Head to head Hillary vs Donald

dossier of HillarySuka atau tidak suka, pemilihan Presiden Amerika Serikat menjadi perhatian dunia. Beritanya tidak cuma ada di saluran-saluran berita politik Internasional, tapi media sosial abal-abal yang ada di Indonesia juga ikut mengulas Pilpres Amerika. Sudah hampir dipastikan bahwa kedua partai peserta Pilpres Amerika Serikat, Partai Demokrat dan Partai Republik akan memajukan Clinton dan Trump untuk beradu di panggung Pilpres Amerika bulan November 2016 nanti. Partai Republik lebih dulu meresmikan Trump sebagai calon resmi, setelah pengusaha eksentrik itu mengalahkan kandidat partai Republik lainnya. Dari Partai Demokrat tidak ada kandidat yang bisa mengalahkan Hillary Clinton sebagai jagoan mereka. Kandidat Partai Demokrat lain, termasuk Bernie Sanders sudah menyerah dan memproklamirkan akan mendukung Hillary Clinton sebagai Calon dari partainya. Tentu akan lebih seru mengamati perebutan kursi Gedung Putih antara dua kandidat yang sama-sama punya “disadvantages“.

Saya sebenarnya tidak tertarik mengamati politik, apalagi politik di Amerika Serikat, saya cuma penasaran memperhatikan perilaku mereka yang bertarung untuk menjadi orang (paling) berpengaruh di seluruh jagat ini. Presiden Amerika mempunyai pengaruh yang kuat bagi dunia, baik itu bagi penentangnya termasuk para pembenci Amerika, maupun bagi pihak lain yang tak ada kaitan langsung dengan Amerika. Saya lihat menjelang Pilpres di Amerika, media di sana penuh dengan berita pertarungan yang betul-betul seru. Dalam kampanye kedua kubu saling serang, dan saling memojokkan. Trump tidak segan-segan mengatakan kalau Clinton sebagai koruptor, penipu dll. Sebaliknya, Clinton juga menyebut Trump sebagai monster, pembohong. Masing-masing kubu menjelekkan lawannya dengan amat kasar. Kata-kata yang digunakan kedua belah pihak sangat vulgar, kotor, sarkatik dan kata-kata kebencian. Saya tidak tau apakah ujaran kebencian (hate speech) tidak menjadi masalah selama menjelang Pilpres.

Lawan-lawan Clinton bahkan sampai membuat buku dan film untuk menjatuhkan Clinton. Salah satu buku yang menjelek-jelekkan Clinton sedang saya baca, diberi titel: The Vast Right Wing Conspiracy’s Dossier on Hillary Clinton. Buku yang ditulis oleh Amanda Carpenter membongkar kelakuan “menyimpang” Hillary Clinton dan suaminya Bill Clinton di berbagai kesempatan,  mencoba mengungkap kelemahan mantan First Lady Amerika itu. Tidak cukup hanya membuat buku, lawan-lawan politik Partai Demokrat, dan politik Hillary Clinton, sampai membuat sebuah film tentang keburukan Partai Demokrat berjudul Hillary’s America, The Secret of the Democratic Party. Film ini akan mulai diputar di Amerika 22 Juli ini.

hillary the movie

 

Akan halnya lawan Donald Trump, mereka juga tidak tinggal diam. Donald dikritik, dimaki, dihujat dengan segala macam kata-kata dan betuk yang sangat buruk, Barangkali semua keburukan dan kejahatan dialamatkan kepada pengusaha kasino itu. Donald sendiri memang sering membuat pernyataan yang sangat kontroversial. Seluruh dunia sudah tahu kalau Donald Trump mengatakan akan menolak imigran masuk ke Amerika. Sayangnya Trump tidak konsisten, istrinya Melania, adalah mantan imigran kelahiran Jugoslavia. Kalau mau mengusir imigran, mestinya yang pertama harus diusir Trump adalah istri ketiganya itu.

Mungkin, ini mungkin saja, itulah sebabnya Trump diejek sebagai idiot, seperti dalam spanduk dibawah ini.

trump idiot

Pinjam foto Trump dari sini.

Lawan Trump bahkan sampai membuat meme yang sangat kasar tentang istri Trump.

melania trump

Meme Melania Trump diambil dari sini. Meme ini sudah sangat sarkastik, tidak mau tau lagi tentang pribadi orang. Melania Trump, yang aslinya bernama Melanija Knavs, di masa mudanya adalah seorang model. Ia sering muncul dalam berbagai majalah mode. Gambar diatas diduga diambil dari majalah, kemudian dikemas menjadi seperti itu. Tujuannya jelas, ingin menjatuhkan Donald Trump.

Kedua calon presiden Amerika itu juga berperang di sosial media. Di Twitter, keduanya saling menghujat satu sama lain. Donald yang membuat akun di Twitter sejak tahun 2009 sudah mempunyai hampir 10 juta follower. Sementara Clinton, follower nya baru sekitar 7,5 juta. Tapi Clinton baru membuat akun Twitter pada tahun 2013. Hujat menghujat di Twitter antara Clinton dan Trump saya lihat sudah menjadi agak konyol. Keduanya terlihat kekanak-kanakan menyerang lawan. Tapi itulah perebutan kekuasaan. Itulah perang yang sangat besar.

Kekuasaan memang sangat menggoda, apalagi kekuasaan yang dimiliki Preiden Amerika. Tidak heran kalau apa saja dilakukan supaya bisa menjadi pemegang kekuasaan. Satu hal yang menarik saya perhatikan tentang Pilpres Amerika adalah, meski mereka saling menghujat dan saling menyerang di saat kampanye, begitu selesai Pilpres, dan sudah ada pemenangnya. Yang kalah bisa langsung move on, sportif mengakui kekalahannya dan memberi selamat kepada pemenang.

Tradisi sportif itu sudah berlangsung lama di Amerika. Lihat saja ketika Barack Obama mengalahkan calon Presiden Partai Republik John Mc Cain di tahun 2008, begitu quick count mengumumkan bahwa Obama keluar sebagai pemenang, Mc Cain langsung menelepon Obama menyampaikan ucapan selamat. Padahal hampir selama setahun sebelumnya Obama dan Mc Cain saling menghujat ketika kampanye. Di tahun 2012, Obama menang lagi, Capres Partai Republik kala itu Mitt Romney pun melakukan hal yang sama dengan Mc Cain.

Karena itu meski sekarang Donald Trump dan Hillary Clinton seperti musuh bebuyutan yang ingin saling menerkam, nantinya mereka akan menjadi berteman lagi. Siapapun yang menang, apakah Clinton atau Trump, keduanya akan berbaikan lagi. Seketika perang Pilpres berakhir, kedua kubu menjadi sobat lagi. Hebatnya, tim sukses kedua kubu pun bisa langsung move on, kembali ke kebiasaan lama, business as usual, seolah Pilpres hanya sebuah pertandingan biasa yang sudah selesai.

Sebelum Pilpres, Cilnton dan Trump terlihat sangat kompak, setidaknya itu yang terekam dalam gambar di bawah ini. Foto ini menunjukkan, pasangan Clinton diapit oleh Donald dan istrinya Melania di tahun 2005. Ekspresi keempat orang ini begitu kompak dan mesra.

Trump Clinton 2005

So, jadi pastilah Clinton dan Trump akan akur-akur lagi.  Foto mesranya Clinton dan Trump.

Lalu bagaimana dengan kelakuan orang pada Pilpres Indonesia?? Wah ini susah menjawabnya. Pilpres Indonesia sudah selesai bulan Juli 2014, tapi sampai hari ini masih banyak yang belum bisa move on. Entahlah bagaimana kita ini. Apa DPR perlu studi banding ke Amerika??? Wallahualam….

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s