Mungkinkah Waste Demand Management di Indonesia?

img201611261446361Cerita tentang waste demand management, (seperti pada judul di atas) merupakan sesuatu yang baru di Indonesia. Saya bisa mengatakan itu setelah googling sana-sini tapi tidak menemukan artikel atau pembahasan yang memadai tentang waste demand management . Bahkan sepertinya di dunia internasional, topik ini pun masih langka. Saya tidak menemukan artikel, jurnal atau tulisan sejenisnya tentang masalah ini. Heran juga, padahal sebenarnya topik ini semestinya sudah harus diperbincangkan dan dilaksanakan.

Karena suatu hal baru, ada baiknya saya membuat batasan tentang apa itu waste demand management , atau setidaknya apa yang akan saya ulas tentang hal itu di sini. Saya mengartikan waste demand management sebagai pendekatan manajemen untuk mengelola sampah melalui pengurangan atau pembatasan penggunaan produk atau kegiatan sehingga sampah yang timbul dari produk atau kegiatan tersebut menurun atau minimal. Saya mendefinisikan demikian karena memang belum ada definisi yang standar. Inti dari waste demand management  adalah bagaimana mengurangi atau meminimalkan pemakaian produk atau kegiatan yang tidak perlu sehingga sampah yang timbul menjadi kecil. Contohnya adalah bagaimana suatu barang elektronik diproduksi di pabrik atau proses penggiriman dikemas sedemikian rupa sehingga kemasannya minimal, atau sehingga dampak lingkungannya minimal.

Saat ini produk elektronik di Indonesia dikemas menggunakan banyak bahan yang tidak ramah lingkungan. Sebagai contoh, pesawat televisi dikemas dalam kardus dimana didalam kardus digunakan juga bahan styrofoam dan plastik untuk mendukung kemasan. Styrofoam dan plastik adalah bahan yang tidak ramah lingkungan karena mencemari dan sangat sulit terurai secara alamiah. Dengan pendekatan waste demand management, pesawat televisi dirancang menggunakan bahan plastik yang minimal dan dengan penggunaan enerji yang kecil. Kemasan televisi dibuat hanya dengan bahan ramah lingkungan seperti kardus dan tidak menggunakan plastik dan styrofoam. Bahkan bahan penutup kardus dibuat dengan menggunakan lem, dan tidak menggunakan selotip dari bahan plastik. Untuk bisa melaksanakan waste demand management pada produk televisi yang demikian diperlukan perancangan produk yang memungkinkan terjadinya pengurangan sampah sejak produk dibuat di pabrik.

Lihatlah foto di bawah ini, kemasan barangnya dibuat datar tipis dengan menggunakan kardus. Ujung setiap kardus direkatkan dengan mengunakan lem, bukan menggunakan selotip. Bahan penyangga yang ada di dalam kardus, agar barang tidak bergesek atau bergeser, dibuat dari kardus bukan dari styrofoam. Perekatan ujung kardus dengan menggunakan lem akan membutuhkan proses yang lebih lama ketimbang menggunakan selotip. Tetapi menggunakan lem lebih ramah lingkungan dari pada menggunakan selotip.

img201611261447491

Contoh lain dalam pelaksanaan waste demand management adalah dalam suatu pesta pernikahan. Suatu pesta pernikahan yang umum di kota-kota besar saat ini biasanya dilegkapi dengan berbagai bahan untuk kegiatan persiapan sampai kegiatan acara pesta. Pada tahapan persiapan, calon pengantin dan orang tuanya sudah sibuk mempersiapkan banyak hal, salah satunya adalah mempersiapkan undangan. Saat ini pada umumnya undangan pernikahan dirancang sangat bagus dan terbuat dari bahan kertas yang bagus pula. Kertas undangan yang bahannya berupa kertas yang mengkilap dan bagus biasanya dibuat dari kertas yang ditambah lapisan bahan kimia yang kurang ramah lingkungan. Semakin mengkilap kertas, sebenarnya semakin tidak ramah lingkungan. Dewasa ini undangan berupa kertas sebenarnya sudah dapat digantikan dengan undangan berbentuk digital. Meski undangan menggunakan bahan yang ramah lingkungan, tetapi penggunaan kertas berarti penggunaan bubur kertas (pulp) yang dibuat dari pohon yang ditebang. Kalau undangan dibuat dalam bentuk digital, maka tidak perlu ada pohon yang ditebang untuk membuat kertas undangan.

Pesta pernikahan tidak lengkap bila tidak ada bahan makanan, hiasan, dekorasi serta pernik-pernik pernikahan.   Bahan-bahan hiasan dan dekorasi pernikahan yang digunakan beberapa diantaranya tidak ramah lingkungan. Tidak jarang bahan makanan banyak yang tersisa dan tidak bisa digunakan lagi. Dengan menggunakan pendekatan waste demand management,  suatu pesta pernikahan dirancang sedemikian rupa sehingga sebisa mungkin tidak menggunakan bahan yang tidak ramah lingkungan.

Pendekatan waste demand management dapat diterapkan pada hampir semua aspek kehidupan. Kepedulian terhadap kualitas lingkungan yang baik menjadi kunci dari penerapan waste demand management. Penerapan konsep waste demand management dapat dilakukan dibidang apa saja, dan pada tahap apapun. Sehingga siapapun bisa menerapkan waste demand management, yang menjadi masalah adalah pemahaman masyarakat yang belum sepenuhnya pedulia atas kualitas lingkungan yang lebih baik. Waste demand management sejatinya adalah perubahan perilaku masing-masing orang untuk mengurangi sampah dan menjaga kelestarian lingkungan. Semua pihak mempunyai peran dan tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s