Kehangatan yang menyembuhkan

……. (lanjutan)

Setelah pulang dari IGD RSI Cempaka Putih, saya mencoba tidur. Meski sudah menenggak obat tidur yang diberikan dokter, dengan cegukan yang terus menerus, tidur menjadi suatu yang sangat sulit dan sukar. Menjelang pagi, saya bisa terlelap sebentar. Ketika terbangun, ternyata masih jam 5 pagi. Meski masih terasa lelah, saya mesti ke kantor juga. Saya mau ambil istirahat hari Kamis dan Jumat saja (dokter memberi surat istirahat cuma dua hari), biar bisa disambung sampai Sabtu dan Minggu istirahat di rumah. Saya benar-benar membutuhkan istirahat yang cukup panjang dengan kondisi cegukan yang tidak berhenti. Sebenarnya ke kantor dengan kondisi cegukan sangat tidak nyaman, apalagi ditambah karena kurang tidur. Bekerja sangat tidak nyaman dan tidak efektif, tapi saya paksakan juga. Sejauh ini, obat-obatan yang diberikan dokter oleh tiga tidak dapat mengurangi cegukan saya.

Masuk kantor hari Senin, dan Selasa, begitu juga hari Rabu, tapi cegukan tidak berhenti. Rabu itu saya pesan supaya anak saya pulang cepat, supaya bisa menemani dan mengantar saya ke Rumah Sakit di sore hari. Dengan obat yang masih banyak, saya putuskan untuk ke rumah sakit lagi. Kali ini saya pergi ke RSPAD Gatot Soebroto, diantar oleh kedua anak saya. Karena sore, saya sengaja menuju IGD, supaya segera ditangani. Sama halnya seperti di RSI Cempaka Putih, IGD RSPAD juga banyak pasien, bermacam-macam penyakit darurat yang harus ditangani oleh tim medis. Ternyata penyakit cegukan seperti saya dianggap hanya penyakit sederhana, (walau saya merasa sangat tersiksa) karena itu saya dibiarkan menunggu cukup lama. Saya harus terbaring selama hampir  satu jam sampai akhirnya seorang dokter muda menghampiri.

Setelah ditanya dan diperiksa, saya minta agar saya bisa dirawat inap, karena sudah sangat capek dengan sakit cegukan. Si dokter muda mengatakan, ia harus konsultasi dulu dengan supervisornya. Sementara itu saya kembali diberi obat tambahan untuk mengatasi cegukan. Selang beberapa waktu, dokter tadi kembali menemui saya dan mengatakan agar sebaiknya saya istirahat di rumah saja, karena sudah diberi obat tidur dan obat penyeimbang hormon. Saya tidak diterima dirawat inap, meski saya sudah memohon. Dengan istirahat  di rumah si dokter yakin cegukan saya bisa hilang. Saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi, sehingga saya terpaksa pulang ke rumah dengan tetap cegukan.

Hari Kamis saya tidak masuk kantor. Di rumah, sendirian karena anak saya kuliah dan bekerja, terasa sangat lama. Kadang saya tertidur sebentar karena pengaruh obat tidur, tapi tak lama terbangun karena cegukan. Begitu terus sampai malam. Hari Jumat, saya tidak masuk kantor juga, masih tetap dengan kondisi yang sama dengan hari Kamis kemarinnya. Istri saya bolak-balik menelpon menanyakan perkembangan penyakit cegukan. Akhirnya istri memutuskan untuk datang sendiri ke Jakarta hari Jumat malam untuk melihat kondisi cegukan saya. Hari Sabtu pagi, saya masih tetap cegukan, tidak ada perubahan dengan hari-hari sebelumnya. Saya memang bisa melakukan beberapa aktivitas, tapi tetap dengan cegukan.

Hari Sabtu itu kami berempat, saya, istri dan kedua anak sepakat untuk makan siang di luar. Kami putuskan untuk menuju pusat perbelanjaan di kawasan Cempaka Putih.  Istri saya ingin melihat-lihat pusat perbelanjaan yang baru saja direnovasi itu. Siang itu pengunjung sangat ramai, semua cafe dan restoran penuh, begitu pula pusat perbelanjaan. Karena pengunjung sangat ramai, saya minta ijin tidak ikut mendampingi istri melihat-lihat, dan saya bilang saya akan menunggu sambil minum di salah satu cafe. Ternyata semua cafe penuh, hampir tidak ada tempat duduk yang kosong. Saya kemudian terpaksa berjalan keluar pusat perbelanjaan yang ruangannya berAC. Saya duduk di salah satu kursi yang terdapat diluar ruangan. Cuaca cukup cerah, sehingga tidak terasa saya merasa kepanasan dan berkeringat duduk di luar ruangan.

Setelah sekitar 15 menit berada di luar ruangan, ternyata cegukan saya mulai reda, dan lama kelamaan mulai hilang. Saya mulai berpikir, apa yang menyebabkan cegukan saya menjadi hilang, tapi saya belum menemukan jawabannya. Sekitar setengah jam kemudian, anak saya menelpon bilang bahwa saya ditunggu di salah satu restoran untuk makan siang. Kemudian saya menuju tempat yang disebutkan anak saya. Kami makan bersama, restoran itu berada di dalam pusat perbelanjaan dan dilengkapi dengan AC. Selang beberapa menit, di dalam restoran, saya kembali mengalami cegukan. Saya ceritakan kepada anak dan istri bahwa ketika menunggu di luar tadi cegukan saya hilang, dan sekarang muncul lagi. Lalu saya bilang: “Jangan-jangan cegukan ini karena saya berada di ruangan yang dingin”. Tadi di luar yang panas, cegukan hilang, sekarang di ruangan ber AC, cegukan muncul lagi. Selama seminggu ini, di kantor, di mobil, di rumah sakit dan di rumah, semua ruangan dan mobil ber AC dan dingin.

Selesai makan, saya ke luar ruangan lagi untuk mencoba apakah cegukan akan hilang atau tidak. Anak dan istri kembali saya minta menunggu sambil melihat-lihat di tempat belanja, sementara saya akan berada di luar ruangan yang tidak ber AC. Dugaan saya benar, ketika saya kembali berada di luar ruangan, cegukan tidak muncul lagi. Akhirnya kami kembali ke rumah, kali ini AC mobil dimatikan, sehingga saya tidak terpapar dengan udara dingin, sesampai di rumah, AC juga tidak dihidupkan. Setelah saya tidak berada di ruangan dingin, ternyata cegukan tidak berani muncul. Hari Sabtu malam itu, saya malah sengaja tidur dengan baju hangat, dan meski merasa gerah, tapi cegukan tidak ada. Anak dan istri terpaksa menyesuaikan dengan kondisi tubuh saya yang tak tahan dingin, saya masih minum obat batuk, karena batuk belum hilang sampai hari itu.

Besoknya, saya kembali melakukan aktivitas dengan istri dan anak di ruangan yang tidak ber AC. Saya menyimpulkan bahwa cegukan saya disebabkan oleh ruangan dingin, walaupun dimulai dengan radang tenggorokan. Karena itu saya selalu memakai jaket atau baju hangat agar terhindar dari udara dingin. Hari Senin saya kembali masuk kantor dengan memakai jaket, karena AC di ruangan saya merupakan AC sentral, jendela saya buka lebar-lebar supaya udara hangat masuk dari luar untuk mengusir udara dingin. Begitupun, jaket tetap saya pakai sepanjang hari.

Begitulah penyakit cegukan, ada 3 rumah sakit yang saya datangi untuk menyembuhkan, ternyata tidak berhasil mengusir cegukan. Saya sendiri yang menemukan penyembuhan penyakit cegukan saya yang cukup hanya dengan kehangatan.

 

 

2 thoughts on “Kehangatan yang menyembuhkan

    • Ya bu, kehangatan memang asik. Apalagi kalau sudah ada faktor U, mungkin sebelumnya masih oke saja di udara dingin, kalau faktor U muncul, cerita jadi lain…..

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s