“Sakit cegukan” selama lebih dari 8 hari


DSC_1476[1]Anda pernah mengalami “cegukan” selama berhari-hari? Itu ketika lambung berdenyut, lalu gas lambung menekan udara di tenggorokan dan kerongkongan lalu kemudian mengeluarkan suara berbunyi “Nguuk” dari dalam mulut. Saya tidak tau istilah medis untuk gejala penyakit ini. Apakah ini termauk dalam GERD (Gastroesophageal reflux disease), yang menurut definisinya adalah “GERD is a condition in which the stomach contents leak backwards from the stomach into the esophagus (the tube from the mouth to the stomach).  Menurut banyak orang, mereka yang mengalami “cegukan” karena waktu makan kurang minum. Sehingga ketika makan yang masuk kedalam mulut dan masuk menuju lambung, ada yang merasa tersedak, dan kemudian menimbulkan “cegukan”. Untuk mengatasi “cegukan” seperti ini, dengan minum air beberapa tegukan, maka “cegukan” akan hilang dengan sendirinya. Tetapi kalau suara “Nguuk” terus keluar dari dalam mulut secara tidak terkontrol dalam waktu cukup lama, itu ceritanya menjadi lain. Selain terasa sangat mengganggu, tapi juga menyiksa. Dan saya baru-baru ini mengalaminya lebih dari 8 (delapan) hari. Bukan main tersiksanya! Continue reading ““Sakit cegukan” selama lebih dari 8 hari”

Pembakar Hutan “Menang”!


hakim pembakar hutanAdalah Parlas Nababan, hakim Pengadilan Negeri Palembang, yang memenangkan tergugat pembakar hutan, PT. Bumi Mekar Hijau (BMH) dari gugatan perdata Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) terhadap PT BMH yang digugat telah membakar 20.000 hektar lahan di Kabupaten Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Parlas Nababan, ketua majelis hakim yang menyidangkan perkara gugatan tersebut berargumentasi bahwa tidak cukup bukti hukum yang diajukan penggugat. Sehingga gugatannya tidak dapat dikabulkan, alias KLHK kalah, dan pembakar hutan, PT BMH menang. Parlas Nababan, mungkin saja seorang hakim yang pintar, tapi ia jelas-jelas bukan hakim yang bijaksana, dan jauh dari adil. Continue reading “Pembakar Hutan “Menang”!”

Mental Calo


CaloSewaktu masih di SD dan SMP, beberapa kali dalam setahun saya mengunjungi kerabat, ompung uda, namboru dan famili lainnya di kampung. Pada waktu itu angkutan ke kampung di Silaban, kalau tidak pakai bus Sanggulmas, ya bus Silangit. Bus berangkat dari Medan pagi hari, jadi saya menunggu saja di pinggir jalan di Tg. Morawa dan menyetop bus Sanggulmas atau Silangit yang akan lewat. Kalau pulang dari kampung, saya biasanya menunggu bus di pertigaan “Lapo” (begitu kawasan ini kami sebut dulu). Begitu sampai di pertigaan Lapo, beberapa orang yang semula duduk-duduk di kedai, akan menghampiri dan menanyakan akan mau pergi ke mana. “Ai na laho tu Sumatera Timur do hamu“?. Orang ini akan langsung menawarkan jasa untuk menyetop bus dan menaikkan penumpang. Padahal saya sendiri bisa menyetop bus seperti saya lakukan ketika dari Tg. Morawa. Continue reading “Mental Calo”

Pembakaran hutan, pencemaran udara terburuk di dunia!


hutan-kebakaran-riau-20130624_120548Ya, PEMBAKARAN lahan, bukan kebakaran. Ini PENCEMARAN OLEH ASAP, bukan bencana asap. Itu yang mengakibatkan pencemaran udara di beberapa Provinsi di Indonesia. Penegasan terminologi PENCEMARAN dan PEMBAKARAN akan lebih sesuai agar ada pemahaman yang lengkap tentang kejadian asap dalam beberapa bulan terakhir ini. Kalau disebut sebagai kebakaran, seolah-olah kejadian pencemaran oleh asap merupakan kejadian kebetulan, kejadian yang tak dapat dihindarkan. Padahal pencemaran oleh asap yang sekarang ini didominasi akibat tindakan pembakaran lahan dan hutan untuk kepentingan bisnis membuka hutan untuk dijadikan lahan perkebunan. Continue reading “Pembakaran hutan, pencemaran udara terburuk di dunia!”

BPJS untuk Nurmah, siapa peduli?


bpjsNurmah tidak pernah menyangka kalau Mursad, suaminya, akan meninggalkannya tanpa berita sekian lama. Nurmah  pasrah saja ketika Mursad pergi mengadu nasib mencari nafkah. Mursad tidak memberi tahu akan pergi kemana dan untuk berapa lama. Sepeninggal Mursad, Nurmah bertahan hidup dengan mengerjakan apa saja, menjadi buruh cuci, pembantu rumah tangga, pemulung, yang penting dia bisa makan sehari. Di kota seperti Surabaya, tanpa modal, tanpa ketrampilan, tanpa keluarga, Nurmah didera penderitaan hidup yang berkepanjangan. Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, dan kini sudah lebih dari 15 tahun Mursad taka pernah memberi kabar. Entah masih hidup atau sudah mati, Nurmah tak pernah tau. Nurmah tak tau harus mencari ke mana, tidak tahu harus bertanya ke siapa. Continue reading “BPJS untuk Nurmah, siapa peduli?”

Adakah kaitan kenyataan dengan mimpi?


mimpiJalanan di depan rumah berpintu hijau itu lengang, tidak ada orang yang lalu lalang, sejak sejam sebelumnya sudah tidak ada orang melintas. Jalanan di depan rumah ini biasanya ramai, tapi kali ini sangat lain dari yang biasanya, padahal hari masih belum terlalu sore. Pintu hijau dan jendela rumah itu tertutup rapat. Di ujung jalan terlihat beberapa orang berjalan terburu-buru, lalu kembali senyap.  Suasana lengang itu terasa menjadi sangat lama. Beberapa orang terlihat mendekati rumah itu, tapi kemudian menyelinap di balik bangunan. Beberapa orang lagi mendekat sambil berjalan merapat ke dinding bangunan. Continue reading “Adakah kaitan kenyataan dengan mimpi?”

Pedestrian di perkotaan untuk siapa?


Kyoto-3309

Kota yang bermatabat adalah kota yang memberi kemudahan bagi semua orang tanpa kecuali. Kota yang mempunyai fasilitas bagi orang dewasa, anak-anak, lanjut usia, penyandang tuna netra dan pengguna kursi roda. Kota bermartabat harus memberi fasilitas yang memadai bagi para tuna netra, sehingga bila para penyandang netra berjalan sendirian dengan tongkatnya, ia tetap aman di jalan raya di perkotaan. Hakikat manusia yang sebenarnya adalah manusia pejalan kaki, karena itu kota-kota harus menyediakan fasilitas yang mumpuni bagi pejalan kaki, termasuk pejalan kaki tuna netra. Kota yang baik menyediakan fasilitas bagi pejalan kaki karena para pengelola kota menyadari dan memahami dengan sungguh-sungguh keberadaan tuna netra pejalan kaki yang tidak harus didampingi orang lain. Dengan menyediakan fasilitas yang memadai bagi tuna netra pejalan kaki, pengelola kota memahami dan mendukung kemandirian para tuna netra pejalan kaki. Continue reading “Pedestrian di perkotaan untuk siapa?”

Merapikan Monas, Meramaikan Lenggang Jakarta


DSC_0458Ada yang istimewa di Monas hari-hari belakangan ini. Setelah selama sebulan, baru kemarin sore saya berkesempatan jalan sore di Monas.  Sampai beberapa bulan lalu, setiap hari di Monas selalu diramaikan oleh pedagang asongan. Ada berbagai macam dijual oleh pedagang, ada air minum,  air kelapa muda, teh kemasan, kopi instan, mi instan dengan air panas, souvenir berupa kaos atau pernik-pernik, kerak telor, bakso,  soto, lontong, mi goreng, nasi goreng, ketan bakar, layang-layang, kaca mata, arloji, mainan anak, dan bermacam-macam dagangan lainnya. Selain itu ada juga rental sepeda, rental sepeda listrik, dan dilengkapi dengan jasa “patung manusia” yang bisa diajak berfoto. Sudah tentu ada photographer keliling yang siap mengabadikan suasana pengunjung di Monas. Dan satu lagi, ada pemberi jasa pijat refleksi, body massage dan terapi bekam. Pokoknya ramailah seluruh kawasan Monas dengan kehadiran para pencari rejeki. Tetapi kemarin sore, semua pedagang itu tak ada lagi di dalam Taman Monas. Inilah yang saya sebut ada yang istimewa di Monas, tidak ada pedagang asongan yang berkeliaran di Monas. Luar biasa. Continue reading “Merapikan Monas, Meramaikan Lenggang Jakarta”