Joy Flight di Banyuwangi

img201612081102261Ingat kejadian Sukhoi Superjet SSJ-100  yang menabrak Gunung Salak pada 9 Mei 2012 yang lalu dan menewaskan semua penumpang dan crewnya? Untuk diketahui Perusahaan Sukhoi ingin memperluas penjualan pesawat penumpang jet ke Asia dengan memperkenalkan pesawat SSJ-100 berkapasitas penumpang 108 penumpang. Ketika diperkenalkan di Indonesia, pesawat itu melakukan demonstrasi terbang yang disebut dengan Joy Flight. Penerbangan joy flight itu kadang juga disebut dengan demo flight atau penerbangan demonstrasi. Cilakanya penerbangan SSJ-100 dari Bandara Halim Perdana Kusuma itu berakhir dengan sangat tragis, pesawat menabrak tebing curam Gunung Salak dan menewaskan seluruh penumbang dan awak pesawat. Saya teringat dengan Joy Flight Sukhoi ketika ditawari untuk ikut Joy Flight di Bandara Blimbingsari Banyuwangi.

Sewaktu ditawari, saya tidak langsung menyetujui, karena joy flight yang ditawari adalah dengan pesawat Cessna dengan kursi penumpang hanya 2, ya penumpangnya hanya dua orang saja. Apalagi pilot yang akan menerbangkan adalah siswa Sekolah Pilot. Saya ya kuatir dalam hati, walau saya coba tenang. Rupanya Direktur Sekolah Pilot Banyuwangi memahami kekuatiran saya, lalu beliau minta agar pesawat dipiloti oleh Instruktur. Dengan memendam kecemasan, akhirnya saya iya kan untuk terbang dengan pesawat baling-baling yang sangat kecil itu. Saya berpikir, hitung-hitung ini pemecahan rekor saya untuk menaiki pesawat terbang terkecil. Tak lupa saya bilang supaya joy flight nya sekitar 15 menit saja.

img201612081102291Inilah pesawatnya dengan Pilot seorang instruktur Sekolah Pilot Banyuwangi bernama Arya.  Dengan berdoa dalam hati, saya siap-siap naik ke pesawat mungil ini. Sang Pilot didampingi seorang siswa, penumpangnya dua orang, Yudhy, teman kantor, dan saya sendiri, jadi total ada 4 orang kami dalam pesawat ini. Tempat duduk untuk penumpang benar-benar hanya dua. Setelah saya dan Yudhy duduk, pintu pesawat ditutup, Pilot kemudian menghidupkan mesin, suara raungan pesawat tidak terlalu keras, kalau dibandingkan dengan pesawat lain. Perlahan pesawat bergerak dari Apron menuju Taxiway.  Pilot sempat memberhentikan pesawat sebentar di taxiway karena ada pesawat lain yang masih di runway.

Kemudian pesawat bergerak menuju runway ke arah timur landasan Blimbing sari. Di pertengahan runway yang panjangnya 1800 meter, pilot memutar pesawat agar hidungnya menghadap arah Barat. Rupanya pesawat ini bisa take off dengan panjang runway sekitar 1000 meter. Pilot meluruskan pesawat persis di tengah-tengah. “Kita terbang ya Pak“, Pilot Arya berkata kepada saya dan Yudhy. “Oke” jawab saya singkat. Dan sesaat kemudian suara pesawat bertambah keras. Pesawat meluncur di runway, dan sesaat kemudian kami sudah mengangkasa……Terbang….

Waaww, pesawat cilik ini benar-benar mengangkasa….

Saya memperhatikan kokpit, ternyata meski pesawat ini kecil, kokpitnya dilengkapi dengan peralatan yang cukup lengkap. Ada dua layar monitor yang menampilkan banyak informasi yang dibutuhkan dalam penerbangan. Layar monitor menunjukkan kondisi cuaca di arah depan pesawat. Setelah terbang di udara, saya lihat data di monitor, putaran mesin pesawat rata-rata pada  3500 RPM saat terbang naik. Kami naik sampai ketinggian sekitar 3000 feet diatas permukaan laut.

img201612081112221

Foto diatas menunjukkan bagian dari Pulau Bali, kami terbang diatas selat Bali. Pesawat begitu tenang, meski menembus awan tipis yang menggantung di angkasa. Ternyata terbang dengan pesawat sekecil ini tidak seburuk yang saya kuatirkan. Pilot Arya santai saja mengemudi. Pesawat berputar ke arah Selatan Banyuwangi, dan foto di bawah ini memperlihatkan bagian pantai Selatan Banyuwangi.

img201612081129471

Saya menikmati terbang dengan pesawat kecil ini. Kali ini saya memecahkan  rekor, jadi pesawat terkecil yang pernah saya tumpangi Cessna dengan kapasitas hanya 2 penumpang. Sementara pesawat terbesar adalah Boeing 747 dengan kapasitas  sekitar 400 orang. Kami terbang di atas Selat Bali, kemudian ke arah Selatan Banyuwangi dan kemudian kembali ke arah Blimbingsari. Kalau semula saya hanya minta terbang 15 menit, ternyata kemudian sampai satu jam.

img201612081146441

Memutar di atas bandara Blimbingsari, dari atas tak ubahnya terlihat seperti bandara besar, tapi ini panjangnya runway hanya 1800 meter dengan lebar 30 meter. Dengan panjang bandara seperti itu, Blimbingsari baru bisa didarati pesawat sejenis ATR 600 dengan mesin baling-baling. Bandara ini akan diperbesar kapasitasnya dengan memperpanjang landasan menjadi sekitar 2250 meter, sehingga pesawat jet Boeing bisa mendarat di sini. Selain memperbesar kapasitas runway, apron dan terminalnya juga akan diperbesar.

Setelah terbang hampir satu jam, kami kembali ke bandara, landing.

Horee…….landed. Terimakasih Pilot Arya dan kru. Terimakasih juga pada Sekolah Pilot Banyuwangi yang memberi saya kesempatan Joy Flight ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s