Puji Tuhan, Thanks God, “Pacciun..!

Mulai bulan Mei nanti saya resmi pensiun sebagai aparatur sipil negara (ASN) alias PNS. Orang Batak sering melafalkan kata pensiun dengan sebutan “pacciun, itulah sebabnya tulisan ini saya beri judul “Pacciun“. Dengan pensiun saya berhenti bekerja sebagai aparatur, berhenti menerima beberapa fasilitas yang diberikan negara seperti tunjangan, dan akan cuma menerima gaji pokok saja. Setelah sekian lama bekerja, saya harus menyerahkan tugas yang selama ini saya laksanakan untuk dikerjakan oleh mereka yang lebih muda. Saatnya orang yang lebih muda yang menggantikan peran. (Image diambil dari Google/Hallmark)

Tidak terasa sekitar 30 tahunan sudah mengabdi sebagai aparatur. Ya, mengabdi. Saya harus mengulang dan menegaskan kata mengabdi ini untuk menjelaskan bahwa bekerja sebagai PNS/ASN adalah pengabdian. Kalau tidak disertai semangat pengabdian, bisa jadi saya sekarang ini sudah di rumah sakit jiwa atau di penjara. Karena bekerja sebagai ASN godaan dan tantangannya amatlah berat, apalagi kalau pernah menduduki posisi yang banyak “godaan”. Posisi banyak “godaan” maksudnya berhubungan dengan penggunaan anggaran (dana) di suatu instansi atau posisi yang memproses perizinan. Pos-pos pekerjaan yang berhubungan dengan penggunaan anggaran dan perizinan sering menjadi tempat “tergelincir” bagi ASN yang tak mampu melawan “godaan”, dan bisa berakhir di penjara.

Kebetulan saya pernah menjadi Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), dan pernah pula sebagai orang yang berwenang menandatangani izin. Sebagai KPA kewenangannya melaksanakan penggunaan anggaran di satu instansi pemerintah. KPA lah orang yang menyetujui apakah anggaran/dana bisa dicairkan atau tidak. Tantangan di sini besar, karena ada saja pihak-pihak yang menggoda memberi iming-iming, kalau pihaknya diberi fasilitas kemudahan, dari kemudahan itu nantinya KPA bisa diberi “imbalan” atau bahasa terangnya termasuk gratifikasi. Bahkan ada pihak yang menggoda untuk membelokkan penggunaan anggaran. Yang ini sudah masuk kategori penyalahgunaan kewenangan sebagai KPA, atau bahasa terangnya melakukan korupsi. Sering godaan itu begitu menggiurkan sehingga kalau tidak kuat menahan godaan, sudah pasti akan terjerumus ke penyalah gunaan wewenang.

Sewaktu punya kewenangan untuk menandatangani izin, di sini pun tidak kalah kuatnya godaan dan cobaan. Pemohon izin banyak yang tidak faham makna perizinan. Bagi mereka izin hanya sebuah “syarat” semata untuk melakukan kegiatan. Dalam pandangan mereka izin justru hanya menjadi beban yang terpaksa harus dipikul. Karena itu mereka berusaha mendapatkan suatu izin meski syarat-syarat untuk mendapatkan izin tidak bisa dipenuhi. Untuk itu mereka mau “membeli” izin. Para “pembeli izin” inilah yang menjadi godaan dan tantangan yang tidak mudah dihadapi oleh mereka yang punya kewenangan memproses perizinan.

Persoalan antara penggoda, tergoda, dan pihak yang mau digoda dalam proses anggaran dan perizinan sudah ada sejak dulu, dan masih ada sampai sekarang. Yang berbeda dari zaman ke zaman, hanya bentuk dan cara kerjanya. Sejak Adam di Taman Eden tidak kuat menghadapi godaan ular, maka ia jatuh, kejatuhan seperti itu terus terjadi sampai zaman now, bahkan mungkin sampai akhir dunia. Persoalannya seberapa kuat orang bisa melawan godaan agar tidak terjadi pada dirinya, agar tidak terjadi di lingkungannya. Akan selalu ada orang yang menang melawan godaan, walau akan banyak juga yang tidak sanggup dan kalah melawan godaan.

Kembali ke soal pensiun, saya meyakini pensiun adalah suatu titik di mana saya mengubah forum dan cara saya melakukan kegiatan. Fakta bahwa kekuatan dan energi yang dimiliki sudah berkurang adalah keniscayaan, dan tidak perlu dipersoalkan. Di umur 60 tahun saya tidak mungkin menang adu lari dengan pemuda yang berumur 30 tahun, tapi kalau adu jalan santai mungkin saya bisa menang. Sekarang ini saya juga tidak mungkin bisa mengkonsumsi makanan seperti ketika berumur 30 tahunan, yang nyaris bisa makan banyak jenis makanan yang berlemak dan dalam porsi besar. Bicara soal makanan, saya jadi teringat akan suatu broadcast di grup WhatsApp belum lama ini yang isinya kira-kira berbunyi seperti ini:

Konsumsi lah makanan seolah engkau mengkonsumsi obat, supaya engkau tidak mengkonsumsi obat seperti orang makan . Kalimat ini perlu dicerna dengan baik tidak saja oleh orang yang pensiun seperti saya, tetapi juga oleh orang yang masih muda sekalipun.

Kalau saya bisa pensiun sebagai ASN tanpa was-was akan berususan dengan APH (aparat penegak hukum), itu sudah merupakan suatu anugerah. Semoga saya bisa tidur tenang tanpa kuatir besok lusa akan menerima panggilan dari APH. Ada ASN yang ketika masih aktif sebagai ASN tidak ada masalah, tapi kemudian setelah pensiun harus menjalani pemeriksaan panjang dan akhirnya menjadi tersangka bahkan terdakwa. Dengan kenyataan saya pernah menjadi KPA dan pernah pula menandatangani surat izin dari instansi tempat bekerja, saya bisa dengan mudah terperosok dalam urusan penyalahgunaan wewenang atau korupsi. Meski saya sejak awal menjaga betul agar saya selalu mengikuti aturan dan perundang-undangan ketika melaksanakan tugas, tapi bisa saja ada hal-hal yang tidak diperhitungkan yang menyebabkan terjadinya penyimpangan.

Sebagai PNS/ASN tentulah saya jauh dari sempurna, banyak kekurangan dan kelemahan ketika menjalankan tugas. Saya faham betul bahwa saya tidak mungkin membuat semua stakeholder menerima dan puas akan hasil kerja saya. Saya yakin ada pihak-pihak yang merasa kecewa ketika saya melaksanakan tugas karena keinginannya tidak terkabul, hasil kerja saya tidak memenuhi harapan dan kepentingan mereka. Pernah ada warga masyarakat yang sampai marah-marah kepada saya karena saya tidak bersedia langsung mencabut ijin suatu usaha yang dilaporkannya. Lain waktu ada orang yang pulang kecewa dari kantor, karena saya tidak dapat memberikan sumbangan uang yang diminta.

Banyak sekali suka duka yang terjadi dalam perjalanan tugas saya sebagai PNS/ASN. Beberapa diantara pengalaman itu ada yang saya tuliskan dalam beberapa posting di blog ini. Saya pernah juga difitnah oleh oknum melalui surat kaleng dan sms. Bahkan saya pernah mendapatkan sms yang berisi ancaman fisik terhadap saya dan keluarga. Pengirim sms menuduh saya melakukan kecurangan ketika mendapatkan promosi jabatan, sms itu menyatakan kebenciannya serta mengancam karena saya menduduki jabatan dimaksud. Padahal saya tidak pernah melakukan apapun untuk mendapatkan jabatan itu. Pengirim sms menuduh saya menyuap pihak tertentu untuk mendapatkan jabatan, padahal faktanya, jangankan menyuap, meminta jabatanpun saya tidak pernah.

Saya pernah juga mengalami hal yang menyakitkan. Seorang pejabat yang punya kewenangan, tidak mau menyetujui kenaikan pangkat saya, dan akhirnya tertunda beberapa tahun. Dengan alasan yang mengada-ada, orang tersebut menolak kenaikan pangkat saya sehingga tidak bisa diproses. Saya sudah menyampaikan bukti-bukti administrasi yang sah bahwa saya berhak untuk naik pangkat, tapi bukti-bukti yang saya sampaikan tetap tidak diterima, dan tertundalah kenaikan pangkat saya sampai lebih dari 5 (lima) tahun. Seharusnya ketika “pacciun” ini saya bisa mencapai pangkat tertinggi sebagai PNS/ASN yaitu di golongan IV/E, tapi apa boleh buat, karena sempat ditunda, saya tidak bisa mendapatkannya. Tertundanya kenaikan pangkat juga menghalangi saya untuk ikut beberapa kesempatan “open bidding” JPT (jabatan Pimpinan Tinggi) ASN beberapa waktu lalu. Sebenarnya saya bisa melakukan gugatan ke PTUN atau ke BKN untuk kenaikan pangkat itu, tapi saya malas melakukannya.

Hal lain yang pernah memprihatinkan adalah ketika saya tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarga akan beberapa hal. Sebagai PNS/ASN dengan gaji dan tunjangan terbatas, banyak kebutuhan keluarga dan kebutuhan sosial yang semestinya dipenuhi. Saya juga pernah merasa kecewa karena anak saya yang tidak bisa ikut kegiatan ekstrakurikuler di sekolahnya yang memerlukan biaya tambahan yang lumayan besar. Kepada anak, saya mengatakan bahwa kegiatan itu tidak begitu penting dan tidak akan mengurangi penampilannya di sekolah, tapi sebenarnya karena saat itu saya tidak punya cukup uang. Ketika itu saya benar-benar merasa sebagai orang tua yang tidak bertanggung jawab, mengenaskan!

Ketika pensiun pada umur 60 tahun, apalagi yang bisa saya lakukan selain bersyukur kepada Tuhan. Saya sudah diberi banyak dan sudah mendapat banyak dalam kehidupan. Sayangnya saya harus mengakui bahwa saya masih kurang dalam memberi kepada sesama. Yang terakhir inilah yang menjadi tugas besar saya di masa pensiun PNS ini. Akan tetapi dalam menjelang pensiun ini, sebagai manusia saya merasa sangat bersalah dan merasa gagal (suatu hal yang tidak bisa saya tuliskan di sini). Kegagalan itu adalah kegagalan sebagai manusia, bukan kegagalan bertugas sebagai PNS/ASN. Saya benar-benar sangat terpukul dengan kegagalan ini. Di masa pacciun ASN nanti semoga saya masih sempat berbuat sesuatu untuk menebus segala kesalahan.

Tapi selain hal yang menyakitkan ada juga yang menggembirakan. Awal sebagai PNS/ASN saya bekerja di Departemen Pekerjaan Umum di Jakarta. Sebagai bawahan saya bekerja semaksimal mungkin, apa yang yang ditugaskan atasan saya kerjakan dengan sebaik mungkin, dan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Hasil kerja saya ternyata diapresiasi oleh pimpinan. Apresiasi pimpinan dan rekan kerja itu membuat saya berbangga diri dan bersemangat. Bagaimana tidak bangga kalau bertahun-tahun kemudian apresiasi itu diungkapkan langsung secara verbal dihadapan beberapa orang, dan di depan saya oleh seorang Menteri. Saya yang mendengarnya seperti tidak percaya. Apresiasi lain yang membuat saya bersemangat adalah ketika proses perpindahan kerja dari Surabaya ke tempat kerja saya sampai pensiun. Kepindahan saya ke Jakarta didukung oleh seorang rekan kerja di PU dulu. Sudah belasan tahun saya tidak pernah ketemu beliau, tapi pada saat saya dalam proses pindah, saya dibantu sepenuhnya. Itu hanya karena beliau pernah menjadi rekan kerja di PU. Apresiasi semacam itu saya ceritakan kepada anak saya, dengan harapan agar mereka mengerti bahwa bekerja dengan integritas tinggi akan selalu diingat dan dihargai orang.

Setelah pensiun sebagai PNS/ASN, ternyata masih ada yang mau memanfaatkan tenaga dan pengalaman saya. Saya masih dipercaya bekerja di kantor di mana saya selama 7 tahun terakhir ini menjalankan tugas . Meski tidak lagi menyandang status sebagai PNS/ASN, saya diberi tugas untuk membantu beberapa pekerjaan di kantor ini, dengan status sebagai Non-PNS. Bagi saya bekerja lagi di kantor ini sebagai PKL (pensiunan kerja lagi) dengan status baru bukan hanya sekedar pengisi waktu, tapi sesungguhnya ini adalah sebuah apresiasi terhadap kinerja selama ini. Jujur saja, tidak semua teman saya yang sudah pensiun lebih dulu bisa dipekerjakan kembali di kantor yang sama dengan status yang berbeda (Non-PNS). Saya merasa mendapat perlakuan dan penghargaan khusus, bahasa kerennya limited edition. Mudah-mudahan saya tidak menjadi besar kepala karena ini, semoga saya jauh dari arogan, melainkan saya akan menerimanya dengan rasa penuh syukur kepada Tuhan, dan berterimakasih kepada semua orang yang sudah mengapresiasi saya dan memberi saya kesempatan untuk bekerja lagi.

Pengalaman tentang bekerja lagi di kantor yang sama dengan status sebagai Non-PNS mungkin akan saya tuliskan secara terpisah di lain waktu.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s