terbangun, tetap dalam kondisi cegukan.

Pagi itu saya tetap masuk kantor, dengan cegukan yang tidak hilang. Kondisi itu benar-benar menyiksa, ketika berbicara dengan orang saya menjaga betul supaya ketika cegukan dengan mulut tertutup, supaya suara “Nguuk” tidak terdengar. Tapi walaupun saya berusaha menjaga agar cegukan tidak terjadi ketika bicara, tetap saja sesekali cegukan terjadi, dan itu sangat memalukan. Karena hari itu Jumat, sorenya saya harus mudik ke Surabaya, selama perjalanan ke bandara, dan bahkan dalam penerbangan ke Surabaya pun saya tetap cegukan. Malamnya ketika di Surabaya, saya sulit tidur karena cegukan yang tidak kunjung reda.

Hari Sabtu dan Minggu di Surabaya, saya dan istri berusaha mengobati dengan berbagai cara, namun apa daya si cegukan belum juga mau pergi. Mau pergi ke dokter spesialis di Surabaya, mana ada dokter spesialis yang buka praktek hari Sabtu dan hari Minggu. Istri saya berpesan supaya begitu sampai di Jakarta segera ke dokter spesialis untuk periksa lebih intensif dan semoga bisa segera sembuh. Begitulah, hari Senin pagi, minta ijin dari kantor, saya mencari dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit terdekat ke kantor. Saya tidak dapat menggunakan fasilitas BPJS, karena untuk ke dokter spesialis penyakit dalam, saya harus dapat rujukan dari Puskesmas terlebih dahulu. Selain itu belum tentu dokter Puskesmas mau memberi rujukan BPJS untuk penyakit “sederhana” seperti cegukan. Saya menuju sebuah rumah sakit di bilangan kantor Bank Indonesia, ternyata dokter spesialis penyakit dalam hanya praktik pada Rabu sore di rumah sakit itu.

Akhirnya saya memutuskan ke Rumah Sakit Carolus, saya segera mendaftar ke bagian pendaftaran. Sebenarnya menunggu dokter spesialis penyakit dalam setelah pendaftaran di bagian administrasi tidak terlalu lama. Tapi dengan cegukan yang tidak kunjung berhenti, menunggu dokter datang menjadi terasa sangat lama. Saya ingin segera diperiksa dan berharap dokter spesialis penyakit dalam itu punya resep ajaib untuk menyembuhkan cegukan yang semakin menyebalkan ini.

Begitu saya berhadapan dengan dokter spesialis yang terlihat sudah cukup senior itu, saya katakan kalau sejak hari Kamis hingga Senin ini saya cegukan dan tidak berhenti. Dokter bertanya asal mulanya, dan saya menceritakannya dan menunjukkan antibiotik dan suspensi (sirop) Inpepsa Sucralfate yang saya dapatkan dari dokter sebelumnya. Si dokter menyuruh saya rebahan dan memeriksa dengan stetoskopnya, saya perhatikan stetoskop hanya dilekatkan ke beberapa bagian dada saya dan perut, di setiap titik, stetoskop itu hanya ditempelkan selama beberapa detik. Saya bertanya-tanya dalam hati, apakah dokter ini benar-benar memeriksa dengan stetoskopnya atau sekedar memenuhi prosedur basa-basi, kalau dia sudah menggunakan stetoskop untuk memeriksa pasien. Tapi saya tidak berani menanyakan langsung, kuatir si dokter tersinggung. Setelah merapikan pakaian, saya bertanya apa penyebab cekugan saya.

Itu disebabkan oleh gas asam lambung yang naik ke tenggorokan dan kebetulan saluran dari lambung ke dan tenggorokan mengalami gangguan sehingga cegukan dan suara terdengar keluar dari dalam mulut. Ini saya ganti antibiotik dan saya tambahkan tiga obat lainnya, salah satunya membuat ngantuk”, begitu penjelasan si dokter. Dia juga memberi surat istirahat untuk dua hari. Di resep dokter itu tertulis: “Primperan 10 mg tab sebanyak 10 tablet, Lansoprazole 30 mg cap sebanyak 10 kapsul, Ciproxin XR 500 mg tab sebanyak 5 tablet, dan obat racikan sebanyak 10 kapsul. Obat racikan itu mungkin semacam pamungkas sang dokter, karena dokter tidak menuliskan komposisi obat racikan secara lengkap. Dengan obat dan surat itu saya ingin kembali ke rumah untuk tidur dan istirahat. Di perjalanan menuju rumah, atasan saya menelepon mengatakan bahwa ada tamu menunggu beliau, tapi karena beliau ada acara lain, meminta saya menemui tamu itu. Terpaksalah saya kembali ke kantor.

Saya kembali ke kantor, dan menemui sang tamu. Sambil cegukan saya berusaha melayani semua pertanyaan tamu, hingga dia pulang. Begitu tamu pergi, saya minum obat yang baru saya dapatkan. Sekitar 10 menit kemudian, saya merasakan kantuk yang sangat berat. Saya tidak mau tertidur di kantor, karena itu saya putuskan pulang ke rumah, untungnya jarak dari kantor ke rumah hanya sekitar 8 kilometer. Menyetir dalam kondisi ngantuk, sangat berat saya rasakan, saya hanya menjalankan kendaraan perlahan-lahan. Sangat berbahaya sebenarnya menyetir dalam kondisi mengantuk, tapi tetap saya paksakan juga. Akhirnya saya bisa sampai di rumah dengan selamat, lalu merebahkan diri. Tak lama kemudian terlelap.

Sore hari saya terbangun, tapi cegukan ternyata tidak hilang juga. Saya merasa lelah sekali dengan cegukan ini. Sampai jam 10 malam, cegukan tidak hilang. Karena merasa sangat terganggu, saya meminta anak saya untuk menemani saya ke RSI di Cempaka Putih. Kedua anak saya mengantar menuju instalasi rawat darurat (IRD) RSI Cempaka Putih. Saya berharap dengan ke IRD supaya bisa menjalani rawat inap supaya penyakit saya dapat dimonitor dengan baik. Ternyata malam itu, banyak juga orang yang sedang menunggu perawatan. Meski saya merasa tersiksa oleh cegukan yang tidak kunjung berhenti, di IGD ada pasien lain yang membutuhkan pertolongan yang lebih segera, ada pasien yang yang kondisinya lebih buruk dari saya, jadi saya harus menunggu untuk mendapatkan pemeriksaan.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, seorang dokter muda memeriksa dan mengajukan beberapa pertanyaan. Sekali lagi saya ceritakan bagaimana saya mulai mengalami cegukan sampai obat yang diberi dokter spesialis penyakit dalam. Tak lama kemudian dokter meninggalkan saya dan bilang akan kembali lagi. Seorang perawat  datang bertanya apa mau diberi obat pil atau disuntik. Saya bilang disuntik saja biar obatnya lebih cepat bereaksi. Kemudian saya disuntik oleh si perawat. Ruangan di IGD itu cukup dingin dan saya tidak membawa jaket, selimut tipis yang diberi perawat tak mampu menahan dinginnya ruangan. Sampai sejauh itu, saya tidak berkurang frekuensi cegukannya. Setelah terbaring di IGD selama hampir sejam, dokter datang lagi melihat keadaan saya, lalu dokter menyarankan saya pulang saja dan istirahat di rumah. Tak lupa ia juga menambahkan obat lain, sekitar jam 01 pagi saya pulang dari IGD dengan cegukan yang tidak kunjung sembuh. (bersambung).

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s