Trek

Trek, saya terjemahkan secara serampangan dari bahasa Inggeris “track”. Trek merupakan rangkaian ‘perjalanan kehidupan‘ saya, dari sejak saat yang masih bisa saya ingat. Banyak yang terlupa, jadi tak bisa dituliskan. Ada juga cerita yang tidak saya tuliskan. Saya sisipkan foto-foto yang menyertai kejadian Trek ini. Sebagian foto sebagai pertanda saja, foto kejadian waktu saya masih remaja bahkan sudah tidak dapat ditemui lagi. Foto sewaktu saya masih anak-anak, sudah tidak ada. (sayang!).

Tentulah Trek ini jauh dari lengkap, karena itu saya akan terus meng-update agar menjadi lebih lengkap dan lebih informatif.

*****************
SILABAN (Trek awal)

Saya putra tertua dari pasangan T. Silaban dan I.Sihombing, dilahirkan di huta Lumban Silintong, desa Silaban, kecamatan Lintong ni Huta, kabupaten Tapanuli Utara (sekarang kabupaten Humbang Hasundutan), Sumatera Utara. Kami bersaudara semua sembilan orang, lima laki-laki dan empat perempuan. Di gereja HKBP resort Silaban saya dibaptis ketika masih bayi.

Periode sebelum umur 7 tahun ini, banyak yang tidak saya ingat lagi. Terlalu sulit untuk membongkar memori pada periode dibawah umur 6 tahun. Kalaupun ada memori yang tersisa, hanya bayangan kabur yang tidak jelas. Memang ada cerita orang-orang yang mengenal saya semasa kecil, termasuk cerita dari orang tua dan kerabat saya. Tetapi saya tidak akan tulis cerita orang tentang saya, saya hanya akan tulis apa yang saya ingat.

Ketika itu, sekitar tahun 1964-1965 (anda dimana pada tahun 1964 ??), di desa Silaban tidak ada sekolah taman kanak-kanak, maka ketika sudah dianggap cukup umur, saya dimasukkan ke SD Negeri, dimana ibu saya bekerja sebagai guru. Bapak saya juga seorang guru SD, tapi bertugas di lain sekolah. Murid kelas 1, saat itu menggunakan “batu tulis” sebagai alat tempat menulis, buku tulis belum kami pakai. Saya tidak tau, kenapa masih pakai batu tulis, mungkin lantaran sekolah dan masyarakat disana belum mampu beli buku tulis.

Bangunan sekolah SD kelas 1, ada di godung, persis di sebelah Gereja HKBP Silaban sekarang. Waktu itu kami menulis dengan menggunakan alat tulis yang saya kira terbuat dari batu lunak, alat tulis terbuat dari pensil batu yang diruncingi, dan mudah patah. Ukuran batu tulis hampir sama dengan buku tulis, kira-kira seukuran dengan Ipad sekarang. Setiap murid hanya punya sebuah batu tulis. Sewaktu kelas 1 SD, saya tidak ingat apakah ada raport apa tidak.

Saya masih ingat kalau Pak Guru memberi nilai pada kami, maka nilai itu dituliskan dengan kapur pada batu tulis, lalu murid yang mendapat nilai bagus, akan mencapkannya dipipi, sehingga bisa ditujukkan pada amang dan inong, bapa dan ibu. Bangga sekali rasanya kalau ada cap nilai dari pak guru di pipi, dan menunjukkannya pada amang dan inong.

Tidak lama setelah saya mulai bersekolah (belum sempat naik kelas 2), bapak pindah tugas ke Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Waktu itu dari desa Silaban rasanya jauh sekali ke kecamatan Selesai di Langkat. Seingat saya waktu itu, kami berangkat ke Selesai setelah peristiwa G30S PKI, karena waktu di tengah perjalanan dengan bus dari desa Silaban ke Medan, banyak pos pemeriksaan yang menanyai penumpang apakah ada yang terkait dengan PKI atau tidak.

SELAYANG (Trek kedua)

Selama kurang lebih setahun, saya dan bapak hanya berdua di kecamatan Selesai, sementara ibu dan adik-adik tetap tinggal di desa Silaban. Di Selesai kami mengontrak rumah di desa Selayang, yang jaraknya cukup jauh dari SD tempat bapak mengajar. Untuk pergi ke tempat tugas, bapak harus menaiki sepeda (kereta angin, kata orang Medan !) melalui jalan desa yang berbatu-batu, melewati kawasan hutan dan rawa dengan tumbuhan rumbia. Ada sungai Bohorok yang harus diseberangi dengan rakit bambu. Pada musim penghujan, arus sungai Bohorok sangat deras, sehingga sangat berbahaya menggunakan rakit. Saya bersekolah di SD di desa Selayang, yang relatif tidak terlalu jauh dari rumah yang kami kontrak.

Selang tahun kedua, ibu dan adik saya (ketika itu adik masih 4 orang), menyusul ke desa Selayang.Kedatangan ibu dan adik saya menjadikan kami lebih lengkap rasanya berkeluarga. Entah bagaimana ibu masih belum mengajar di Selayang, jadi sehari-hari setelah kedatangannya, ibu berkebun dan bersawah yang kami sewa. Kebun ditanami dengan palawija, ada ubi, kacang hijau, jagung, dan hasilnya untuk digunakan sehari-hari di rumah. Kebun itu terletak tidak terlalu jauh dari rumah yang kami kontrak.

Sekitar setahun tinggal bersama di di Selayang, kami tidak tahan menghadapi serangan nyamuk malaria. Kami semua menderita sakit malaria, karena di sekitar tempat tinggal kami, dikelilingi rawa. Beruntung kami masih bisa sembuh. Karena alasan kesehatan itu, kami akhirnya harus pindah ke Tg. Morawa, di sebelah selatan kota Medan.

TG. MORAWA (Trek ketiga)

Pindah ke Tg. Morawa, saya masuk kelas 3 SD, di sekolah di tempat bapak dan ibu bekerja, SD Negeri Pasar 13 Tg. Morawa Kanan, (catatan: Tg. Morawa terdiri dari Tg. Morawa Kanan dan Tg. Morawa Kiri, yang dibatasi oleh Sungai Belumai). Di sekolah yang lantainya tanah, pada saat itu kami tidak memakai baju seragam, tidak menggunakan alas kaki (alias nyeker). Kelas 3 SD, guru kelas saya adalah ibu saya sendiri. Ketika saya kelas 5, bapak kemudian menjadi guru kelas saya.

Tamat dari SD saya melanjutkan ke SMP Bersubsidi yang berlokasi di Tg. Morawa Kiri. Dari rumah ke SMP Bersubsidi jaraknya kurang lebih 4 kilometer. Bersama teman-teman SMP lainnya, saya jalan kaki ke sekolah. Di SMP ini, sudah diwajibkan pakai seragam dan harus pakai sepatu.


Foto bersama yang masih bisa ditemukan, sayang bapak tidak terlihat, karena foto bagian bapak rusak.
.
Selepas SMP, saya melanjut ke SMA Negeri-3 di Jl. Dr. Sutomo, Medan. Kelas 1 SMA, belajar mulai siang, sementara kelas 2 dan 3, belajar pagi hari. Dari rumah di Tg. Morawa, ke sekolah di pusat kota Medan, cukup jauh juga, sekitar 20 km. Perjalanan ke sekolah harus ditempuh dengan angkutan secara bersambung, karena Tg. Morawa sudah di luar wilayah kota Medan. Untuk menghemat biaya, supaya hanya sekali naik bis kota, saya naik sepeda (sepeda pancal kata orang Surabaya) dari rumah ke batas kota Medan. Lalu kemudian bersambung naik bis kota ke terminal Sambu (waktu itu, bis kota sampai Sambu, terminal bis di Simpang Ampelas belum dibangun). Bersepeda dan bis kota itu saya lakoni sejak kelas 2 sampai kelas 3 SMA.

Secara total ada 9 tahun saya menetap di Tg. Morawa.

BANDUNG (Trek keempat)

Dengan dorongan dari seorang paman, saya ke Bandung setelah tamat SMA untuk ikut testing ke ITB. Kali pertama testing, saya gagal. Setelah setahun menetap di Bandung, sambil mempersiapkan diri, test kedua kalinya saya berhasil diterima di ITB sebagai mahasiswa. Di tahun kedua (1978), saya testing juga ke Institut Teknologi Tekstil Bandung, saya dinyatakan lulus dan diterima. Saya juga testing ke Institut Teknologi Surabaya (ITS), dan lulus juga. Sampai sekarang surat panggilan dari ITS masih tersimpan di berkas arsip saya.

Gabungan antara malas dan “keangkuhan” sebagai mahasiswa, menjadikan penyelesaian Tingkat Pertama Bersama (TPB) di ITB saya cukup lama. Sejak 1978 sampai 1981, saya “terlalu aktif” di 8EH Radio ITB, sehingga banyak mata kuliah tercecer. Di unit kegiatan mahasiswa (UKM) ini, saya berkenalan dan belajar dengan banyak teman. Sejumlah aktivis mahasiswa ITB bergabung di UKM ini, dan menjadi salah satu UKM yang cukup vokal pada waktu itu. Salah satu teman, Bambang Sudiatmo, menjadi kawan yang dikemudian hari banyak membantu saya. Setelah 8EH Radio ITB non aktif, saya kembali ke “normal” kuliah.

Pada saat itu, terjadi proses “pencarian jati diri“, membentuk dan mengembangkan kepribadian. Setelah berusaha mengejar, akhirnya, baru bisa lulus dari ITB pada tahun 1986. (Lama sekali ya kuliahnya…)

Bergaul dengan mahasiswa dari berbagai penjuru tanah air, memberi tambahan nilai bagi saya. Secara khusus, bergaul dengan mahasiswa asal Tapanuli, menjadikan saya harus belajar mempraktekkan bahasa Batak secara verbal. Kemampuan berbicara dalam bahasa Batak barulah saya alami di Bandung. Ibu saya sempat kaget mengetahui saya mulai lancar berbicara bahasa Batak, sementara sewaktu di Tg. Morawa, kemampuan itu nyaris tidak ada.

Secara rohani, saya juga semakin berkembang di Bandung. Meski tidak menjadi aktifis di persekutuan mahasiswa, “pengembangan rohani” terjadi melalui kegiatan persekutuan mahasiswa dan kegiatan di gereja. Sewaktu di Tg. Morawa, saya belum lepas sidi di gereja. Karena itu setelah beberapa tahun di Bandung, saya mendaftar belajar sidi di HKBP Bandung. Dengan tekat yang susah payah (karena menjadi peserta yang tertua, peserta lainnya pada umumnya anak SMA dan anak SMP), saya mengikuti pelajaran katekisasi sidi di HKBP Bandung selama setahun penuh. Tanpa diketahui orang tua, dan teman-teman di Bandung, saya ikut pengukuhan pengakuan iman, lepas sidi, di HKBP Bandung.

Pertama kali ketemu Maya Situmeang di Bandung pada suatu kesempatan yang tidak direncanakan. Pada pertemuan pertama itu, tak terpikir kalau kemudian dia menjadi pendamping hidup saya. Dari pertemuan pertama ke pertemuan berikutnya jaraknya cukup lama juga. Itupun terjadi tanpa terduga juga. Tidak terasa pertemuan kedua dan seterusnya semakin sering terjadi. Sampai akhirnya setelah lebih dari 2 tahun, sepakat berlanjut kepernikahan.

JAKARTA (Trek kelima)

Tinggal di Jakarta, setelah bekerja di Departemen Pekerjaan Umum, dimulai sebagai pegawai kontrak, dari tahun 1987 sampai 1988. Akhir 1987, ikut seleksi CPNS, dan kemudian lulus jadi CPNS dengan gaji pertama Rp. 81.000 mulai tanggal 1 April 1988. Tepat setahun sebagai CPNS, 1 April 1989, saya diangkat sebagai Pemimpin Bagian Proyek. Dan pada tanggal 1 April 1989 pula, kami menikah di HKBP Kebayoran Baru, Jl. Hang Lekiu, Jakarta

Tidak lama setelah menikah, istri saya, Maya hamil. Sayang kehamilan pertama itu tidak dapat dipertahankan, jabang bayi hanya berumur sekitar 2 bulan, Maya mengalami keguguran. Lewat setahun setelah keguguran, belum ada tanda-tanda kehamilan. Setelah berganti-ganti dokter kandungan, Tuhan akhirnya menunjukkan Dokter Harun Harahap di Jalan Pramuka. Dokter ini secara sistematis membantu proses kehamilan, sampai akhirnya Daniel lahir. Pada saat-saat konsultasi ke Dr. Harun, saat yang sama saya sedang ikut seleksi untuk melanjutkan sekolah.

Kantor pertama saya di Departemen PU Jakarta terletak di Jl. Surabaya, kawasan Menteng. Kebetulan ada kawan yang menawarkan untuk tinggal di asrama UI di Jl. Pegangsaan Timur (sebelah bioskop Megaria), jadilah saya menjadi pekerja yang tinggal di asrama mahasiswa. Sekitar pertengahan tahun 1990, saya ikut seleksi beasiswa CIDA, Canada. Seleksi yang berlangsung seminggu di Sanur, Bali, diikuti kurang lebih 80 orang, dan akhirnya terseleksi sebanyak sekitar 15 orang termasuk saya. Mulai Januari 1991, ke 15 orang ikut kursus intensif Bahasa Inggeris di IALF Bandung selama 3 bulan. Salah seorang dari 15, tidak lulus Bahasa Inggeris, dan tidak dapat berangkat ke Canada. Saya berangkat ke Winnipeg Canada, tanggal 31 Mei 1991, untuk kuliah di University of Manitoba.

WINNIPEG (Trek ke-enam)

Pergi ke Winnipeg, Canada tahun 1991 adalah perjalanan pertama saya ke luar negeri. Meski ada “pre-departure workshop”, begitu sampai Winnipeg, saya kagok juga. Tempat tinggal saya yang pertama adalah dormitory universitas, yaitu semacam hotel yang disewakan bagi umum. Saya hanya tinggal dua hari di dormitory, karena sewa kamar perharinya cukup mahal untuk ukuran mahasiswa seperti saya. Jadi saya cari tempat kost yang lebih murah. Akhirnya saya dapat kamar kost di Silverstone Street, salah satu rumah yang kamarnya memang dikhususkan untuk disewakan bulanan. Jarak tempat kost saya ke kampus sangat dekat, tidak sampai satu kilometer ke Engineering Building, dimana saya akan kuliah.

Sejak 1 Juni sampai akhir Agustus, saya dan beberapa mahasiswa Indonesia, mengikuti kursus bahasa Inggeris secara intensif dari pagi sampai sore. Saat itu kampus sepi, karena libur panjang summer. Selang beberapa bulan, saya diajak oleh Armein Langi, dosen ITB yang sedang kuliah di UM, untuk sharing kamar di apartemen “Univillage“. Tempatnya lebih jauh, tapi harganya sewa lebih murah ketimbang kos-kosan. Ada beberapa teman mahasiswa Indonesia yang tinggal di Univillage. Sharing dengan Armein, sampai tiba liburan pada bulan Juni 1992.

Libur summer 1992, saya kembali ke Jakarta, selain untuk menengok anak pertama saya Daniel, dan ibunya, juga untuk mengumpulkan data bagi bahan thesis nantinya. Kemudian kami bertiga bertolak ke Winnipeg, sekitar awal Agustus, padahal kuliah baru akan dimulai awal September. Sengaja datang lebih awal, supaya Maya dan Daniel, sempat “aklimatisasi” terhadap iklim musim dingin Winnipeg. Dalam waktu yang relatif singkat itu, Maya masih sempat menikmati “garage sale” yang digelar setiap hari minggu pagi sebelum musim dingin.

Dari apartemen Univillage ke kampus, jaraknya hampir 1,5 km. Kalau cuaca tidak dingin sekali, saya lebih sering jalan kaki ke kampus. Memasuki awal 1993, saya sudah mulai menyusun thesis. Beruntung waktu itu sudah ada internet, meski masih sangat terbatas. Setidaknya saya bisa mengerjakan thesis di rumah, lalu mencetak di printer kampus.
Winter in Winnipeg, Canada
Entah karena “semangat nekat“, meski sambil banyak main dengan bayi kami (Daniel masih bayi waktu itu), perkuliahan saya lancar, sehingga bisa selesai tepat waktu. Malahan masih bisa ikut wisuda pada akhir Mei 1993. Begitu selesai wisuda, langsung pulang ke Indonesia, karena beasiswa dari CIDA hanya sampai bulan Mei 1993. Dalam perjalanan pulang dari Winnipeg, kami sempatkan lewat California, untuk mampir di Disneyland, Anaheim dan ke Universal Studio, saya, Maya dan Daniel sempat juga ke San Diego untuk melihat Sea World.

[back to top page]

SURABAYA (Trek ketujuh)

Sepulang dari Winnipeg, saya kembali bertugas di Direktorat Bina Program Ditjen Cipta Karya, Departemen PU. Sebagaimana biasanya pegawai yang baru pulang dari tugas belajar luar negeri, saya tidak mendapatkan job description yang jelas, segala macam tugas, saya kerjakan saja.

Pada waktu itu Ditjen Cipta Karya sedang memproses persiapan program Surabaya Urban Development Project (SUDP). Direktorat Bina Program, sebagai leading sektor untuk penyiapan loan agreement SUDP.
Karena saya masih jobless, maka saya ditugaskan membantu persiapan program SUDP. Sejak sekitar bulan Juli 1993, saya jadi sering mondar-mandir Jakarta-Surabaya untuk persiapan pelaksanaan SUDP. Kala itu, appraisal SUDP sudah diselesaikan oleh Bank Dunia, tapi karena masih banyak hal yang belum sepenuhnya disepakati, maka proses penandatanganan pinjaman antara Bank Dunia dan Pemerintah Indonesia menjadi lambat.

Saya ditugasi untuk menyiapkan semua dokumen-dokumen yang dibutuhkan oleh Ditjen Cipta Karya untuk proses persiapan penandatanganan itu. Saat itu berbagai alternatif skenario pelaksanaan disiapkan, tapi seringkali berubah. Saya yang ditugaskan untuk memperbaiki dan merevisi berbagai alternatif skenario tersebut. Saya hampir putus asa karena berbagai skenario SUDP saat itu beberapakali berubah dan tak kunjung disepakati.

Dari bulan Agustus sampai Nopember 1993, rapat antara Departemen PU, Bappenas dan Departemen Keuangan serta Bank Dunia berlangsung puluhan kali. Selama itu, Direktur Bina Program saat itu, Bp. Djoko Kirmanto (kemudian beliau menjadi Menteri PU), berulang kali menugaskan saya lembur sampai tengah malam untuk menyiapkan laporan ke Menteri PU. Akhirnya pada awal Januari 1994, titik terang kesepakatan antara Bank Dunia dan pihak Indonesia semakin mengerucut.
Setelah semua program nyaris rampung, Menteri PU memberikan green light persetujuan dan delegasi RI boleh mengadakan negosiasi dengan Bank Dunia di Washington DC. Saya yang ditugaskan menyiapkan proses administrasi dan mendampingi Delri (Delegasi RI) ke Washington DC. Pada waktu itu semua anggota Delri sebenarnya masih belum yakin betul apakah Menteri PU sudah benar-benar setuju. Sampai-sampai Pak Djoko Kirmanto berkata pada saya :

“Oke, siapkan semua bahan, termasuk tiket dan visa ke Amerika, tapi kita semua harus siap-siap pulang dari Bandara Cengkareng, kalau tiba-tiba Pak Menteri membatalkan keberangkatan  ke Washington DC”.
Akhirnya Delri yang terdiri dari Departemen Keuangan, Bappenas, Departemen PU, Departemen Dalam Negeri berangkat ke Washington DC. Saya ikut ke Washington DC sebagai staff pendukung negosiasi. Pimpinan Delri adalah alm. Prof. Dr. Soegijanto Soegijoko dari Bappenas.

Dari proses persiapan negosiasi SUDP itu, kemudian saya ditugaskan ke Surabaya untuk membantu pelaksanaan SUDP. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau kemudian saya akan menetap di Surabaya. Dari proses itupula saya menjadi cukup akrab dengan Bp. Djoko Kirmanto. Di kemudian hari setelah beliau menjadi Menteri PU, setiap kali ada kesempatan bertemu, beliau selalu menanyakan kabar saya dan keluarga. Beberapa kali beliau mengapresiasi saya didepan banyak orang sebagai mantan staff beliau (saya jadi ge-er juga mendengarnya).

Pertama bertugas di Surabaya, saya ditempatkan sebagai Wakil Ketua Urban Management Unit (UMU) SUDP. Sebenarnya yang menentukan posisi itu adalah Pemkot Surabaya, sementara dari Jakarta saya dititipi tugas untuk membantu kelancaran pelaksanaan SUDP. Beberapa bulan pertama, saya indekos di kamar kecil yang sangat sederhana di Jalan Kali Dami. Sewa kos perbulannya hanya Rp. 100.000. Ada kawan yang sempat geleng-geleng kepala, sebagai UMU SUDP yang nilai proyeknya pada waktu itu sekitar US $ 500 juta, tapi saya kos di kamar sempit dengan biaya seratus ribu perbulan.

Ketika bertugas di Surabaya dan mondar-mandir ke Jakarta, pada bulan September 1994, anak kedua saya Dennis lahir. Kali ini saya menunggui istri saya selama proses persalinan di Rumah Sakit. Tapi karena tugas di Surabaya, saya juga harus selalu meninggalkan mereka. Pertengahan 1995, Istri dan kedua anak saya ikut ke Surabaya. Kami tinggal di rumah dinas PDAM di Jl. Manyar Kartika.

Bekerja di Surabaya bersama aparat pemerintah daerah dalam mengelola SUDP memberi saya banyak pelajaran. Secara organisasi, posisi saya sebenarnya cukup strategis, tapi saya tidak memikirkan strategis atau tidak. Sesuai tugas yang disampaikan kepada saya, adalah untuk mengupayakan agar SUDP bisa dilaksanakan sebaik-baiknya.

Pelaksanaan SUDP selama lebih kurang 6 tahun sebenarnya ada pasang surut. Kadang ada kemajuan yang baik, tetapi juga banyak hambatan yang terjadi. Sesungguhnya banyak sekali pengalaman yang bisa ditulis tentang itu. Saya akan skip saja dulu, nanti akan saya jelaskan lebih banyak tentang itu.

Pelaksanaan SUDP …. (dilompati)

Ketika ditugaskan ke Surabaya tahun 1994, saya dapati banyak informasi bahwa kota Surabaya adalah salah satu daerah yang paling siap melaksanakan desentralisasi. Wacana pelaksanaan desentralisasi sudah mulai banyak diperdebatkan orang. Di tahun 1994, seingat saya belum diketahui bentuk desentralisasi. Akan tetapi Departemen Pekerjaan Umum sudah merintis pendekatan desentralisasi melalui berbagai program.

Pelaksanaan SUDP sebenarnya adalah implementasinya prinsip desentralisasi yang dipelopori oleh Departemen Pekerjaan Umum dan Kota Surabaya. Wacana desentralisasi, yang juga banyak dikenal dengan nama otonomi, semakin kencang. Saya sedikit banyak mulai memperhatikan hal tersebut dan implikasinya terhadap pekerjaan saya.

Setelah melalui berbagai pertimbangan dan konsultasi keberbagai pihak, saya memutuskan untuk alih status dari pegawai Pusat di Departemen Pekerjaan Umum menjadi pegawai Pemerintah Daerah di kota Surabaya. Peralihan status di tahun 1998 itu memerlukan proses yang lumayan panjang.

Di Surabaya kedua anak saya bertumbuh. Daniel mulai masuk TK di Sekolah TK Santa Clara. Setelah TK, Daniel meneruskan di SD Santa Clara juga sampai ke SMP tetap di satu kompleks yang sama di Jl. Ngagel Jaya Selatan. Dennis, ketika mau masuk TK tidak cukup umur, sehingga masuk TK Permai di Jl. Manyar Kartika. Ketika mau masuk SD, Dennis juga dianggap kurang umur untuk satu sekolah dengan abangnya Daniel. Jadi Dennis masuk SDN Barata Jaya di Jl. Barata Jaya. Tapi kemudian masuk ke kelas-2, Dennis pindah ke SD Santa Clara, sehingga satu sekolah dengan abangnya. Dan kemudian Dennis juga SMP di di sekolah SMP Santa Clara.

Ketika tinggal di Surabaya, saya mau tidak mau ikut dalam komunitas sosial masyarakat. Baru sekitar 3 tahun menetap di Surabaya, saya didaulat menjadi Ketua Punguan (kumpulan) Keluarga Silaban se Surabaya dan sekitarnya. Jabatan itu berlangsung selama 2 periode selama 4 tahun. Padahal pada saat yang sama kami juga ditunjuk sebagai bendahara Punguan Keluarga Situmeang se Surabaya. Dalam masa-masa itu, mau tidak mau saya harus ikut dalam beberapa kegiatan kekeluargaan Batak, termasuk dalam acara-acara adat.

Selesai bertugas sebagai Ketua Punguan Silaban, para anggota mengangkat saya sebagai penasehat punguan. Sebenarnya itu hanya kebiasaan saja, seorang yang sudah selesai sebagai Ketua, maka didaulat menjadi penasehat punguan.  Jumlah anggota punguan sebenarnya tidak terlalu banyak, hanya sekitar 40-50 keluarga yang tersebar di Surabaya, Mojokerto, Sidoarjo dan Gresik. Karena jumlah yang tidak terlalu banyak itu, kalau ada acara adat yang besar seperti perkawinan atau kematian, maka punguan Silaban sebelumnya selalu meminjam penatua dari Lumban Toruan sebagai parhata alias parsinabung. Parsinabung inilah yang menjadi jurubicara marga ketika ada acara adat yang besar.

Suatu ketika, ada salah seorang anggota punguan Silaban yang akan mengadakan perkawinan anaknya. Semula kami juga akan meminta bantuan penatua marga Lumban Toruan, tapi penatua itu ternyata adalah bagian keluarga dari calon besan marga Silaban. Jadi penatua marga Lumban Toruan itu tidak bisa membantu kami. Sudah tentu semua anggota punguan menjadi bingung, bagaimana kami akan menjalankan acara adat perkawinan kalau tidak ada parsinabung alias juru bicara adat. Akhirnya kami berunding untuk mencari jalan keluar, para anggota punguan akhirnya meminta saya yang menjadi parsinabung. Saya bilang saya tidak mampu, saya tidak begitu paham tata laksana proses adat perkawinan Batak. Para anggota bertanya lagi, kalau saya tidak bisa, lalu saya diminta mencari siapa yang bisa. Saya menjadi lebih bingung lagi. Akhirnya karena kepepet, saya terpaksa menyanggupi akan belajar menjadi parsinabung. Saya kemudian mencari buku tentang adat Batak, dan konsultasi kepada orang-orang yang lebih tua tentang prosedur adat pernikahan Batak. Dengan kemampuan yang sangat minim, jadilah saya parsinabung. Itulah untuk pertama kalinya saya menjadi juru bicara adat Batak. Itu pula pertama kalinya marga Silaban di Surabaya tidak lagi meminjam marga lain sebagai juru bicara adat.

JAKARTA lagi.  (Trek ke delapan)

Sang Waktu membawa saya kembali berkantor dan bekerja di Jakarta. Tanggal 17 Juni 2011, saya dilantik menjadi Asisten Deputi di Sekretariat Wakil Presiden RI. Dari pegawai Pemda di Surabaya, saya kembali bekerja di Instansi Pemerintah Pusat. Proses pindah tugas tersebut boleh dibilang sederhana tapi boleh juga dibilang rumit.  Rumit karena perpindahan tugas dari pegawai Pemda ke Pusat memerlukan proses administrasi yang tidak sederhana. Saya katakan tidak rumit, karena kepindahan saya ibarat “botol ketemu tutup”,  Klop. Jadi ibaratnya saya tinggal menjalani.

Ketika saya sedang mempertimbangkan untuk cari suasana lain dari kantor di BLH Surabaya, saya bertemu kawan lama. Pada perjumpaan itu, si kawan, Bambang Sudiatmo, menyarankan untuk menemui Pak EP, mungkin Pak EP bisa memberikan saran. Selang berapa waktu, saya menemui Pak EP dan menceritakan macam-macam tentang kantor dan keinginan cari tempat kerja baru. Rupanya Pak EP sedang mikir-mikir juga mencari orang membantu tugasnya (waktu ketemu itu, Pak EP tidak bilang ke saya). Dan rupanya saya dianggap mempunyai kualifikasi yang cocok dengan orang yang dibutuhkan Pak EP. Jadi kan seperti botol ketemu tutup. Saya kemudian menjalani assessment test selama 3 hari untuk ikut masuk kualifikasi di kantor Pak EP. Singkat cerita saya dianggap memenuhi syarat, dan kemudian Pak EP menjadi atasan saya.

Di kantor baru, saya harus belajar banyak. Meski lolos test dan dianggap memenuhi kualifikasi, tapi jenis pekerjaan saya sebelumnya di kantor lama sangat berbeda dengan pekerjaan di kantor baru ini. Disini urusannya adalah administrasi dan kajian, sementara di kantor lama adalah operasionalisasi pelayanan publik. Di kantor lama memang ada juga unsur kajiannya, tetapi kajian di kantor baru sangat berbeda dengan di kantor lama. Itu sebabnya saya harus belajar lagi. Orang tua belajar lagi!

Selain itu, di kantor lama aturan protokoler tidak seketat di kantor baru. Disini, di gerbang kantor saja harus melalui pemeriksaan ketat, termasuk harus melalui pintu security door. Pemeriksaan itu adalah untuk alasan keamanan, sesuai dengan fungsi kantor baru saya. Tapi saya termasuk yang dapat kemudahan tidak harus selalu melalui pintu metal detector. Tapi perbedaan utama adalah bahwa di kantor baru saya harus belajar dan mengerjakan administrasi dan manajemen publik secara lebih mendasar.

Mulailah saya komuting Surabaya-Jakarta, PJKA, Pulang Jumat Kembali Ahad. Tentu tidak setiap minggu saya bisa ke Surabaya, kalau terlalu sering, bisa-bisa kantong robek karena ongkos.

Trek selanjutnya …???

[back to top page]

PURNA TUGAS 

Sebenarnya tidak ada istilah purna tugas. Itu cuma istilah administrasi saja, membedakan berapa jumlah gaji yang diterima. Kalau sudah pensiun, maka gaji bulanan menjadi lebih kecil dibandingkan sebelumnya. Meski sudah pensiun, tugas tidak pernah selesai. Apalagi kalau kita cukup kreatif. Bagian ini menjadi hal yang menarik untuk ditulis.

Kalau saya purna tugas alias pensiun, saya mungkin akan tinggal di Jakarta atau di Surabaya. Karena sudah 17 tahun tinggal di Surabaya, secara emosi sosial saya sudah kerasan di Surabaya.  Teman-teman banyak yang di Surabaya. Keterjangkauan jarak salah satu faktor yang membuat Surabaya cukup nyaman.

Tapi mungkin juga setelah pensiun saya tinggal di Jakarta. Kalau saja nantinya kedua anak saya menetap di Jakarta, boleh jadi itu menjadi alasan yang sangat menentukan. Saudara dekat yang lain banyak yang tinggal di Jakarta, jadi mereka akan senang kalau saya tinggal di Jakarta setelah pensiun.

Mau di Jakarta atau di Surabaya, sebenarnya tidak terlalu persoalan. Buat orang pensiunan, yang nyaman ya tinggal di tempat yang diinginkan. Beberapa waktu lalu, saya ketemu pasangan suami istri yang sudah pensiun. Suaminya sudah bertugas di berbagai kota di tanah air. Anaknya ada yang tinggal di Jakarta, ada yang tinggal di Surabaya. Bapak dan ibu itu memutuskan tinggal di Sukabumi setelah pensiun. Padahal sebelumnya mereka tidak pernah tinggal di Sukabumi. Cerita bapak dan ibu itu memberi inspirasi juga buat saya.

Saya sebenarnya terlalu berani menulis trek bagian purna tugas alias pensiun ini. Kalau saya sampai pensiun, tidak apa-apa, tapi kalau sebelum pensiun, ternyata Tuhan memanggil saya, tidak bisa berbuat apa-apa. Bulan Nopember 2011, seorang teman kantor mendadak pingsan sewaktu nyetir, dan beberapa menit kemudian menghembuskan nafas terakhir. Kejadian itu mengingatkan saya, kapan saja kita bisa dipanggil Tuhan, bahkan sebelum pensiun. Jadi sebenarnya tidak baik mendahului sesuatu yang belum terjadi. Tapi sebagai orang yang sering buat perencanaan di kantor, saya jadi terbiasa berandai-andai. Saya tidak bermaksud untuk mendahulukan sesuatu alias mendahului kehendak Tuhan. Itulah sebabnya saya edit bagian ini dengan tulisan miring (italic).

TREK  TERAKHIR

Saya harus mulai juga menulis sesuatu tentang tugas terakhir setiap orang. Ketika Sang Khalik, Tuhan Yang Maha Kuasa sudah menentukan, Dia akan memanggil setiap orang untuk menghentikan tugas dan kehidupan di dunia ini. Suatu saat saya juga akan menghadap Dia Sang Pencipta, maka siap atau tidak siap, saya juga harus menulis itu.

Boleh jadi saya tidak sempat menulis Trek ini secara lengkap sebagai catatan perjalanan kehidupan saya. Bisa saja Tuhan memutuskan saya harus berhenti di dunia ini, cukup sudah tugas-tugas di dunia. Saya tidak bisa menolak kehendak Yang Kuasa. Kematian adalah sisi lain dari kehidupan. Semua orang yang hidup, suatu saat akan mati, kita hanya menunggu giliran. Kalau itu terjadi biarlah waktu yang akan mencatatkan semuanya.

Kalau boleh memilih saya ingin menyaksikan kedua anak saya sampai pada tahap mereka benar-benar mandiri secara emosional dan secara pribadi. Sangat indah kalau saya sempat melihat mereka menjadi pribadi yang mengesankan, dan kalau boleh sampai mereka berkeluarga. Ini keinginan yang lumrah saja. Tapi itu kan keinginan manusia, kehendak Tuhan siapa yang tau.

Saya menulis bagian terakhir ini (8 Juli 2011),  seolah-olah mau mati saja. Semoga saja tidak.  Makanya supaya tidak terlalu macam-macam, saya stop saja bagian terakhir ini. Saya melengkapi bagian yang lain saja.

Horas jala gabe.