Murder

Pembunuhan

Malam itu, akhir Desember 1948, menjelang tahun baru, Hermin, gadis remaja yang baru berumur 16 tahun sedang merapikan beberapa peralatan di dapur. Sebagai gadis remaja, ia sudah terbiasa mengerjakan berbagai hal di rumah. Mereka baru saja selesai menyantap makan malam bersama ayahnya Samuel Silaban (kemudian bergelar Ompu Togar doli), ibunya Dongsi br. Sinambela dan adik-adiknya, Binsar menjelang 12 tahun. Halomoan sekitar 10 tahun, anak laki-laki dengan perawakan agak gendut, Banggas, 7 tahun, Sere, adik perempuannya yang masih berusia 2 tahun dan Parningotan berumur sekitar 2 bulan.  Abangnya Baginda sedang berada di Bakara (tepian danau Toba), sementara adiknya yang bernama Toba sedang pergi ke Sidikalang. Hermin menjadi anak yang paling besar di rumah, karena kakaknya yang lain sudah menikah dan tinggal di kampung suami masing-masing.

Ayah Hermin, Samuel, adalah laki-laki setengah baya pekerja keras. Ia pernah menjadi Kepala Negeri di Silaban, dan menjabat cukup lama. Samuel terpilih menjadi Kepala Negeri ketika berumur masih terbilang muda, 28 tahun. Setelah Indonesia merdeka, jabatan “Kepala Negeri”, tidak dipakai lagi. Dalam masa transisi setelah proklamasi kemerdekaan, pimpinan desa pada saat itu disebut “Ketua”. Ketua bukanlah jabatan formal, tapi ia menjalankan kepemimpinan desa. Setelah tidak menjabat sebagai Kepala Negeri, Samuel sempat menjabat sebagai Ketua di desa Silaban Siponjot.

Rumah yang mereka tinggali di Lumban Silintong dulunya sekaligus berfungsi sebagai kantor Kepala Negeri Silaban. Hermin ikut membantu ayah dan ibunya bekerja di sawah dan di kebun milik mereka. Remaja seusia Hermin kala itu sudah sangat cekatan bekerja di kampung di Silaban. Kampung yang terdiri dari beberapa dusun atau huta dan dihuni oleh keluarga bermarga Silaban.

Suasana malam itu sangat biasa. Di luar rumah sangat gelap, bulan tak terlihat. Suara jangkrik di tengah malam jelas terdengar. Rumah panggung di ujung dusun Lumban Silintong itu diterangi lampu sederhana. Hermin tak melihat ada yang berbeda pada ayahnya malam itu, ayahnya bercengkerama dengan ibunya dan adik-adiknya sebagaimana biasanya. Mereka larut dalam obrolan perayaan Ari Pesta, Natal yang beberapa hari sebelumnya diadakan di gereja tak jauh dari rumah Hermin.

Di tengah pembicaraan keluarga, Samuel meminta anak istrinya untuk diam, terdengar suara-suara sejumlah orang yang mendekati kerumah mereka. Sesaat kemudian suara-suara itu semakin jelas terdengar, dan sudah berada di sekitar rumah. Tiba-tiba sejumlah orang menggedor-gedor rumah Samuel Silaban. Orang-orang itu berteriak-teriak.

Hei Samuel, keluar kau sekarang juga!” suara orang di luar rumah semakin keras.

Samuel berusaha menenangkan anak dan isterinya dan menyuruh mereka untuk tidak melawan. Suara para perusuh semakin keras, mereka berusaha  mendobrak masuk ke dalam rumah. Kondisi pintu dapur tidak begitu bagus, para perusuh itu mendobrak pintu menggunakan kayu sehingga pintu menjadi terbuka. Para perusuh masuk ke dalam rumah.

Anak-anak ketakutan dan menangis. Hermin memeluk adik-adiknya yang ketakutan di pojok dapur. Gadis remaja ini menyaksikan orang-orang yang marah memaki-maki ayahnya. Lampu penerangan di rumah menyala dengan sehingga wajah-wajah para perusuh dapat terlihat. Betapa terkejutnya Hermin, ketika ia mengenali orang-orang itu. Mereka adalah orang-orang yang tinggal di kampung yang berdekatan dengan Lumban Silintong, orang-orang itu tak lain adalah tetangga dari huta Nagatimbul, Sigaol-Gaol, Sitakkubang, Sipagabu dan daerah sekitarnya. Karena sering bertemu, Hermin mengenali Marinus, Panal, Saur, Tahi, Krisman, Bangso, Pala, Jaintan, Kaspar dan beberapa orang lainnya Hermin tak bisa melihat semuanya, karena mereka bergerak menerjang dan berteriak-teriak. Pala menjadi orang yang paling keras suaranya menghardik Samuel, Pala yang kelihatannya menjadi pemimpin kelompok perusuh itu. Mereka semua sebenarnya masih terhitung keluarga,yaitu  dongan tubu, dari Samuel. 

Samuel mencoba melawan para perusuh yang dipimpin Pala, tapi seorang diri, ia tak mampu melawan banyak orang. Binsar yang ketika itu berumur sekitar 12 tahun, mencoba melawan, membela ayahnya,tapi apalah daya seorang anak kecil menghadapi beberapa orang yang sedang marah dan beringas, Binsar tak berdaya, kepalanya terluka oleh goresan benda tajam. 

Samuel Silaban diseret ke luar rumah, tiba-tiba seseorang menghunus pedang dan hendak membunuh Samuel, tapi Samuel melindungi diri dengan tangannya, akibatnya tangannya terpenggal hingga terputus di pergelangan. Darah mengguyur, ia tersungkur. Perusuh lainnya melemparkan potongan tangan Samuel ke halaman yang gelap. Perusuh itu mengira Samuel sudah tewas tertebas pedang. Tapi ternyata Samuel masih hidup, ia menahan sakit untuk tidak berteriak, supaya dikira ia sudah mati. Dengan kondisi terluka, Samuel melarikan diri ke arah parit (lombang) di depan rumah yang sangat gelap.

Istri dan anak Samuel menjerit-jerit menangis histeris, setumpuk kayu kering yang kebetulan berada di depan dapur dibakar, sehingga sekitar rumah menjadi terang benderang. Mendengar jeritan dari rumah Hermin, para tetangga terdekat keluar rumah ingin tau apa yang terjadi. Karena keadaan menjadi terang oleh nyala api dari tumpukan kayu, dan para tetangga yang mulai berdatangan, para perusuh kemudian pergi meninggalkan Lumban Silintong.

Setelah para perusuh pergi, dalam keadaan terluka, Samuel kembali ke dalam rumah dengan tangan yang terputus. Samuel menyuruh Hermin mencari potongan tangan ayahnya yang sebelumnya dilemparkan perusuh ke kegelapan malam. Sambil menangis ia mencari-cari potongan tangan ayahnya. Akhirnya Hermin menemukan potongan tangan itu, sayangnya sewaktu ditemukan, potongan tangan itu sudah tidak utuh. Hermin membawa potongan tangan ayahnya ke dalam rumah. Mereka menangis sepanjang malam menyaksikan tangan Samuel yang sudah putus.

Keesokan harinya, Hermin disuruh ibunya untuk memanggil tabib, ayahnya Samuel yang mengalami cedera akan dirawat di rumah, tangannya harus segera diobati. Tapi tabib tak mampu menyambung potongan tangan yang terputus malam sebelumnya, luka hanya bisa ditutup dan dirawat, tangan yang sudah putus tak bisa disambungkan lagi.

Berita upaya pembunuhan kepada ayah Hermin tersiar kepada sanak keluarga. Mereka berdatangan untuk mengetahui apa yang terjadi dan bagaimana pengobatan yang dilakukan. Para keluarga dekat datang menjenguk termasuk boru dan hela serta ito dan lae Samuel Silaban. Mereka semua berkumpul di Lumban Silintong. Kabar itu cepat tersebar. 

Kelompok perusuh kemudian mengetahui kalau Samuel masih hidup. Malamnya orang-orang dari Kelompok Pala datang lagi ke rumah Samuel dengan jumlah yang lebih banyak dari malam sebelumnya. Mereka mengatakan bahwa Samuel harus menghadapi pemeriksaan aparat pemerintah di Hutasoit. Sambil mengancam dengan senjata tajam mereka memaksa, bahwa meskipun tangannya masih terluka, Samuel harus mengikuti mereka ke Hutasoit untuk diperiksa.

Di tengah ancaman, Samuel dan keluarga tak bisa berbuat banyak dan harus mengikuti perintah dari orang-orang  Kelompok Pala. Karena tidak bisa berjalan sendiri, Samuel harus ditandu. Untuk memikul tandu, ditugaskan kepada Laurensius Silaban, Walfared Sihombing (menantu Samuel dari Butar), dan Jalak Simamora (lae Samuel dari Sait ni Huta Dolok Sanggul), serta Karal Samosir (lae dari Samuel). 

Lewat tengah malam dengan ditandu bergantian oleh Walfared Sihombing, Laurensius Silaban, Jalak Simamora dan Karal Samosir, Samuel dibawa ke Hutasoit, ke sebuah kampung  seseorang yang bernama Husor Hutasoit, kampung itu berjarak sekitar 5 kilometer dari Lumban Silintong. Banyak orang dari Kelompok Pala mengikuti perjalanan Samuel ke Hutasoit. Perjalanan Samuel ke Hutasoit diiringi anggota keluarga untuk membawa obat, mereka adalah Hermin, Timo (berenya) dan Tioman, itonya yang datang dari Sait ni Huta, Dolok Sanggul.

Menjelang pagi, rombongan tiba di Hutasoit. Samuel yang tak berdaya ditempatkan di salah sebuah rumah yang sudah dikosongkan. Samuel dan keluarganya diintimidasi dan dituduh sebagai kaki tangan Belanda. Pala dan kawan-kawan menghina dan memaki-maki Samuel. Samuel tak mampu berbuat apa-apa, tangannya yang terpenggal, masih terasa sangat sakit.

Menjelang siang, rombongan Samuel dan keluarganya satu persatu dipisahkan. Walfared Sihombing dipisahkan ke salah sebuah rumah, sedangkan Timo br. Sihombing dipisahkan ke rumah lainnya. Laurensius disuruh pulang ke Lumban Silintong, Jalak Simamora dipisah ke rumah lainnya. Hermin dan Tioman juga ditempatkan di rumah terpisah. Tinggallah Samuel bersama Karal Samosir tetap bersama dalam rumah yang pertama.

Siang itu Walfared Sihombing dipulangkan dari Hutasoit. Sementara itu di rumah terpisah, Jalak Simamora dipukuli oleh anggota Kelompok Pala. Tidak berapa lama kemudian Jalak Simamora dan isterinya Tioman br. Silaban disuruh pulang ke Sait ni Huta.  Tinggallah Hermin seorang diri di rumah yang terpisah.

Sementara itu semakin banyak orang yang datang ke tempat penyekapan Samuel. Mereka adalah Kelompok Pala, dan sebagian lagi adalah penduduk yang tinggal dekat huta yang bersebelahan. Karena ditahan terpisah, hari itu Hermin tidak tau apa yang terjadi dengan ayah dan amangborunya Karal Samosir, Hermin hanya bisa menyaksikan banyak orang berkerumun di dekat rumah di mana Samuel disekap.

Sore harinya Hermin diminta menemui Samuel untuk menyalami ayahnya. Pada pertemuan itu Hermin melihat bahwa ayahnya Samuel dan Karal mengalami luka-luka pada wajah dan tubuhnya, mereka berdua habis mengalami penyiksaan. Menyaksikan ayahnya yang terluka, lemah dan tak berdaya, hati Hermin terguncang, air matanya mengucur, ia menahan isak tangis. Dengan terbata-bata menahan rasa sakit, dan dengan susah payah Samuel berkata:

Ito, borukku, pasahat ma tabekku tu inongmu, tu ibotom, tu anggim, dohot tu sude akka pamilinta. Anngo au dohot amang borumon, nunga didok si Pala, si Marinus, dohot si Panal, na ikkon pamateon nasida nama hami. Jadi unang sai tangis be ho inang, ramoti ma sude tinodohonmi.”

Borukku, sampaikan salamku kepada ibumu, adik-adikmu serta semua keluarga kita,  Menurut si Pala, Marinus dan Panal, mereka akan segera membunuhku dan membunuh amangborumu. Engkau jangan menangis lagi, jagalah semua adik-adikmu.

Itulah kata-kata terakhir yang didengar Hermin. Tiba-tiba seseorang menarik Hermin dan kemudian membawanya pergi. Setelah itu Hermin tak pernah lagi melihat ayahnya. Hermin dipindahkan ke salah sebuah rumah lain yang agak jauh dari tempat Samuel ditahan. Hermin tak bisa mendengar dan tidak bisa melihat apapun dari rumah tempat dia ditahan.

Sore itu ketika hari sudah mulai gelap, Hermin disuruh pulang ke Lumban Silintong. Sebelum dipulangkan, Marinus mengancam Hermin supaya tidak menceritakan apapun yang dilihatnya di Hutasoit kepada orang lain, termasuk kepada ibunya. Kalau ia menceritakan, ia juga bisa dibunuh. Dengan sangat ketakutan, Hermin pulang seorang diri ke Lumban Silintong.

Setibanya di Lumban Silintong, hari sudah gelap, Hermin mendapati rumahnya dalam keadaan kacau balau. Tak ada orang di sana, ia tidak melihat ibunya, begitu juga adik-adiknya. Hermin merasa hatinya seperti di tusuk-tusuk, ia ingin menjerit dan berteriak, tapi tak ada suara yang keluar dari mulutnya, hanya air mata yang mengalir di pipinya.

Suasana rumah Hermin di Lumban Silintong menjadi kacau, ketika ayahnya Samuel dibawa ke Hutasoit, orang-orang dari Kelompok Pala datang mengambil semua barang yang ada di rumah, tak ada yang tersisa. Perhiasan, perabotan, pakaian, peralatan, padi, beras, semua diambil bahkan binatang ternak juga dijarah, sebagian barang yang tak bisa dibawa, dirusak oleh para perusuh, sehingga rumah Hermin menjadi kosong melompong. Adik-adik Hermin yang masih kecil tercerai berai dan menumpang di rumah orang  lain. Rupanya mengetahui Samuel diculik dan dibawa ke Hutasoit, menantunya Faber Purba datang dari Bakara menjemput mertuanya Dongsi br. Sinambela dan membawanya ke Bakara. Baginda menyusul kemudian juga membawa bayi Parningotan. Mereka kuatir, kalau-kalau Kelompok Pala akan menculik Dongsi dan anggota keluarga yang lain.

Namborunya, Nai ballu (istri dari Karal Samosir), menghampiri Hermin, sambil berkata:

Semua barang seisi rumah diambil oleh  si Pala Silaban dan  kawan-kawannya, tidak  ada yang tersisa, perabotan, pakaian, perhiasan, beras, padi dan apapun yang ada di rumah sudah mereka bawa. Mamakmu telah diajak abangmu Si Purba mengungsi setelah Liben Lumbantoruan membisikkan rencana perusuh akan membunuh mamakmu juga. Ucok dibawa itomu Baginda, menyusul  mamakmu ke pengungsian. Itomu dan adikmu yang lain dibawa si Peter Sianturi ke Huta Godang”.

Hermin, menangis meraung-raung, Nai ballu bertanya kondisi suaminya, tapi Hermin tak menjawab, ia hanya semakin keras menangis, ia tak mampu bicara.  Tidak mampu menahan sesaknya emosi, akhirnya Hermin jatuh pingsan. Orang-orang menolongnya. Setelah sadar kembali Hermin terus menangis, semalaman Hermin tak berhenti menangis meski sudah dibujuk oleh Nai Ballu. Hermin tak mampu menceritakan kondisi ayahnya, dan keadaan Karal, suami Nai Ballu.

Keesokan harinyanya, semakin banyak orang yang datang menjenguk Hermin, mereka bertanya mengapa ia pulang sendirian. Di mana Samuel dan Karal, apa yang terjadi dengan mereka. Semua ingin tau kondisi yang sebenarnya. Semakin ditanya, Hermin tak bisa bicara, ia tetap bungkam. Ia hanya menangis.  

Peristiwa yang dialami Hermin dalam beberapa hari itu sangat membingungkan sekaligus menyakitkan hatinya. Serombongan orang tiba-tiba datang merenggut ketentraman rumahnya, tangan ayahnya Samuel di penggal hingga putus. Tak puas dengan itu Pala dan kawan-kawan menculik ayahnya ke Hutasoit, ayahnya disiksa secara fisik dan mental. Hermin bahkan dipulangkan, sehingga tidak ada keluarga yang tau apa yang terjadi dengan ayahnya. Hatinya ingin berontak, tak mau menerima kalau ayahnya telah dibunuh, ia berharap ia masih akan bertemu dengan ayah yang dikasihinya itu.

Tapi tak ada yang bisa dilakukan, Pala dan teman-temannya menteror Hermin dan keluarganya, bahkan menteror orang-orang yang mencoba mencari tau kondisi Samuel. Sehingga tak ada lagi orang berani yang menanyakan nasib Samuel dan Karal. Orang-orang mengatakan kalau Samuel dan Karal sudah tewas dibunuh oleh kelompok Pala. Hermin ingin tak mempercayai itu, ia ingin segera bertemu dengan ayahnya. Tapi ia tak mampu berbuat apa-apa. Ancaman Marinus ketika ia akan dipulangkan dari Hutasoit membuatnya bergidik. Ia tau Marinus tidak main-main dengan ancamannya.

Situasi keamanan di masa transisi setelah kemerdekaan itu sangat tidak menguntungkan. Orang yang merasa kuat bisa melakukan sekehendak hati, tanpa ada yang bisa menghalangi. Membunuh orang seolah sebuah tindakan yang tak perlu dirisaukan. Hermin jadi semakin bingung. Mengapa ayahnya harus dibunuh,  kenapa orang-orang itu tega menyiksa dan menghabisi nyawa Samuel dengan kejam. Mengapa Samuel harus mati ditangan orang-orang yang sebenarnya masih termasuk kerabat (dongan tubu) ???

Melihat kondisi Hermin yang terguncang, Teller, kakaknya yang telah menikah dan tinggal di Butar membawa Hermin mengungsi ke Butar, Siborong-borong. Tinggal di Butar tidak membuat hati Hermin menjadi tenteram. Pesan terakhir ayahnya untuk menjaga adik-adiknya terus mengiang di telinganya. Ia memang bersedih kehilangan ayah yang dicintainya, tapi mengingat adik-adiknya yang masih kecil, ia menjadi lebih merasa bersalah kepada ayahnya. Karena itu ia memutuskan untuk kembali ke Lumban Silintong.

Sekembali dari Butar, Hermin menemui adik-adiknya. Mereka mulai membersihkan rumahnya, tapi mereka belum berani tinggal di rumah itu. Hermin dan adiknya terpaksa menumpang, maisolat, di rumah tetangga. Ibu mereka, Dongsi br. Sinambela masih tetap mengungsi di Bakara, karena situasi keamanan di Lumban Silintong masih menakutkan.

Setelah beberapa lama menumpang di rumah tetangga, dan suasana di Lumban Silintong berangsur mulai tenang, Hermin dan adik-adiknya mulai berani kembali ke rumah mereka sendiri. Tapi di rumah itu tak ada apa-apa, bahkan peralatan untuk memasak ubi pun tidak ada. Anak-anak itu sering merasa lapar, karena tidak ada yang bisa dimakan. Malam hari mereka sering tidur kedinginan dalam kondisi lapar.

Kehidupan yang sangat sulit dijalani Hermin dan adik-adiknya. Ayah mereka terbunuh dan tidak jelas dimana kuburnya, ibunya mengungsi menghindari incaran para pembunuh ayahnya. Gadis remaja itu harus berfungsi sebagai ayah dan ibu bagi adik-adiknya. Untuk menyambung hidup, Hermin dan adik-adiknya mengais-ngais ubi dari kebun. Hermin merebus ubi untuk memberi makan adiknya. Mereka juga memunguti padi dari sawah untuk bisa dijadikan beras. Anak-anak itu terpaksa bekerja untuk mendapatkan sepotong ubi. Kondisi itu berlangsung ber bulan-bulan lamanya.

Pemakaman Kembali

Setelah beberapa bulan, (awal tahun 1949), beberapa orang pomparan dari OMPU LAMPIANG SILABAN, antara lain, Philemon, Jomen, Manggading, dan Ama Lada, mereka mengunjungi tulangnya di Bakara. Pada kesempatan itu mereka bertanya tentang keberadaan Dongsi (Nai Baginda) br. Sinambela. Kemudian mereka mengajak Dongsi br. Sinambela untuk kembali ke desa Silaban.  Meskipun kabar keberadaan suaminya Samuel belum jelas, akhirnya ibu Hermin, Dongsi br. Sinambela merasa sudah aman kembali ke desa Silaban.

Setibanya di desa Silaban, diadakan acara Pangkopolon (doa minta kekuatan) dan penyampaian hata togar-togar dengan harapan agar kiranya Nai Baginda dan anak-anaknya diberi kekuatan oleh Tuhan menjalani hari-hari mereka yang ditinggal oleh Samuel Silaban. Setelah acara itu, untuk sementara Dongsi (Nai Baginda) br. Sinambela tinggal di Huta Godang.    

Ibu Hermin, Dongsi br. Sinambela, telah kembali dari Bakara. Ia harus tinggal dengan anak-anaknya di Lumban Silintong.  Dongsi tak mendapat kabar dari suaminya. Ia hanya tau bahwa suaminya Samuel Silaban, mantan Kepala Negeri Silaban telah mati terbunuh di Hutasoit. Dongsi harus memulai hidup bersama anaknya.

Setelah beberapa waktu, situasi desa Silaban, terutama kampung Lumban Silintong secara berangsur-angsur semakin aman. Secara bertahap, Dongsi br. Sinambela kembali menata hidupnya dengan anak-anaknya. Walaupun susah, mereka menjalani kehidupan seadanya. Rumah yang semula kosong melompong ditinggali dengan kondisi seadanya. Perbekalan diandalkan pada hasil kebun dan meminjam pada kerabat terdekat. Kehidupan Hermin dan adik-adiknya sangat sulit sepeninggal ayahnya. Tapi mereka harus tetap bertahan. 

Sambil menjalani kehidupan yang tidak mudah, upaya pencarian informasi tentang Samuel Silaban mulai dilakukan. Ada beberapa orang yang memberi informasi tentang terbunuhnya Samuel Silaban. Menurut informasi itu Samuel Silaban dan Karal Samosir terbunuh dan dikuburkan di Hutasoit, di dekat kampung dimana Hermin terakhir bertemu dengan ayahnya. Tetapi lokasi persis makamnya tak bisa diketahui dengan pasti, karena makamnya tidak diberi tanda apapun, tidak ada Salib, tidak ada nisan atau yang sejenisnya. Ada juga orang yang tahu lokasinya, tapi tidak berani memberi tahu, karena takut pada Kelompok Pala Silaban yang terlibat dalam pembunuhan Samuel Silaban dan Karal Samosir.

Upaya pencarian semakin intensif setelah Hermin br. Silaban menikah dengan Pinayungan Tampubolon pada tahun 1950. Keluarga baru ini menetap di Silaban, dan terus berupaya menemukan di mana Samuel Silaban dikuburkan. Pinayungan Tampubolon, seorang guru, yang membuka sebuah sekolah SMP di Pargaulan, Lintong ni Huta, sangat gigih mengumpulkan informasi keberadaan mertuanya. 

Seseorang yang bernama Nai Manggudang br. Silaban, isteri dari Bp. Baris Hutasoit memberikan gambaran lokasi kuburan. Informasi tambahan diberikan oleh Apo Hutasoit. Akan tetapi informasi itu belum dapat menunjukkan titik lokasi yang pasti di mana persisnya Samuel dan Karal dikuburkan. Informasi berharga ini, dikumpulkan dengan informasi dari orang lain. 

Untuk  pertama kalinya Indonesia mengadakan pemilihan umum pada tahun 1955. Kira-kira setahun setelah Pemilu tersebut, Pinayungan Tampubolon mendapatkan informasi yang sangat berharga tentang keberadaan mertuanya. Setelah beberapa tahun berlalu, orang yang semula takut memberi informasi, akhirnya berani memberitahu lokasi Samuel dikuburkan. Informasi tentang lokasi di mana almarhum Samuel Silaban dikubur bersama iparnya almarhum Karal Samosir cukup akurat. Ternyata kedua jenazah dikuburkan dalam satu lubang di Pea Sigaol, Hutasoit. 

Setelah yakin dengan informasi yang diperoleh, pihak keluarga berkumpul dan memberitahukan rencana pengangkatan kerangka Samuel Silaban dari Pea Sigaol Hutasoit. Keluarga besar Pomparan OMPU SUALON diberitahukan dan diajak berunding untuk menyepakati proses pengangkatan kerangka. Pada tahun 1956, diadakanlah penggalian kerangka (saring-saring) Samuel Silaban dan Karal Samosir dari sebuah tempat di Pea Sigaol, Hutasoit. Penggalian dilakukan dengan mengajak keluarga besar dari Lumban Silintong. Prosesi penggalian juga disaksikan dan didukung oleh Pomparan OMPU SUALON SILABAN. Kemudian kerangka itu dibawa ke rumah Samuel Silaban di Lumban Silintong.

Sesampainya di Lumban Silintong, seluruh keluarga diberitahu bahwa kerangka Samuel Silaban dan Karal Samosir yang terbunuh telah ditemukan. Untuk itu diadakan acara pengucapan syukur, karena selama ini keberadaan Samuel Silaban dan Karal Samosir tidak jelas, sekarang telah ditemukan. Pengucapan syukur dihadiri oleh penatua keluarga besar Pomparan OMPU SUALON dari seluruh huta yang ada di desa Silaban.

Acara pengucapan syukur dan penghormatan kepada Samuel Silaban berlangsung selama lebih dari 7 (tujuh) hari. Orang yang datang manortor diiringi dengan petikan kecapi Batak (hasapi).  Bagi para pelayat disiapkan makanan, semua yang hadir ikut makan bersama. Pada kesempatan itu seluruh Pomparan OMPU SUALON SILABAN silih berganti memberi hata-togar-togar, poda dan tona kepada hasuhuton, keluarga besar Samuel Silaban. 

Inti dari poda dan tona itu adalah:

“Jujur do mula ni hasesega, alai bolus do mula ni hadengganon. Jadi tu hamu sude ianakhon ni Amanta Raja i (Samuel Silaban), tangkas ma hamu sijalo poda, jala tangkas hamu siulahon tona”.

Poda dan tona itu bermaksud agar keluarga Samuel ikhlas dengan kematian Samuel dan jangan menyimpan dendam. Hasuhuton, keluarga Samuel bersama Pomparan OMPU BUHA pada akhir acara menyambut hata togar-togar, poda dan tona dalam mangampu. Secara prinsip, hasuhuton sudah ikhlas dengan kematian Samuel Silaban, dan menyerahkan rencana pemakaman kembali kerangka Samuel kepada natua-tua Pomparan OMPU SUALON. Karena itu hasuhuton memohon agar menetapkan proses dan dimana kerangka Samuel akan dimakamkan kembali.

Setelah acara 7 hari selesai, untuk sementaea kerangka Samuel Silaban dimasukkan ke dalam sebuah kotak dan ditempatkan di loteng rumah, karena masih menunggu penetapan lokasi pemakaman kerangka tersebut.

Beberapa waktu kemudian, keluarga Samuel Silaban mengundang semua pangituai adat, para natua-tua dari Pomparan Ompu Sualon (Siponjot) yang domisili di Desa Silaban Siponjot untuk berkumpul. Pangituai adat dari Hutagodang, Ambar, Sigaol-Gaol, Sosor ni Apoan, Sitakkubang, Sipagabu, Pangasian, Nagatimbul dan Lumban Silintong hadir di acara itu. Pertemuan yang diadakan di rumah Samuel Silaban di Lumban Silintong adalah untuk memohon sebidang tanah untuk menjadi lokasi makam Samuel Silaban. 

Para pangituai adat  memberi pendapat dan masukan tentang permohonan keluarga Samuel tersebut. Pada prinsipnya para natua-tua tersebut mengatakan bahwa kematian Kepala Negeri Silaban, Samuel Silaban, adalah kejadian yang amat disesalkan. Sebagian orang yang diduga terlibat dalam pembunuhan terhadap Samuel Silaban ternyata adalah dongan tubu juga, karena itu Samuel Silaban wajar dan layak mendapat kehormatan untuk dimakamkan di tempat yang pantas. Apalagi Samuel Silaban pernah berjasa membangun dan mengelola wilayah Silaban sebagai Kepala Negeri dan sebagai “Ketua”. Dalam pertemuan hasuhuton, keluarga Samuel, memohon kepada para natua-tua agar diberikan sebidang tanah sebagai tempat untuk memakamkan kerangka Samuel Silaban secara layak. 

Pada waktu itu anak laki-laki Samuel belum ada yang menikah, sehingga Samuel belum boleh dimakamkan ke suatu makam Tambak persatuan dan juga belum boleh memulai Tambak. Pada masa hidupnya Samuel adalah seorang pemimpin di Silaban, ia adalah Kepala Negeri Silaban. Sehingga Samuel dinilai layak mendapatkan lokasi lahan makam tersendiri. Akhirnya seluruh penatua keturunan Pomparan Ompu SUALON membuat kesepakatan dan menetapkan lokasi lahan makam Samuel. Lokasi lahan makam ditetapkan di tepi jalan raya yang menghubungkan Dolok Sanggul dan Lintong Ni Huta, yaitu pada sudut pertigaan antara Simpang jalan ke Hutasoit dengan Simpang jalan ke Lintong ni Huta. Untuk melengkapi makam itu, maka di sebelah Timur makam akan didirikan sebuah rumah. Kesepakatan itu menjadi sebuah ketetapan para penatua-penatua dari keturunan Pomparan Ompu SUALON.

Setelah rapat rampung dan kesepakatan telah ditetapkan, acara dilanjutkan dengan adat jamuan makan untuk meresmikan penetapan lokasi lahan makam Samuel. Adat jamuan makan tersebut adalah pengesahan secara hukum adat tentang kesepakatan lokasi lahan makam Samuel Silaban. Dengan jamuan makan itu secara resmi lokasi lahan makam Samuel Silaban ditetapkan berada pada tepi jalan raya yang menghubungkan Dolok Sanggul dan Lintong Ni Huta, yaitu pada sudut pertigaan antara Simpang jalan ke Hutasoit dengan Simpang jalan ke Lintong ni Huta. Adat jamuan makan itu sekaligus sebagai peresmian peletakan batu ojahan makam Samuel Silaban dan pendirian rumah di lokasi lahan makam.

Setelah itu, keluarga Samuel Silaban menanam kayu Dapdap sebagai pagar, kemudian memasang kawat keliling. Lahan itu kemudian ditanami berbagai macam sayuran dan tumbuhan lain. Sejak saat itu lahan tersebut dikelola dan dikuasai oleh Pomparan Samuel Silaban hingga saat ini.

Kemudian keluarga Samuel Silaban membangun sebuah Makam Simin yang menjadi tempat persemayaman kerangka almarhum Samuel Silaban. karena situasi yang tidak memungkinkan, barulah pada tahun 1957, kerangka (saring-saring) almarhum Samuel Silaban dimakamkan kembali ke dalam “Makam Simin” di lokasi yang telah terbangun. Sejak saat itu tanah makam tersebut dikuasai dan dikelola oleh keluarga Samuel Silaban (Ompu Togar) sampai sekarang. Lokasi tanah tersebut (saat ini) bersebelahan dengan Gedung SMP Negeri Silaban dan Tugu Datu Mangambe Silaban. 

 

DSC_0153

Foto makam Alm. Samuel Silaban