Terminal 3 Bandara Cengkareng

IMG20160809153313[1]Sejak dioperasikan tanggal 9 Agustus lalu, saya sudah 4 kali ke terminal bandara yang konon termegah di Indonesia itu. Kunjungan pertama ya pada hari pengoperasian tanggal 9 Agustus, kunjungan kedua pada tanggal 15 Agustus, yang ketiga tanggal 18 Agustus, dan ke empat tgl 20 Agustus 2016. Dari semua kunjungan itu, ada beberapa catatan yang mau tidak mau terpaksa harus saya buat. Semula saya tidak bermaksud mempublish catatan itu, tapi kemudian saya pikir terlalu sayang kalau tidak diketahui orang, syukur-syukur pengelola bandara, PT Angkasa Pura II, bisa merespon catatan ini, dan kemudian melakukan penyempurnaan kalau dianggap perlu. Saya membuat catatan ini bukan untuk mengkritisi siapa-siapa, saya hanya berharap supaya ada peningkatan pelayanan kepada pengguna bandara seperti yang direncanakan.

Ketika dioperasikan tgl 9 Agustus 2016, sudah dinyatakan secara jelas, bahwa terminal yang kapasitas rancangan mampu melayani 25 juta penumpang pertahun, baru dioperasikan dengan kapasitas 40 persen dari kapasitas terpasang, dioperasikan baru untuk melayani penumpang Garuda penerbangan domestik. Sisa 60% kapassitas nantinya akan dipakai untuk melayani penerbangan internasional. Pengoperasioan sebagian ini dilakukan, karena terminal 3 yang lama harus direnovasi terlebih dahulu supaya sesuai dengan keseluruhan rancangan terminal. Kenapa dioperasikan segera, karena daya tampung Bandara Soekarno Hatta secara keseluruhan sudah melampaui kapasitas, terutama Terminal 1 dan Terminal 2. Bayangkan, ketika dirancang, Terminal 1 dibuat untuk melayani 9 juta penumpang pertahun, Terminal 2 juga dengan kapasitas yang sama, jadi total Terminal 1 dan Terminal 2 sebenarnya hanya dirancang untuk melayani 18 juta penumpang pertahun. Kenyataannya pada tahun 2015 yang lalu, penumpang yang menggunakan Bandara Soekarno Hatta berjumlah 54 juta penumpang. Bahkan pada tahun 2014, jumlah penumpang sempat mencapai 63 juta orang. Maka tidak heran kalau selama beberapa tahun terakhir ini, Bandara Soekarno Hatta terasa sesak.

Karena itulah, pengoperasian Terminal 3 dirasakan sangat mendesak. Awalnya Terminal 3 direncanakan akan dioperasikan sebelum Lebaran 2016, dengan maksud agar masyarakat yang mudik melalui Bandara Soekarno Hatta bisa agak lebih baik pelayanannya. Tetapi, rupanya pada saat itu, pengoperasian belum bisa dilaksanakan, karena dianggap belum layak secara teknis. Menteri Perhubungan saat itu, Ignasius Jonan, menunda pengoperasian bandara Soekarno Hatta. PT Angkasa Pura II diminta untuk menyempurnakan semua hal, agar Terminal itu benar-benar siap secara teknis operasional dan tidak mengganggu kenyamanan penumpang. Rencana pengoperasian dari akhir bulan Mei 2016, diundur.  Menteri Perhubungan yang baru, Budi Karya Sumadi, yang sebelumnya adalah Direktur Utama PT Angkasa Pura II, menyetujui pengoperasian dan ditetapkan supaya dioperasikan pada 9 Agustus 2016.

Terminal 3 Soekarno Hatta memiliki beberapa keunggulan. Selain kapasitas yang lebih besar, ada beberapa fasilitas yang selama ini belum tersedia di Terminal 1 maupun Terminal 2. Terminal 3 dilengkapi dengan self check-in yang memberikan kemudahan pada penumpang untuk melakukan check-in mandiri tanpa harus mendaftar kepada petugas di loket. Beberapa perusahaan penerbangan sebenarnya sudah melakukan ini seperti Air Asia dan Citilink. Seingat saya selama ini Garuda belum mempunyai fasilitas ini. Fasilitas lainnya adalah “self baggage check-in“, dimana penumpang bisa melakukan check-in barang sendiri tanpa melalui petugas di loket. Dengan fasilitas ini penumpang menuju alat self check-in, kemudian meletakkan barangnya di atas tempat yang tersedia yang sudah dilengkapi timbangan. Bila sudah ditimbang, maka penumpang bisa menekan tombol-tombol sesuai perintah pada layar monitor, kemudian alat akan mencetak kartu barang yang akan dilekatkan pada barang, dan juga kartu bagi penumpang. Alat akan menunjukkan berat barang dan tujuan sesuai tiket penumpang setelah memasukkan kode buking dan informasi lainnya.

Wujud fisik dari self baggage check-in seperti pada foto dibawah ini. Sayangnya sampai tanggal 18 Agustus 2016, fasilitas self baggage check-in ini belum berfungsi.

IMG20160815133906[1]

Fasilitas self check-in juga disediakan seperti pada foto berikut.

IMG20160818080731[1]

Fasilitas self check-in di Gate D ini juga belum berfungsi pada tgl 18 Agustus 2016.

Kelebihan lain dari Terminal-3 adalah apresiasi terhadap seni. Beberapa karya seni dipajang di beberapa titik, mulai dari keberangkatan sampai bagian kedatangan. Ada yang berupa lukisan, patung, serta “seni instalasi”. Salah satu lukisan yang kontroversial adalah lukisan yang di bawah ini.

IMG20160809153232[1]

Foto ini saya buat pada hari pengoperasian tgl 9 Agustus 2016, lukisan yang menampilkan sejumlah tokoh, dan terutama tokoh Soekarno Hatta. Sebagai sebuah lukisan, saya kira sangat bagus, meski tidak mudah untuk melihatnya. Saya tidak sempat memperhatikan secara detail, siapa saja tokoh yang ada dalam lukisan itu. Tapi dari berbagai informasi di media sosial, konon katanya ada lukisan Aidit, tokoh PKI. Karena adanya lukisan Aidit, itu, kemudian berbagai komentar muncul di media sosial. Entah karena didemo, atau karena inisiatif dari PT Angkasa Pura II, lukisan kontroversial ini kemudian diturunkan. Ketika saya ada di sana tgl 15 Agustus, lukisan ini sudah tidak dipajang lagi. Bagi saya, ini adalah lukisan, kebebasan pelukis mestinya tidak dipasung meski ada lukisan Aidit di dalamnya. Mungkin si pelukis hanya melihat bahwa Aidit pernah tercatat sebagai gembong PKI di Indonesia, karena itu dimasukkanya juga dalam lukisan.
IMG20160809154134[1]

Foto ini adalah “seni instalasi”, pelukis asal Yogya, Nasirun, melukis badan mobil dan dipajang di Terminal 3. Paling tidak ada 3 buah mobil yang dilukis Nasirun di Terminal ini, ada di bagian keberangkatan, dan di bagian kedatangan.

 

IMG20160815140742[1]

Pada tanggal 15 Agustus 2016 lalu ada panggung Pentas Budaya di bagian keberangkatan Terminal 3, waktu itu saya tanya tentang pentas budaya itu kepada salah seorang petugas disana, katanya Pentas Budaya ini akan rutin dilaksanakan untuk menampilkan berbagai seni dan budaya Nusantara. Sewaktu saya ke sana tanggal 18 Agustus 2016, panggung ini sudah tidak ada.

Dengan berbagai fasilitas dan sarana yang dimiliki Terminal 3, saya mendapati beberapa hal yang menurut saya perlu diperbaiki dan disempurnakan agar pelayanan dan penampilan Terminal 3 ini benar-benar mantap. Pertama adalah kesiapan sarana, di Terminal 3 terdapat beberapa kantor instansi Pemerintah sesuai dengan fungsi masing-masing. Salah satunya adalah kantor Ditjen Bea Cukai. Dalam rancangan awal, kantor Ditjen Bea Cukai yang terletak di lantai dasar tidak memakai penutup ruangan, sehingga ruangan akan terlihat dari bagian kedatangan di lantai 2. Desain ruangan di dalam terminal memang dibuat terbuka, sesuai dengan rancangan arsitektur terminal. Tetapi rupanya pihak Ditjen Bea Cukai merasa tidak “nyaman” dengan keterbukaan tersebut, sehingga meminta Angkasa Pura untuk membuat penutup ruangan.  Tentu saja permintaan Ditjen Bea Cukai tersebut akan merusak nilai estetika arsitektur bangunan, selain itu Ditjen Bea Cukai terkesan tidak mau terlihat ruangannya.

Yang kedua, yang menjadi perhatian masyarakat luas. Ketika hujan turun pada tanggal 12 dan 13 Agustus 2016, bagian kedatangan Terminal 3 tergenang air hujan, banjir. Langsung saja banjir Terminal 3 menjadi perbincangan yang ramai di media sosial. Berbagai foto dan video muncul di media sosial dan menjadi trending topic. Saya sempat melihat video yang menunjukkan derasnya air yang muncrat dari manhole saluran drainase yang ada di bagian pelataran kedatangan.

IMG20160820133523[1]

Yang ketiga adalah fasilitas shelter Damri di Terminal 3. Foto yang diambil tanggal 20 Agustus 2016 di atas menunjukkan bahwa shelter Bus Damri ditempatkan di Plaza Terminal 3, yang tidak dilengkapi peneduh. Penumpang yang baru tiba di Soekarno Hatta yang hendak melanjutkan dengan Bus Damri harus menunggu di terik matahari yang sangat panas. Kalau sampai turun hujan, maka penumpang akan basah kuyup sebelum masuk ke dalam bus Damri. Pihak PT Angkasa Pura nampaknya seolah tak mempedulikan orang yang akan naik bus Damri. Shelter kendaraan pribadi dan taksi ditempatkan persis di depan pintu keluar  bagian kedatangan, sementara mereka yang akan naik bus Damri (yang ongkosnya lebih murah) harus berjalan lebih jauh, kemudian berdiri di terik matahari. PT Angkasa Pura rasanya tidak adil. Apakah memang PT Angkasa Pura menganak tirikan masyarakat yang kemampuan keuangannya lebih rendah?

IMG20160820133647[1]

Calon penumpang bus Damri di shelter (?) menunggu kedatangan bus yang cukup lama. Calon penumpang anak-anak, dan orang tua yang akan naik Bus Damri menunggu seperti ini bisa menjadi sakit. Calon penumpang bus Damri yang terlantar di Plaza Terminal 3, dengan latar belakang bangunan parkir.

Yang keempat adalah kurang apiknya finishing dari Terminal 3. Entah kenapa kabel CCTV dalam foto di bawah ini tidak ditempatkan dengan rapi. Saya kebetulan mengamati beberapa “temuan” di sekitar Gate 13 keberangkatan Garuda. Kabel CCTV dalam foto di bawah ini cukup berbahaya, karena akan mudah rusak, aplagi kalau ada orang tanpa sengaja membuat kabel itu putus.

IMG20160818092858[1]

Foto di bawah menunjukkan pekerjaan yang kurang rapi pada finishing nat. Bisa jadi pekerjanya sudah capek, atau kurang trampil sehingga melakukan pekerjaan asal-asalan.

IMG20160818093518[1]

 

Bagian lantai keramik ada yang rusak. Sudah diperiksa, dan diberi tanda untuk diganti. Kalau melihat tulisannya, pemeriksaan dilakukan tanggal 20 Juli 2016, tapi sampai tanggal 18 Agustus belum diganti juga. Kalau hanya melihat foto, tidak terlihat dengan jelas kerusakan keramik tersebut.

IMG20160818093542[1]

Saya masih menemukan tanda keramik yang lainnya di dekat Gate 13, terlihat tulisan meminta supaya diganti.  Bisa jadi masih banyak kekurangan-kekurangan lain yang terdapat di Terminal 3 Soekarno Hatta yang tidak sempat diperhatikan oleh pengawas atau orang awam.

IMG20160818093759[1]

 

Sewaktu Wakil Presiden Jusuf Kalla mengunjungi Terminal 3 tanggal 15 Agustus 2016, Pak JK berpesan kepada Angkasa Pura II agar dalam 6 bulan setelah pengoperasian Terminal 3  dicatat semua kekurangan yang ada dan dicek setiap bulannya, apa saja yang terjadi dan segera  dilakukan perbaikan dan penyempurnaan. Jajaran Direksi PT Angkasa Pura II berjanji kepada Wakil Presiden, semua hal akan diteliti dan diperbaiki. Mudah-mudahan janji tidak sekedar janji.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s