Gereja di Jaman Generasi Y

img201610231056271Sebagai orang yang masuk kelompok generasi baby boomer, memahami fenomena generasi Y tidaklah segampang yang dipikirkan. Situasi dan lingkungan pada jaman generasi baby boomer dibesarkan mempengaruhi perilaku, dan kebiasaan para generasi baby boomer . Itu juga yang terasa ketika saya menghadiri ibadah kebaktian di kawasan Kasablanka, Jakarta baru-baru ini. Ada banyak sekali hal yang berbeda dibandingkan dengan kebaktian dan ibadah yang pernah saya ikuti selama ini. Itu pertama kali saya ikut kebaktian di tempat itu, sementara anak saya sudah pernah kebaktian di sana sebelumnya. Ketika hari Sabtu saya mengutarakan mau tau kebaktian di Kasablanka, anak saya kemudian googling untuk mengetahui jam kebaktian. Kata anak saya Dennis kalau mau dapat tempat duduk di kebaktian itu, mesti datang jauh lebih pagi, kalau tidak alamat tidak dapat kursi, karena jemaat penuh. Kami kemudian memutuskan untuk kebaktian jam 10 pagi, karena itu dengan mempertimbangkan jarak, Dennis bilang sebaiknya berangkat dari rumah jam 8 pagi.

Rupanya minggu pagi itu jalanan Jakarta agak lengang meski sebagian cukup padat karena ada ruas-ruas jalan yang ditutup dalam rangka Jakarta Maraton 2016. Sekitar jam setengah sembilan kami sudah sampai di pusat pertokoan Kasablanka. Sebagian besar pintu masuk pertokoan ini masih tutup, demikian pula eskalator masih banyak yang belum beroperasi. Dennis dan saya tidak tau persis pintu mana yang terdekat menjuju ruang kebaktian yang berada di lantai teratas pertokoan ini. Setelah naik tangga dua tingkat dari parkiran di basement 1, barulah kami ketemu petugas sekuriti yang bisa menunjukkan eskalator yang sudah beroperasi. Jam 9 kurang seperempat kami sudah tiba di depan pintu masuk ruang kebaktian, ternyata kebaktian sebelumnya belum selesai.

Tapi yang membuat saya surprise adalah jemaat yang mau ikut kebaktian. Pintu ruang kebaktian ada 3 yang berukuran besar. Ketika kami sampai di hall di depan pintu masuk, di depan masing-masing pintu sudah berdiri sejumlah orang yang antri mau kebaktian jam 10, padahal kebaktian sebelumnya belum selesai. Antrian sudah mulai sekitar jam 08.45. semakin lama jumlah jemaat yang antri semakin banyak, pintu masih tertutup. Sekitar jam 09.15 antrian jemaat sudah seperti dalam foto di bawah ini.

img201610230908261

Jemaat antri menunggu pintu dibuka.

Beberapa saat sebelum pintu dibuka jam 09.30, antrian jemaat di depan pintu sudah seperti foto di bawah ini. Saya mengambil foto ini juga dalam posisi antri di depan pintu paling kiri.

img201610230920161

Antrian jemaat berputar menunggu pintu di buka.

Mayoritas jemaat yang datang ke kebaktian ini adalah kaum muda. Sebagaimana umumnya kaum muda, penampilan dan pakaian mereka sangat casual. Saya sudah diberi tahu Dennis tentang hal ini, jadi sayapun juga datang ke kebaktian ini dengan pakaian kasual juga. Jam 09.30 pintu dibuka, antrian jemaat buru-buru masuk dan memilih duduk di deretan kursi paling depan. Selama ini kalau saya ke gereja, biasanya kursi yang duluan penuh adalah deretan belakang. Tapi di sini sebaliknya, bahkan sebelum kebaktian mulai, kursi-kursi sudah penuh.

Gedung kebaktian cukup besar berbentuk empat persegi. Di depan terdapat panggung besar dan sudah terdapat perlengkapan musik seperti drum, gitar, keyboard dan tentu peralatan pendukungnya. Saya perhatikan akustik gedung ini cukup baik, ada dinding yang dilengkapi peredam suara. Loud speaker besar tergantung di kiri dan kanan panggung. Peralatan lampu panggungnya juga lengkap dan modren seperti terlihat dalam foto di bawah ini. Terdapat satu layar elektronik besar di belakang panggung, dan di kiri kanan panggung tergantung layar LCD raksasa. Gedung kebaktian ini terlihat seperti gedung pertunjukan konser musik besar. Sound system dan lighting system ruang kebaktian ini bikin iri pemusik yang biasa tampil di panggung sederhana.

img201610231005441

Gereja ini memanfaatkan semaksimal mungkin teknologi multimedia teranyar yang ada. Selain tata suara dan tata lampu yang canggih, layar multi media juga disiapkan dengan baik. Sebelum kebaktian dimulai, berbagai informasi yang berhubungan dengan kegiatan gereja disajikan melalui layar multi media termasuk acara-acara di luar gereja. Informasi disajikan sedemikian rupa seperti seolah-olah aplikasi di peralatan smartphone. Ada tampilan layar yang menunjukkan hitungan mundur saat mulainya kebaktian, yang menampilkan menit hingga ke detik. Beberapa menit sebelum jam 10, pemain musik mulai naik ke panggung, yang diikuti oleh para song leaders. Begitu layar count down menunjukkan jam 10 pas, layar langsung berubah dan musik segera mulai dan song leaders yang berjumlah 6 orang memimpin nyanyian yang liriknya tertera di layar besar di belakang panggung. Tanpa dikomando jemaat ikut berdiri dan menyanyi.

Selesai pujian pertama, barulah song leader yang dipimpin oleh Sari Simorangkir menyampaikan kata pembukaan. Menit berikutnya di layar tampil Breaking News. Awalnya saya kira breaking news mirip dengan yang ada di televisi, ternyata yang dimaksud dengan breaking news di gereja ini adalah Warta Jemaat yang dikemas dalam bentuk multi media berupa clip video. Kebaktian berlangsung dengan nyanyian pujian yang bersemangat, dipandu oleh para song leaders dengan gaya pertunjukan panggung yang baik sehingga jemaat ikut menyanyi tanpa dikomando. Teks atau lirik pujian tersaji di ketiga layar besar yang ada.

Tata ibadah mengalir seperti konser musik pertunjukan, pembacaan firman hanya singkat. Ada juga doa yang isinya semacam doa safaat, tapi lagi-lagi dikemas menyatu dengan lagu pujian tanpa ada jeda barang sejenak. Khotbah dilaksanakan oleh pelayan firman seperti gaya seorang motivator di panggung. Penguasaan panggung oleh pengkhotbah cukup baik. Ia bergerak dari satu posisi ke posisi lainnya sambil menjelaskan khotbahnya. Doa penutup dan berkat digabung menjadi satu seperti cuplikan video di bawah ini. Tidak ada alokasi waktu untuk menyampaikan persembahan. Pada informasi beberapa menit sebelum kebaktian, ada petunjuk tentang cara menyampaikan persembahan. Di layar ditampilkan slide yang menyatakan bahwa persembahan dalapat dilakukan melalui tiga cara yaitu: transfer langsung ke rekening gereja (nomor rekening dicantumkan), atau bisa juga dengan menggunakan mesin kartu debet yang loketnya ada di bagian depan pintu masuk gereja (agak jauh dari pintu masuk), atau dengan persembahan uang tunai yang dimasukkan dalam amplop kemudian dimasukkan ke beberapa kotak persembahan yang tersedia di sekitar lobby di depan pintu masuk gereja.

**

Sehabis kebaktian saya coba mencerna proses, format dan isi kebaktian yang baru saja saya ikuti. Jemaat yang rela berdiri dan antri sebelum acara ibadah dimulai merupakan fenomena yang menarik perhatian saya. Di beberapa gereja yang pernah saya datangi, banyak jemaat yang datang terlambat, kalaupun datang tepat waktu pada umumnya menempati tempat duduk di bagian belakang. Deretan kursi bagian depan biasanya longgar. Sementara di gereja ini, begitu pintu gereja dibuka, para jemaat buru-buru ke depan untuk dapat duduk di deretan kursi paling depan.

 

Gereja di jaman Generasi Y mungkin memang seperti itu? Di negara-negara maju banyak gereja yang semakin sepi, dan ada yang sampai harus menutup gereja, karena tidak ada lagi jemaat yang mau melakukan kebaktian di gereja. Saya tidak berani berandai-andai seperti apa nantinya komunitas gereja 10 tahun atau 20 tahun lagi. Bisa juga gereja di Indonesia semakin sepi jemaat, tapi bisa juga semakin banyak seperti di Gedung Kokas (Kota Kasablanka). Gereja di Kokas ini memberikan pelayanan kepada jemaatnya seperti, jemaat yang hadir tidak ubahnya seperti menonton konser musik. Bedanya di gereja ini, ada khotbah yang berada di tengah-tengah lagu pujian yang formatnya seperti konser musik pertunjukan.

Boleh jadi gereja ini tahu bentuk keinginan masyarakat yang tidak mau direpotkan dengan urusan-urusan formalitas, dan urusan administrasi. Banyak orang yang menganggap bahwa urusan ibadah dan kebaktian dianggap sebagai urusan bilateral antara seseorang dengan Tuhan. Karenanya format hubungan bilateral itu disesuaikan dengan kondisi dan keadaan orang tersbut dalam situasi kekinian. Pendekatan bilateral kekinian dengan Tuhan tidak harus mengikuti pola dan paradigma yang sudah dikenal sejak lama. Kalau hubungan bilateral dengan Tuhan dianggap sebagai urusan pribadi, maka bentuk pengejawantahan hubungan itu bisa juga dalam bentuk yang sangat situasional.

Saya tidak tahu, apakah itu yang tercermin dari kebaktian seperti yang di pertokoan Kasablanka.  Tapi saya melihat bahwa metoda pendekatan gereja perlu terus diperbaharui agar gereja jangan sampai ditinggalkan oleh jemaat. Tapi bisa juga saya keliru. Entahlah.

 

 

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s