Kalau ditanya, maling ayam aja tak mengaku, apalagi teroris

“Saya tidak percaya dia melakukan itu, dia anak yang baik, penurut dan taat beribadah”.
“Menurut informasi, anak anda menjadi anggota jaringan teroris”.
“Tidak mungkin anak saya jadi teroris”.

Itulah penggalan tanya jawab antara wartawan dengan keluarga tersangka teroris.

Pada umumnya keluarga tersangka teroris tak mengakui atau tidak mau menerima kenyataan kalau anggota keluarganya menjadi anggota jaringan terorisme. Berulang kali kita menyaksikan di media elektronik dan pernyataan keluarga tersangka teroris yang bilang kalau keluarganya tak tersangkut teroris. Keyakinan keluarga, ibu, ayah bahkan istri tersangka teroris, bisa dimaklumi. Betapa tidak, para tersangka teroris terlibat, bahkan melakukan perbuatan yang mengakibatkan terbunuhnya orang yang tidak berdosa. Siapa yang sanggup menerima kenyataan bahwa anak yang disayangi ternyata membunuh orang lain dengan kejam.

Akan tetapi kalau ditanya lebih lanjut, apa kegiatan anggota keluarganya yang diduga tersangkut teroris, pada umumnya mereka tidak bisa menjawab, dan hanya sebatas mengatakan “tidak tau“. Sebagai contoh, lihatlah Imam Samudra terpidana kasus bom Bali. Ibu Imam Samudra berulang kali menyebut bahwa anaknya bukan teroris dan tak membunuh orang. Tapi dia juga mengakui bahwa sampai peristiwa bom Bali, sudah lebih dari 6 tahun ia tak bertemu Imam Samudra, dan tidak tau kegiatan anaknya.

Jangankan 6 tahun, tersangka pembom JW Marriot 17 Juli 2009, konon direkrut hanya dalam beberapa bulan, sudah sanggup menjadi “suicide bomber“. Tersangka pembom Marriot jilid dua, ternyata baru saja tamat SMA. Dalam beberapa bulan menjalani proses “cuci otak“, ia yang semula dikenal baik, bisa melakukan pembunuhan kejam dengan melakukan pemboman.

Menurut saya, pertanyaan wartawan kepada keluarga tersangka teroris, seringkali salah kaprah. Seorang yang terlibat dalam kegiatan teroris, tidak akan pernah menceritakan kegiatannya kepada siapapun termasuk istri, dan keluarganya. Mereka sangat tertutup, hanya akan membicarakan kegiatannya diantara sesama “anggota jaringan“. Jadi akan sangat konyol, kalau seseorang ditanya: “Apakah anda tau, kalau anak anda terlibat jaringan teroris?”.

Jangankan anggota teroris, maling ayam saja kalau ditanya tidak akan mengaku kalau dia adalah maling ayam. Pertanyaan media kadang terasa sangat konyol. Sering mereka membuat pertanyaan konyol untuk mendapatkan “statemen hitam-putih“. Narasumber yang ditanya seringkali terjebak dengan statemen yang yang terasa berbeda dari maksud narasumber. Itulah media. Bad news is good news.

One thought on “Kalau ditanya, maling ayam aja tak mengaku, apalagi teroris

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s